
Flash on...
Setelah mengingat kembali kenangan mereka sewaktu kecil, Ratu bidadari tersipu malu telah menyamarkan kenangan mereka.
"Tapi aku minta 1 dulu, sisa 2 nya lagi tunggu jika aku perlukan," ujar naga emas dalam wujud kecil.
"Baiklah Kim Long," sahut Ratu bidadari untuk menebus kelupaan.
"Jika begitu, aku boleh pinjam pusaka pulau bidadari?" pinta naga emas dengan tampang mengemaskan seperti seekor cacing.
"Mmm..." Ratu bidadari ragu untuk meminjamkan pusaka pulaunya, yang merupakan setengah jiwa murni darah anak manusia yang dilepaskan untuk menjadi dewi di surga.
Naga emas pun berjalan dekati untuk membujuk sang ratu yang tampak enggan meminjamkan pusaka tersebut.
"Ayolah teman. Setelah aku selesaikan misi ini, kita bisa bersama ke langit," bujuknya mondar-mandir jalan di atas pangkuan ratu bidadari.
So Po Ta yang jadi orang ketiga hanya duduk manis menikmati cawan teh di tangan.
"Bisa ya, bisa ya..." naga emas menaik turunkan alisnya untuk meluluhkan bongkahan es dalam hati ratu bidadari.
Bukan tidak ingin meminjamkan mestika pusaka pulau bidadari, melainkan takutnya perubahan iklim dan fisik bumi akan menimbulkan bencana lebih dahsyat dibandingkan leluhur naga yang membuat banjir.
"Gini saja. Jika kamu ragu aku pergunakan pusaka itu, kamu ikut kami saja." Naga emas memberikan usulan yang menguntungkan.
Dalam hati kecil So Po Ta tentu saja senang akan ada bala bantuan datang membantu mereka.
Jika sudah ada 3 pendekar berilmu tinggi, maka tidak memerlukan pasukan berjumlah ribuan untuk melawan musuh.
"Benar yang disarankan Kim Long, Yang Mulia bisa ikut serta dalam misi kami," ujar So Po Ta, meletakkan cawan tehnya membantu naga emas membujuk.
"Atau mungkin karena sudah lama bertapa, jadi ilmunya berkurang." Naga emas menyindir ratu bidadari yang ragu dalam ketenangan.
"Kamu ini...." Ratu bidadari menarik punggung naga emas yang kadang blak-blakan jika berbicara santai dengannya.
"Hehehehe.... Berarti setuju, ya kan?" Naga emas hanya bisa cengengesan, walau kulit naga dalam wujud kecil sakit tercubit karena lebih tipis dari wujud raksasa.
Keputusan sepihak dibuat naga emas yang akrobatik lepas dari cubitan Ratu bidadari.
Untuk selanjutnya, So Po Ta diminta pergi sendiri menyusul muridnya yang beberapa hari lagi akan tiba.
Sedangkan naga emas berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ratu bidadari menghindari untuk pinjamkan pusaka pulau bidadari bagi mereka.
Istana
__ADS_1
Wujud Avatar Feng Ni yang mengamuk itu mulai gempar, tidak hanya di dalam istana, bahkan rakyat negeri Semangi juga mengetahui hal tersebut.
Setiap matahari terbenam, tidak seorang rakyat yang berani keluar rumah jika tidak berkepentingan mendesak mereka keluar rumah.
Banyak ternak yang juga resah setiap malam tiba walau tidak seekor ternak jadi korban pembantaian.
Bayi dan balita juga gusar tidur setiap malam sejak penampakan wujud avatar Feng Ni muncul di negeri tersebut.
Owekkkk..... Owekkkk...
Bayi dan balita sudah beberapa hari tidak tidur nyenyak setiap malam, hingga fajar menyinari negeri itu dengan sinar terang menderang.
"Jika begini terus, pasti ada yang jadi korban tumbal," keluh seorang wanita pada suaminya yang sukar tidur dalam rewelan anak-anaknya.
"Ya sudah kalau mau tumbal ya tinggal ambil, ngapain nyusahin begini terus!" jawab si suami dengan kesal akan keadaan sekarang.Mengambil tumpukan baju untuk nutup telinga.
"Curhat salah, enggak curhat nanti bilang aku tidak kasih tau," oceh wanita mondar mandir harus kasih air tajin demi bungkam tangisan 3 orang bocah di gubuk kecil mereka.
Cuaca yang biasanya akan lebih dingin setelah tengah malam, sekarang terasa panas membahana melebihi suhu panas di musim panas.
Tiap orang yang jarang berkipas dengan kipas daun palam, dimestikan untuk berkipas jika ingin dingin.
Doa yang dipanjatkan para rakyat jelata bukan lagi sekedar rizki mencukupi kebutuhan harian mereka, tetapi memohon para dewa dewi untuk segera melenyapkan bahaya di negeri ini.
Banyak pedagang berhalu dagangan mereka. Hampir seluruh penjual merubah dagangan non sembako jadi penjual aneka kipas palam dan ramuan pereda panas dalam akut.
"Kipas palam, dinginkan cuaca panas hari ini," teriak seorang pria membuka lapak dagangan beralas kain, sambil mengipas-ngipaskan barang dagangan ke arah pelalu lalang. "Kipasnya, Nyonya?" ucap pedagang menyodorkan barang dagangan.
"Tidak, terima kasih," wanita gemuk menolak promosi pedagang lapak kaki lima.
"Ayo beli, dibeli kipas," serunya lagi mempromosikan produk buatan homemade.
"Teh Krisan,teh Krisan... Segar ngademin tenggorokan, cocok untuk anak-anak juga," seru pedagang lain di ujung lapak penjual kipas.
Botol berisi ramuan herbal siap minum juga berjejer rapi di depan toko penjual obat-obatan.
Untuk cuaca sepanas itu memang butuh obat dan vitamin pencegah panas dalam akut yang bisa memicu penyakit lainnya.
Dari semua penjual dadakan, tetap toko obat yang paling rame dipenuhi pembeli obat aneka macam sesuai dengan kebutuhan mereka.
Harga yang dipatokkan juga naik 2 kali lipat, dikarenakan pasokan obat di wabah ini cepat habis dari hari biasa.
Beberapa bahan herbal seperti bunga Krisan kering, daun mint, sarang madu kering, biji bunga teratai dan yang berfungsi sebagai pereda panas lebih cepat terjual habis dalam bentuk bungkusan berisi racikan obat.
__ADS_1
"Berapa totalnya?" tanya seorang pembeli ingin bayar bungkusan obat dalam 2 paket telah disiapkan tabib dan asistennya.
"25 tael" sahut kasir toko obat, sambil mengambil uang kembalian untuk pembeli lain.
Untuk harga 25 tael 2 bungkus paket obat itu, jauh dari harga normal biasanya dia stok obat di rumahnya. Karena diharga normal baru senilai 10 tael keping perak saja.
Tidak ada transaksi tawar menawar antara pembeli dan penjual, cukup transaksi pembayaran tunai antara kedua orang itu.
Usai membeli, pembeli pun keluar dan toko tetap ramai barisan pembeli dan pasien ngantri.
Kabar burung itu sampai di telinga Fun Cin yang hampir tiba dibatas kota yang ingin mereka pijak.
"Apa ulah iblis, Bang?" tanya Bapao,merasa panas menguliti kulitnya hingga merah padam.
"Tidak tau, hanya guru yang mengetahui hal ini dengan indera keenamnya," jawab Fun Cin, mengoleskan salep dingin buatan Ling Ni ke punggung Bapao.
"Untung saja abang bawa beberapa bekal obat," ujar Bapao merasa lebih nyaman setelah dapat bantuan obat oles.
Mereka berdua bisa akur kompak, tidak seperti tim lain yang harus coba akur dengan rasa dongkol di hati masing-masing.
Dalam lereng gunung bertatap dengan istana kerajaan Semangi langsung, Da Min dan Ling Ni sama-sama dongkol dengan masalah yang mereka alami.
"Kalau bukan karena kamu penakut sama hantu, aku pasti tidak seperti ini " keluh Da Min dengan keadaan kaki tertopang 2 belah kayu tipis.
"Ihhh... Kamu sendiri juga punya kelemahan, hanya saja aku belum tau!" ketus jawab Ling Ni ngikat ulang kayu baru sehabis ganti obat.
"Awww.... Sakit tau!!" teriak ketus Da Min.
"Laki-laki kok lemah!" cibir Ling Ni sengaja kencang-kencang ngikat kain pembungkus kayu.
"Pake perasaan dikit napa? Apa harap aku mati di sini? Terus jadi hantu yang nemani sampai ke istana!" ujar sinis Da Min.
"Jangan mati dulu! Aku akan pelan-pelan," sahut Ling Ni tertekan suasana yang tetap tidak nyaman jika di gunung lain.
Dalam keadaan Da Min terluka,maka perjalanan mereka terhambat tiba beberapa hari.
Hal itu harus amat dimaklumi mereka berdua yang harus saling tolong menolong keluar hutan dan tiba dengan selamat di istana.
So Po Ta pun hampir tiba di negeri Semangi yang tidak jauh dari ia terbang menaiki awan ajaib.
Dari kejauhan saja So Po Ta merasakan aura yang begitu mengerikan, antara aura pekat kejahatan dan kemarahan terbesar seseorang berilmu tinggi.
"Siapa orang yang menyebabkan semua fenomena ini?" gumam So Po Ta, mengelus jenggotnya, sambil menghitung perhitungan bintang-bintang penjaga dengan ruas jari kanan.
__ADS_1