
Nasib apes yang sering ditemui penabang kayu setiap kali berpas-pasan dengan rombongan monyet hutan, harus menjadikan dia pergi cari kayu lebih jauh.
Sampai juga dia sekitaran dasar jurang yang terjal. Mesti tidak ada kayu sebanyak tempat sebelumnya, tapi dia bisa memunguti ranting dan mencari beberapa buah liar untuk dibawa pulang.
"Dasar monyet! Kalau tidak ngerjain aku berasa tidak nyata hidup mereka" umpat geli penebang kayu, sambil metik buah kesemek dalam gua.
Penebang kayu kembali keluar gua mencari ranting sedapat mungkin.
Berbekal kapak, dia mengais timbunan salju menutupi tanah. Tidak jauh dari tempat itu, dia menemukan salju berwarna merah muda.
"Aneh! Sejak kapan langit memberi warna pada hujan salju?" tanyanya polos ikuti jejak salju yang kian pekat warna merahnya.
Dia berhenti pada 1 titik, dimana asal warna merah tersebut berasal. Lihat karung berlumuran darah, antara mati ketakutan dan penasaran berat, coba dia beranikan diri untuk lihat isi karung tersebut.
Kapak yang dipegang juga siap melayang jika sesuatu benda berbahaya yang keluar dari dalam karung menyerang.
Salah 1 ikatan pocong karung dibacok dengan kapak. Begitu terbuka ada benda hitam penuh darah mengalir.
"Mayat!!" teriaknya membatin, percuma keluar suara pada tempat dasar jurang tak berpenghuni.
1 karung lagi dibuka, dan mayat kembar serupa dia lihat.
Wajah kembar yang pucat membiru kehabisan darah itu diperiksa sisa kehidupan yang mungkin tertinggal.
Jari telunjuk gemetar untuk merasakan denyutan nafas di tenggorokan mayat kembar.
"Moga-moga masih setengah hidup," tidak yakin keadaan orang luka parah masih bisa ditolong.
Mungkin sebuah mukjizat bagi agen kembar, biarpun akan jadi mayat setidaknya akan ada orang yang mengubur mayat mereka.
Di sisi bagian istana, batin Feng Ni semakin menggeram marah. Jika tidak ada 3 siluman binatang berbisa, mungkin sekarang dia hanya tinggal nama belaka.
"Mereka begitu ingin melenyapkan saya," gerutu Feng Ni di depan Kasim Kim yang bantu bawa obat penawar racun.
"Tuan Putri sebaiknya jangan terima lagi undangan 2 putri," saran Kasim Kim ikut jengkel marah.
"Niat saya ingin begitu, tapi demi mendapatkan sesuatu bukankah kita harus berkorban," meraih pil penawar racun.
"Silahkan minum," menyodorkan cawan air.
"Apa ada perkembangan informasi akan Kasim Do?" mulai merasa baik, Feng Ni tanyakan hal penting.
"Belum. Sepertinya dia sudah hapus semua jejak," geleng kepala tidak ada kemajuan dalam kasus pencarian.
"Terlalu banyak tikus berkeliaran bebas mencuri lumbung makanan," keluh Feng Ni dengan perumpamaan.
"Akan lebih baik membakar sarangnya langsung," sahut Kasim Kim, menuangkan air lagi.
__ADS_1
"Benar. Tapi tetap saja kita harus pancing 1 tikus dulu untuk bawa kita ke sarang," ambil kuas dan kertas.
"Mereka sungguh pintar mengelabui orang," ujar Kasim Kim berhela nafas capek.
"Beberapa hari lagi saya ingin keluar istana tinjau keadaan para rakyat. Harap keberangkatan saya jangan ada musuh yang tau," berpesan sebelum pergi tiba-tiba.
"Hamba akan ikut temani Tuan Putri."
"Tidak perlu, saya akan minta bantuan saudara seperguruan saya saja. Selain itu,saya ingin minta mereka turut andil basmi akar kejahatan," menulis kata di atas kertas putih.
"Tuan Putri sungguh lihai. Bisa teringat minta pertolongan pada para pendekar itu," pujinya ngacungkan jempol, dan ketus batang tinta kertas kering.
Feng Ni tersenyum malu dikira memanfaatkan kemampuan orang lain demi tujuannya.
Padahal tidak sepenuhnya benar. Selain minta pertolongan, dia juga ingin keluarkan 2 orang tersisa di mercusuar untuk hirup udara bebas.
Beberapa hari kemudian.....
Tampak wajah Ling Ni gembira tak terjelaskan kata-kata.
"Kita akan keluar dengan manjat tembok pembatas saja," usul Feng Ni ganti pakaian lebih simpel biar bebas bergerak.
"Boleh.Lewat lubang tikus juga aku mau," oceh Ling Ni bantu nyimpan perhiasan serta baju mewah Feng Ni.
"Jangan dengarkan dia. Dia berkata seperti itu karena teman gaduhnya telah kamu bebaskan duluan," ujar Fun Cin mengemas persenjataan mereka.
Feng Ni memimpin jalan keluar, disusul Ling Ni dan Fun Cin yang tetap mengutamakan kewaspadaan.
Mereka melompat tinggi lewati tembok cukup tinggi,dengan bantuan tangan Fun Cin melempar mereka cukup beri tekanan untuk melayang di udara.
"Sekarang Abang bagaimana?" tanya Ling Ni bingung, tidak ada yang bantu abang seperguruan untuk melompat.
"Tenang dan lihat saja," sahut Feng Ni, yakin Fun Cin bisa lewati tembok pembatas.
Selang beberapa menit, Fun Cin berhasil lewati tembok pembatas istana dengan dunia luar.
3 orang itu pun cepat pergi sebelum ketahuan prajurit yang berdiri ngawasin dari sisi bagian lain tembok pembatas.
Lewati pohon dan semak sudah pasti mereka jalani.
Setelah aman dari pengawasan, mereka mulai berbaur dengan rakyat yang berlalu lalang dengan segala jenis kegiatan masing-masing.
Da Min yang dapat kabar rahasia untuk jemput 3 orang, juga sudah siapkan tempat aman untuk beberapa hari.
Bukan sebuah penginapan mewah atau kedai teh yang sewakan kamar, melainkan gubuk reyok dipinggir danau membeku yang baru ditinggal mati oleh pemilik gubuk.
"Silahkan masuk Putri," ucap Da Min formal.
__ADS_1
"Jangan terlalu mencolok bang. Panggil saja Ahok," jawabnya nyantai teringat nama yang pernah dipakai dalam penyamaran.
"Ahok?? Bukankah itu nama laki-laki ?" Ling Ni bingung.
"Tepat sekali. Bukankah Feng Ni terlihat seperti seorang laki-laki saat ini," sahut Fun Cin menunjukkan gaya pakaian yang dari tadi tidak disadari Ling Ni.
Ling Ni ngangguk iyakan, tapi tetap saja belum sepenuhnya mirip laki-laki asli.
"Sudahlah. Selama penyamaran tetap panggil nama Ahok saja. Dan Bang Fun Cin sebagai Apao," tambah Feng Ni terangkan keadaan.
Feng Ni mempersiapkan segala kemungkinan bila ada yang mengenal mereka, tapi tidak disambung 2 saudara yang belum tau jati samaran.
"Begitu ya," sahut Ling Ni mulai ngerti.
Untuk urusan pertama keluar istana,Feng Ni bersama Da Min menuju tempat yang sedang diselidiki diam-diam.
Samaran mereka sebagai penjual obat-obatan mempermudah mereka untuk ngawasin lebih dekat.
"Tuan, ayo beli 1 botol obat kami ini.Kwalitas nomer 1, bisa untuk obati segala penyakit luar." Feng Ni menawarkan produk jualannya.
"Nggak... Nggak.... Pergi kalian !!" penjaga yang jaga pintu mengusir kasar mereka.
"Tolonglah kami Tuan. Kami butuh uang untuk pulang kampung," rengek Da Min memohon.
"Sana pergi !!" ketus penjaga ngusir dan dorong mereka.
"Jika Tuan tidak butuh, mungkin Tuan dan Nyonya di dalam mau beli obat kami" Da Min memohon dengan promo obat.
"Kalian ini tuli, haa!" bentak penjaga mengulurkan pedang tajam.
"Bang, lebih baik kita pergi. Mungkin orang-orang ini belum tau kasiat obat kita," ucap Feng Ni tarik mundur siasat.
Begitu Feng Ni berbalik, dia tidak lupa untuk buat penjaga galak untuk memohon mereka tinggal.
Batu kerikil dibidik Feng Ni mengenai syaraf kecil penjaga tadi.
Penjaga itu merasa sakit bagian uluh hati, tubuhnya tidak kuat untuk berdiri tegak lagi.
Feng Ni berbalik noleh belakang, dia pun pura-pura menolong orang yang sudah sengaja disakiti.
"Bang, Tuan itu butuh pertolongan kita," ucap Feng Ni membalikkan tubuh Da Min.
"Biar saja.Orang sombong seperti dia pantas terima karma buruk," rutuk ketus Da Min bermuka jutek.
"Kita sebagai tabib, mana boleh pilih pasien.Baik kaya miskin, baik jahat, tetap saja kita harus menolong," mengedipkan mata untuk ikuti alur cerita.
"Baiklah. Ini karena kamu tabib yang baik, Hong." Da Min ngangguk paham.
__ADS_1
**