Dragon Warrior

Dragon Warrior
Bab 71. Monyet Ngeselin


__ADS_3

Da Min keluar dengan kewaspadaan tingkat tinggi jangan sampai ketahuan.


Feng Ni yang sedang menunggu tidak jauh dari mercusuar pun membawa Da Min melalui tempat aman bersama dirinya.


"Ikuti saya," ucapnya melihat kiri kanan tetap masih kosong prajurit.


Mereka lari sangat kencang, hingga Feng Ni berhasil membawanya aman tanpa ketahuan.


Huffff....


Hembusan nafas mereka juga lega telah berhasil dari pengawasan prajurit, sampai tempat bagian istana yang hanya dikunjungi Feng Ni seorang saat ini.


"Abang tidak apa, jika ini dijadikan markas?" tanya Feng Ni menunjukkan terowongan rahasia di balik lemari buku perpustakaan istana.


"Tidak apa," melihat tempat yang dikatakan markas jauh lebih baik dari pada tinggal di mercusuar.


Di sana sudah disiapkan lengkap segala keperluan, termasuk selimut tebal dan kasur lipat.


"Abang bisa keluar masuk lebih tenang," ngajarin cara keluar masuk terowongan rahasia,dan beri jadwal kapan akan ada orang yang masuk.


"Siap."


Feng Ni pun keluar untuk ambil buku filsafat agar tidak dicurigai saat ketahuan prajurit.


Tujuan Da Min yang dikeluarkan dari mercusuar, langsung dia investigasi cari semua barang bukti sesuai petunjuk dari Feng Ni.


Sementara ditempat lain, agen kembar seperti yang diramalkan oleh ratu bidadari sebelumnya, sedang mengalami kemalangan besar.


Tanpa sengaja mereka masuk jebakan yang dibuat amat tersusun rapi oleh pemberontak. Di sana, tangan kaki mereka dirantai besi.


Untuk mengetahui informasi apa saja yang sudah mereka dapatkan, orang suruhan pemberontak menyiksa mereka dengan besi panas.


"Cepat katakan!!" bentak orang berewok, bawa besi panas yang siap nempel pada kulit wajah agen kembar.


"Tidak !! Sampai mati pun kami tidak akan kasih tau!" ujar kembar kurus,nahan rasa sakit disentuh besi panas.


"Besar juga nyali kalian," pria bewok panaskan kembali besi yang kurang panas.


Hahaha......


Tawa ramai menyemangati pria bewok untuk sakiti tahanan mereka.


Seorang pria bercodet tidak lama datang, membawa bambu bersusun rapi dalam ukuran buku.


"Minggir!!" ujar pria codet ngusir teman-temannya yang tertawa bahagia.


"Wah.... Algojo sudah datang," sambut pria bewok, memberi jalan untuk hakimi tahanan.


Pria codet yang dikenal sebagai algojo itu keluarkan alat penyiksaan berupa bambu.


Tangan-tangan kembar yang masih diikat rantai besi di atas kepala itu dimasukan dalam ruas susunan bambu penyiksaan.


Arrrgggggg......


Jerit kembar sedikit gemuk, tangannya dijepit kuat ruas bambu antara ruas jari-jarinya.


"Cepat katakan, kalau tidak ingin sakit," saran pria bewok melipat tangan lihat tontonan.


"Jangan!" pekik kembar kurus.

__ADS_1


Pria bercodet noleh kesamping. Terlihat wajah yang berani untuk melawan semua keinginan mereka.


Bambu penyiksaan itu lepas dan tinggalkan jejak pada jari kembar sedikit gemuk.


"Oh.... Sekarang giliran saudaranya," ucap pria lain yang senang lihat penyiksaan.


"Iya. Pasti akan segera buka mulut," sahut pria disamping.


"Tutup mulut kalian! Cukup lihat cara algojo bertindak," celetuk ketus pria bewok.


Bambu itu sekarang beralih tempat, barang siapa pun yang terima siksaan begitu tidak akan sanggup bertahan untuk tutup rahasia.


"Lebih baik katakan sebelum alat ini menyiksa kau!" ucap dingin ketus pria bercodet, siap narik tali yang mengaitkan bambu-bambu.


"Sekali tidak, tetap TIDAK !" kembar kurus kekeh menjaga semua rahasia.


"Kita lihat saja," pria bercodet menatap tajam dan kejam.


Siksaan dimulai, jeritan demi jeritan melengking penuhi ruang penyiksaan.


Arrrgggggg.......


Jika satu kembar tersakiti, maka kembar lain akan ada untuk beri semangat bertahan.


Sesuai motto tugas, mereka tetap akan simpan rahasia walau harus dibayar nyawa sekalipun.


Siksaan demi siksaan terus bertubi-tubi, sekujur tubuh sudah dipenuhi luka. Baik luka alat penyiksaan, cambukan dan juga besi panas mereka sudah rasakan semua.


Sekuat apapun itu, tetap saja ada batas ambang bertahan.


Tubuh mereka lelah terima hukuman,dan sebab oleh itu mereka pingsan berbalut perih sekujur tubuh.


Tubuh yang penuh luka dan tersayat itu, mereka lumurin garam kasar.


Biar tidak ada jeritan, tapi respon mimik wajah kembar begitu kesakitan tersiksa.


"Cukup kuat juga mereka bertahan," ucap pria lain.


"Benar. Kalau yang biasa kita siksa, bakal sudah mampus," sahut temannya membawa gentong kosong untuk tampung air seni kuda.


"Karena mereka enggak mau ngaku, terpaksa kita harus ambil seni kuda."


"Ya, mana tau setelah ini ngaku," meletakkan gentong di bawah kuda.


Kencing kuda tidak sebanyak yang mereka harapkan, tapi cukup untuk orang yang perintahkan mereka.


"Ini yang tadi diminta," menyerahkan gentong isi seni kuda.


"Siramkan ke mereka biar luka terasa terus," titah pria bewok.


Isi gentong disiramkan dari bagian kepala yang penuh taburan garam kasar.


"Jaga mereka! Jika sadar, cepat siram mereka dengan ini," hardik pria codet, menyerahkan guci isi cuka.


"Siap."


Pria codet dan bewok keluar tinggalkan tahanan bersama temannya yang berjaga.


Sementara teman kelompoknya berjaga, 2 orang tadi pergi beri laporan pada suruhan mereka.

__ADS_1


Sebagai orang bayaran, mereka juga wajib melapor setiap ada hal berkaitan.


Dengan kuda yang berlari, mereka sampai ditempat bos untuk laporan.


"Tuan,2 orang itu bersih teguh bungkam " lapor pria codet.


"Siksa mereka sampai dapat apa yang saya mau!" hardik penyuruh memakai caping dan tertutup cadar hitam.


"Baik."


"Jika tetap bungkam,lebih baik lenyapkan" titah tegas, tinggalkan tempat ketemuan.


Paham tentu maksud bos mereka.Baik kasih info atau tidak, tugas akhir mereka harus diselesaikan tanpa jejak.


3 hari sudah agen kembar disiksa tanpa dapat makan atau minum.


Tubuh yang ringkih dan bau menyengat sudah pasti tidak akan bertahan hidup lagi lebih dari 3 hari kedepannya.


"Dari pada buang energi, lebih baik kita buang mereka ke jurang saja," saran seorang pria pada pria bewok yang marah dan banting besi panas.


"Baik. Lagian mereka juga tidak akan ada gunanya hidup." pria bewok setuju dengan saran temannya.


Agen kembar dibungkus dengan karung,lalu dibawa pergi dengan kuda.


Sampai diujung jurang terjal penuh bebatuan tajam di bawah, tubuh agen kembar dilempar jatuh bagai buang sampah.


Hahaha.....


"Begini nasib kalau tidak mau kasih tau," seringai tawa pria yang lempar tubuh kembar kurus terbungkus karung.


"Yuk kembali sebelum ada yang lihat," ajak seorang, menepuk telapak tangan.


"Ayo..." rangkul pundak teman.


Sudah dapat dipastikan nasib agen kembar yang dibuang dari ketinggian dengan banyak batu tajam di bawah. Belum lagi tubuh yang terbungkus karung, sekujur tubuh terluka, lidah juga diiris, tangan dan kaki dipatahkan.


**


Ditempat berdekatan dasar jurang, seorang penebang kayu yang mencari batang kayu kering untuk dibawa pulang tengah bertemu serumpun monyet hutan yang terus menganggu.


Tiap belahan kayu yang disusun rapi akan diambil dan dibuang monyet-monyet nakal.


"Kalian jika tidak merusuh, apa tidak senang?" keluh penebang kayu, harus kembali memunggut kayu terbelah.


Kukkkukk....Kakkaaa.....


Sahut monyet bergelantungan dengan satu tangan.


Ada-ada saja tingkah ngeselin serumpun monyet.


"Tolonglah kalian jangan ganggu lagi. Jika terus ganggu orang-orang di rumahku bakal khawatir," penebang pohon menangkup tangan memohon.


Kukkkukk....Kakkaaa.....


Monyet-monyet itu makin ngerjain penebang kayu.


Belahan kayu yang siap dibawa pulang, mereka bawa kabur melompati pepohonan tinggi menjulang ke atas.


"Ya sudahlah. Mungkin aku pilih tempat lain tanpa mereka" penebang kayu ikhlas mengambil sisa belahan kayu.

__ADS_1


**


__ADS_2