Dragon Warrior

Dragon Warrior
Istana


__ADS_3

Penjaga mengikuti pejabat tua mengantar keluar tamu kediaman itu. Sementara dalam waktu yang sama, Feng Ni memilih untuk ngikutin gadis kecil tadi.


Tidak susah ada didekat sekitar gadis itu dengan penyamaran sebagai penjaga.


"Sekarang giliran kamu!" ucap seorang pejaga bergiliran jaga begitu Feng Ni datang.


"Baik," jawab Feng Ni bersuara berat laki-laki.


Waktu dan tempat yang cocok. Feng Ni dengan hati-hati coba untuk lebih dekat dengan si gadis yang ditemani beberapa pelayan wanita.


"Kak, tolong gerus tinta kuas!" pinta si gadis yang membentangkan kertas putih di atas meja.


Pelayan pun mengambil tinta dalam bentuk batangan, lalu mengerus dalam wadah yang diberi beberapa tetes air biar cair.


"Silahkan, Nona," ucap pelayan meletakkan wadah tinta di samping kertas putih yang membentang panjang.


"Aku akan melukis wajah salah satu dari kalian," ucap si gadis, memilih kuas dalam gantungan yang cocok untuk melukis.


Tegang tentunya para pelayan ingin dijadikan objek lukisan. Jika ketahuan oleh majikan mereka,nyawa mereka bakal terancam punah.


Sikap mereka yang tegang,kian buat si gadis tersenyum lucu.


"Kenapa pada tegang? Apa takut hasil lukisan jauh beda," ucapnya tanpa memandang, hanya memoles ujung kuas dalam wadah tinta.


"Tidak." jawab mereka serentak.


Setelah tau wajah siapa yang ingin dilukis, gadis kecil pun keluar ruang belajar mencari objek lain.


Langkahnya yang cepat menemukan objek, terhenti di sekat pembatas pintu depan dan ruang selanjutnya.


"Belum pulang," sesalnya sedih tidak bisa manggil kakek untuk dijadikan objek.


"Ohh... Ternyata dia ingin melukis pejabat itu," gumam Feng Ni dari kejauhan ngikutin sebagai penjaga.


Ini mungkin kesempatan baik untuk lebih dekat dan mencari titik kelemahan pejabat pemilik rumah.


"Nona, lebih baik anda kembali saja," ucap Feng Ni menasehati.


"Tidak mau. Aku sudah tidak niat melukis," jawab juteknya menendang lantai dengan ujung sepatu.


"Jika membaca?" Feng Ni ngusulkan kegiatan lain.


"Mau ke halaman belakang saja," jawab gadis berlanjut jalan.


Feng Ni ngikutin dimana langkah kaki gadis itu menapak. Setiap berpas-pasan dengan penjaga lain, maka mukanya semakin ditunduk merendah.


Sampai juga tujuan gadis yang tidak terikut pelayannya.


Di bawah pohon rindang yang besar, tampak 2 buah ayunan gantung di cabang yang terpisah jarak.


"Nona, tidak baik malam-malam berayun-ayun." Feng Ni mendekat secara konsidulatif dan nasehat wajar.


"Tidak apa. Paling kakek hanya ngomel," jawab gadis mulai berayun pelan dan kaki masih menapak tanah.

__ADS_1


"Tapi bagaimana pun juga, beliau kakek anda." Feng Ni mulai mengorek informasi selingan.


"Uhh....Kakek itu sebenarnya ngeselin," gerutunya halus terayun mulai tinggi.


"Apa maksud dia?" Feng Ni bertanya dalam batin.


"Kakek yang menyebabkan ibu dan ayah meninggal," lanjut si gadis ngomong samar-samar terayun dan tertiup angin sepoi-sepoi. "Jika kakek tidak letakkan bom di jalur yang ayah lewati bersama ibu, pasti saat ini aku tinggal bersama mereka," merindukan sosok orang tua dalam kenangan masa lalu 6 tahun silam.


Anak umur 6 tahun pasti punya kenangan sendiri yang disimpan dalam hati.


Walau tidak ikut menyaksikan langsung kejadian naas tersebut, tapi ia sempat mendengar penyebab kejadian naas itu saat sedang bermain petak umpet.


Bayangkan jika memori seorang anak diisi dengan kenangan yang tidak mengenakkan, dan belum bisa memilah baik perkataan orang.


Kenangan sedih dan rindu yang disalin dan disimpan dalam ingatan untuk selamanya.


Feng Ni diam berdiri menyimak luapan kesedihan gadis kecil menceritakan masa lalunya yang berantakan tidak tersusun rapi.


"Ada juga orang tua yang ingin melenyapkan anak sendiri," ujar batin Feng Ni, tidak menyangka ada kejahatan terbesar dari pada korupsi dan perang.


"Nona harus sabar. Tuan sepertinya juga menyayangi anda," Feng Ni menasehati sebagai orang tidak berada diantara kedua belah kubu.


"Kau siapa?" tanya gadis kecil tersadar telah menyerukan kesedihan pada seorang penjaga.


"Aku? Aku penjaga yang melindungi anda," jawab Feng Ni kaku.


"Bukan! Kau bukan penjaga di sini!. Apa kau malaikat yang dikirim ayah ibu?" gadis kecil mencoba memandang wajah yang nunduk dan coba melawan dilihat.


"Sebaiknya saya harus buat dia pingsan dan kabur," ucap batin Feng Ni menyiapkan kondisi tepat untuk buat cucu pemilik rumah pingsan.


Tangan Feng Ni berhasil memukul tengkuk gadis yang maksa melihat wajahnya.


"Sekarang tidur." Feng Ni memapah tubuh gadis ke tempat yang tidak mencurigakan kedatangan dia.


Lalu ia pergi melewati pohon dan tembok pengeliling kediaman mewah.


Baru lompat turun dari tembok pembatas, kedatangan dia sudah membuat heboh seisi kediaman.


Semua penjaga mencari orang yang berhasil menyusup tanpa mereka sadari.


Bersenjata tajam, mereka semua berkeliling memeriksa area kediaman sampai di luar kediaman.


Tubuh cucu majikan yang mereka temukan secepatnya dibawa masuk untuk dapat pengamanan ketat.


"Kalian pastikan penyusup itu ketangkap, hidup atau mati!" hardik pejabat tua pemilik rumah.


"Siap Tuan." semua pasukan tambahan berpencar mencari sampai keradius 2 km dari rumah majikan.


Bagai terkepung semua arah.Pergerakan Feng Ni tidak leluasa lagi. Akan sangat mudah dikenali wajahnya yang bukan bagian rakyat kampung gembel ini.


"Sebaiknya jadi saudagar atau pelajar?" tanyanya membatin masih bersembunyi diantara pohon yang menjulang tinggi.


Sekelibat cahaya timbul dari balik pakaian prajurit yang masih melekat di tubuhnya.

__ADS_1


"Apa ini?" menaikkan lengan pakaian pergelangan tangannya.


Tidak percaya bahwa sisik emas yang tadi, berpijar terang memancing penjaga yang mencari dirinya.


"Bisa ketahuan," langsung menurunkan lengan pakaian.


Feng Ni dibuat kalang kabut dengan kondisinya yang si buah malakama.


Seketika juga Feng Ni merasakan rasa panas sekujur tubuh, dan rasa sakit di antara tulang pelikat dan tulang ekor.


Ingin menjerit juga harus ditahan, walau sakit yang mengiris tulang itu menyiksa sampai ke ubun-ubun.


Giginya bergertakkan, 2 taring mulai keluar di bagian atas.


Sesuatu juga keluar dari tulang ekor dan mengoyak celana terpakai.


Begitu juga bagian tulang pelikat yang jauh lebih sakit tersiksa.


Sepasang sayap dan ekor panjang, merubah penyamaran Feng Ni jauh dari sosok yang diinginkan.


"Ini!!" Feng Ni kaget dengan wujud aneh lebih mendekati kaum iblis dan monster.


Wujud seekor naga berwajah manusia benar-benar mengagetkan Feng Ni.


Tapi waktu tidak membiarkan dirinya untuk banyak pertanyaan dalam keadaan darurat.


Sepasang sayap membawa tubuh Feng Ni terbang tinggi biarpun oleng karena belum tersinkronisasi.


Kampung gembel telah ia tinggalkan dengan sebuah bukti tidak lengkap. Sekali kepakan sayap yang kokoh itu membawa dirinya menjauh sekitar 40 meter.


Beberapa puluh kali kepakan sayap, dia telah melintasi 2 kampung yang dia tidak tau cerita dibalik lintas kampung itu.


"Ya sudahlah. Lagian tidak mungkin menampakkan wujud ini," gumam Feng Ni melanjutkan penerbangan di malam gelap sunyi hening.


Sadar dirinya kayak pasukan iblis, Feng Ni tidak akan menampakkan wujud sebelum kembali ke wujud semula.


Beberapa kepakan sayap yang cepat,akan buat dirinya tiba di istana sendiri.


Namun ia masih berpikir, bagian mana dalam istana yang bisa dijadikan tempat persembunyian hingga kembali semula, tanpa membuat kehebohan sekecil apapun ceritanya.


Sampai juga kepakan sayap membawa Feng Ni kembali ke rumah sendiri.


Rumah yang banyak problematika dan segala cerita yang tertutup rapat bagi dirinya yang hanya sekedar Putri kerajaan.


Dia masih terbang di atas ketinggian istana, bahkan lebih tinggi dari tiang bendera yang tertancap di ujung bangunan istana yang paling tinggi.


"Lebih baik saya bersembunyi di mercusuar," ucap Feng Ni, teringat di ujung bangunan istana yang tertinggi jarang sekali ada orang yang berjaga dan lewat.


Sayap pun mengepak kencang dengan sekali kepakan menuju bangunan tertinggi.


Wuzzz.....


Angin kepakan menambah dingin dan kemerindingan prajurit berjaga.

__ADS_1


Beerrrr.....


__ADS_2