
Cukup tercengang raja Xiao Se Mang dengar jawaban 2 putri kecilnya.
Tidak menyangka 2 putrinya itu juga tertular cara pikir ibu mereka masing-masing.
Bergelud hati raja Semangi, antara pro dan kontra. Tapi ia tau siapa yang berkata tulus atau bersilat lidah.
Raja pun memutuskan memberi hukuman adil untuk 3 putrinya yang tersisa.
"Kalian masing-masing menyalin buku yang akan Kasim Do bawa ke kamar kalian." raja beranjak berdiri pergi.
"Tapi ini bukan salah mereka Yang Mulia," selir Qi bersujud tidak terima putrinya dikenakan hukuman.
Raja Semangi menghempas jubah kerajaan yang dijadikan bahan tarik menarik 2 selir.
"Sudahlah. Terima saja jika itu pantas," ujar duplikat beranjak berdiri dari sujudnya.
"Kurang ajar!!!" umpat selir Xu bergertakkan gigi.
Jika ratu Semangi tidak menemani rival yang ingin mereka singkirkan, mungkin saat ini 2 selir yang melirik dengan ketajaman sudah menjambak Feng Ni.
Ctakkk.....
Ratu bidadari menjentikkan jari karena mendapat signal buruk dari orang yang ada di belakang.
Waktu berhenti sejenak untuk mengurus 2 wanita yang perlu ikut dicuci cara pola pikir mereka terhadap Feng Ni.
"Kalian ini wanita picik, munafik pula." ratu bidadari memerotkan mulut 2 wanita itu.
Usai dimerotkan mulut mereka, ratu bidadari berlalu pergi biarkan kembali waktu kembali berputar.
Waktu berputar lagi, 2 wanita itu bergerak dengan keadaan mulut merot seperti kena stroke.
Emmmm.....Uughhh.....
Keduanya sulit berkomunikasi normal dengan mulut merot.
"Ibu!! Ibu kenapa?" 2 putri lain panik dengan muka ibu mereka.
Emmmm.....Uughhh.....
Mereka menunjuk mulut yang kaku tidak bisa digerakkan.
Putri-putri mereka panik harus berbuat apa demi menolong ibu mereka.
Prajurit dan dayang mereka panggil untuk segera bantu mereka cari penolong yang tepat dengan kondisi.
Dayang bergegas berlari mencari tabib istana untuk mengobati 2 selir yang mulut merot kaku.
Tidak sampai di mulut saja. Perlahan tangan kanan juga kram kaku menuju proses stroke, akibat pikiran mereka memikirkan hal buruk mencelakai orang lain.
Emmmm....
Ringkik 2 selir, pita suara mereka tercekik kaku. Rasa kaku yang menjalar bagian tubuh kiri atas sampai bawah.
"Ibu kenapa?" putri selir Qi panik dengan ibunya yang berdiri terhuyung menubruk tubuhnya.
__ADS_1
"Ibu." putri selir Xu juga mendapati hal sama.
Sementara di tempat lain dimana Kim Long sedang menstabilkan energi Feng Ni. Dia menemukan cara agar pendekarnya bisa mengontrol secara otomatis setiap energi yang gampang diserap tubuh Feng Ni.
Yaitu menyiapkan sebuah benda diagram 8 sisi. Di sana Feng Ni bisa menentukan energi yang cocok dipakai saat tertentu, tapi setelah energi negatif itu juga telah dirakit menjadi bisa dipergunakan secara baik.
Kim Long membantu netralkan semua aura negatif yang timbul tenggelam dalam diri Feng Ni setiap ada pancingan sebuah kondisi kelam.
Diagram 8 sisi sudah siap diisi dengan semua aura baik positif (Yang) maupun negatif (Yin), yang setiap aura memunculkan warna sesuai asal aura itu muncul.
Setelah semua aura terkumpul dalam diagram 8 sisi yang dikenal dengan pakua, benda itu menyatu dengan ilmu kebatinan Feng Ni untuk diajarkan setelah siuman.
Beberapa jam setelah diagram pakua menyatu dalam diri Feng Ni, tubuh yang tadi beristirahat tenang dalam keadaan pingsan, terbangun dalam suasana ringan segar.
"Kim Long," sapanya bangun segar bugar.
"Kamu meditasi selama 49 hari untuk ilmu baru, yang baru menyatu," sahut ketus Kim Long kesal terhadap pendekarnya yang mudah menyerap kekuatan iblis.
"Ilmu baru?" terlihat bingung dengan maksud naga suci.
"Cepat ! Waktu kita tidak bisa lebih lama," hardik Kim Long, membuka gerbang dimensi lain tempat latihan.
"Tapi, Ayah Ibu saya akan khawatir," cemasnya takut keberadaan dia menguntungkan orang berniat jahat.
"Tidak usah banyak pikir. Sudah ada yang tangani kekhawatiran kamu," mendorong masuk Feng Ni dengan ekornya ke dalam ruang dimensi latihan.
Aaaaa.....
Jeritnya tanpa persiapan dilempar masuk.
"Selagi dia meditasi,aku juga harus meningkatkan kemampuan baru yang dia miliki sekarang." Kim Long juga ikut masuk ruang dimensi.
Ruang dimensi yang penuh warna-warni memancar,buat Feng Ni terkagum-kagum senang damai.
Ia pun langsung melaksanakan perintah naga emas untuk bermeditasi dalam tekanan gravitasi nol, yang buat dia ngambang kiri kanan atas bawah.
"Setelah kamu bisa menekan gravitasi di sini, tandanya masa meditasi sudah selesai " ucap Kim Long melingkar di bawah permukaan dimensi, biarkan Feng Ni mengatasi masalah segampang itu.
Di alam manusia, beberapa masalah kecil sedang ditangani duplikat Feng Ni.
Penyakit yang diderita ratu Semangi diobati secara spiritual tanpa diketahui pasien.
1 minggu berlalu....
Tubuh ratu setiap hari kian membaik biarpun masih ada luka kehilangan putra-putranya dengan penyakit yang tiba-tiba menyerang.
"Putriku, kamu yakin tidak ingin tinggalkan istana yang penuh ancaman bahaya?" tanya ratu berjalan sekitar danau menyambut musim dingin di minggu pertama turun.
"Saya yakin, Bu. Karena saya kembali untuk melakukan tugas yang seharusnya," sahut duplikat, menuntun tangan ratu untuk duduk beristirahat di kursi baru pinggiran danau buatan.
"Tapi ini sangat bahaya. Abang-abangmu juga telah menjadi korban ketamakan," menasehati semampu mungkin.
"Ibu tenang saja. Setelah waktunya cukup dan datang, matahari akan kembali bersinar terang serta hangat," menepuk punggung tangan ratu untuk tetap percaya dan kuat hadapi masalah yang bisa muncul kapan, dimana, oleh siapapun juga.
Ratu Semangi mengusap air mata yang mengalir keluar halus dari ujung ekor matanya.
__ADS_1
Perasaan yang dirasakan juga bercampur aduk tidak tau bagaimana mengutarakan semua isi hatinya terdalam.
"Tenang saja. Saya akan baik-baik saja selama doa terbaik Ibu bersama saya," ucap duplikat, membaca kegalauan isi hati orang yang dipegang telapak tangannya.
Seakan dihipnotis, hati Ratu Semangi menjadi lebih tenang berpikir lebih baik.
Sore harinya, saat 2 selir usai jalani pengobatan tabib, duplikat Feng Ni seperti biasanya akan rutin memeriksakan keadaan itu jangan mudah diobati tabib sehebat apapun itu.
"Maaf, kalian tidak boleh cepat sembuh sebelum benar-benar taubat," ucap batin ratu bidadari, kembali menyumbat aliran darah yang sudah diperbaiki tabib untuk mempermudah obat mengalir masuk perbaiki jaringan yang rusak.
Emmmmm....
Biar tidak bisa bicara normal, mereka tetap menatap benci pada wujud Feng Ni yang datang menjenguk.
"Semoga pengobatan ini cepat ada hasilnya," ucap duplikat dengan maksud beda.
"Kurang ajar dia! Dia hanya ingin menghina aku," umpat marah batin selir Qi dengan tatapan kesal benci.
"Jangan marah lagi. Itu hanya menambah penderitaan," sahut duplikat mengelap air ngences mulut selir Qi. "Akan lebih baik berpikir baik, koreksi kesalahan yang sudah dilakukan," menasehati menyuapi minum 2 wanita stroke itu.
"Sial! Dia perlakuan aku seperti orang cacat!" umpat marah batin selir Xu, gigi bergertakkan menolak suapan air dari duplikat Feng Ni.
"Harap hargai niat baik saya yang ingin melayani anda sekalian," menyuapi kembali biarpun dapat tolakkan mulut mengunci rapat. "Bukankah saya lebih berbakti dari pada putri anda, yang tidak pernah menjenguk semenjak anda sakit" mengusap air yang mengalir.
Bagai ditusuk sembiluh, perasaan kedua selir semakin sakit akan kebenaran yang ada.
Benar yang keluar dari mulut duplikat akan kenyataan bahwa putri kesayangan mereka tidak pernah menjenguk atau sekedar tanya kabar.
"Dasar anak kurang ajar ! Karena dia, aku jadi bahan ejekan," umpat keluh jengkel batin selir Xu.
"Awas jika aku sembuh! Dia akan aku beri pelajaran!" tambah maki batin selir Qi, memalingkan lirikan mata.
"Sabar. Masih ada saya yang bisa kalian harapkan," membaca jelas keluh caci maki, umpatan 2 wanita stroke.
Lirikan mata selir Xu dan selir Qi begitu tajam untuk mengusir pergi orang yang setiap hari datang untuk mengolok-olok keadaan mereka bukan tambah baik.
"Baiklah, saya akan pergi minta dayang dapur istana memasak menu sehat bergizi," duplikat beranjak berdiri, memanggil dayang untuk menggantikan pakaian basah 2 selir itu.
Duplikat keluar dan 4 dayang masuk untuk menggantikan pakaian yang basah kotor.
Saat makan bersama tiba, putri 2 selir itu semakin pintar cari muka.
Mereka memasang wajah kasihan dengan nasib ibu mereka. Mereka juga berpura-pura tidak selera makan, untuk dapat perhatian lebih dari ayah kandung mereka.
"Sudahlah. Kalian harus makan, biar ibu kalian tidak cemas juga dengan kalian. Masalah ibu kalian, kakak kalian ini terus mengundang terbaik di seluruh negeri," ujar raja Xiao Se Mang lirih dengan wajah putrinya yang masih kekanak-kanakan.
"Benar kata Ayah. Kalian tetap harus sehat agar Ibu Qi dan Ibu Xu punya keinginan sembuh lebih baik," tambah duplikat, meminta dayang layani anak selir Qi dan selir Xu.
"Ihh... Dia kok makin pintar bersilat lidah," keluh batin putri selir Qi, dengan ekor mata melirik sinis.
"Emmm.... Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya " sahut duplikat mendengar keluhan salah seorang 2 gadis picik munafik.
Makan malam yang boring sama untuk 2 putri selir, tapi mulai beda dirasakan ratu dan raja. Mereka bisa merasakan kehadiran para pangeran dan putri yang sudah wafat, hadir menemani kursi dan meja yang kosong terbiasa diisi keramaian anggota keluarga.
**
__ADS_1