Dragon Warrior

Dragon Warrior
Siapa??


__ADS_3

Hari ini adalah musim dingin di hari ke-7, cabang-cabang pohon mulai memutih berselimut salju tebal. Kolam, danau, dan laut juga membeku dalam keheningan dingin yang membekukan.


Latihan dimusim ini, lebih diperbanyak dengan memperkuatkan kekuatan fisik. 4 pria murid So Po Ta setiap hari harus pergi manjat dan turun gunung hanya untuk mengambil air dari sumber mata air yang tidak pernah membeku sepanjang ratusan tahun lamanya.


Sedangkan Ling Ni mendapatkan tugas untuk berbenah tempat latihan dan juga mencari tanaman obat langka di bawah kaki gunung, yang hanya muncul setiap 1 tahun sekali dalam timbunan salju membeku.


"Nanti kamu pulang duluan saja!" ucap Fun Cin meletakkan keranjang obat.


"Baik," jawab lesu Ling Ni bertugas seorang diri mencari tanaman obat.


"Hati-hati. Di hutan ini bisa saja kamu bertemu setan," bisik Da Min menakuti saudarinya yang seorang diri.


"Abang...!!!" adu rengek Ling Ni ketakutan belum ketemu setan benaran.


Wkwkwk..... Da Min tertawa cekikikan tidak sanggup lihat muka saudarinya yang ketakutan.


Ctakkk.....


"Auw.... Sakit," Da Min digetok Fun Cin.


"Rasain...Wekkkk." Ling Ni mengejek, merasa puas dapat pembelaan.


"Jangan ganggu Ling Ling terus. Bisa-bisa kita yang telat pulang!" ucap tegas Fun Cin, merelaikan canda gurau adik-adiknya.


"Tunggu dan lihat saja!" ancam Da Min mengangkat tangan tergantung tiru gaya hantu saat mendekat.


Ctakkk....


Kedua kalinya kepala Da Min di getok Fun Cin. Lalu menyeret pergi Da Min untuk naik gunung, memikul 2 ember kayu di pundak mereka.


Tinggallah Ling Ling seorang diri berjalan dalam timbunan salju mencari obat langka. Di ujung jurang ia melihat tanaman merambat dengan daun unggu, daun yang dikenal sebagai salah satu obat dewa dengan konon katanya bisa menyambung tulang-tulang yang patah hanya dengan sekali minum sari pati tumbuhan unggu tersebut.


Namun sayang, daun unggu tersebut tidak mudah untuk digapai. Seakan daun unggu tersebut memiliki nyawa untuk bertahan dari pengincar dirinya sewaktu menyerap inti sari bumi.


Makin didekati, daun ungu yang merambat itu pun ikut menjauh, merambat turuni jurang terjal tak tau bertepi atau tidak. Jika bertepi, itu mungkin langsung bertemu dewa kematian.


"Uhhh.... Seperti manusia saja. Bisa main kabur," keluhnya berhenti merayap dekat. "Dah lah. Lebih baik aku cari yang lain saja. Padahal aku ini orang baik yang cantik," ujarnya pede banget, sambil coba berdiri kembali.


Langkah kembali menelusuri timbunan salju tebal setengah betisnya. Bukan gampang harus lewati timbunan salju yang tergolong sudah tambah tebal dan dingin.


Wusszzzz......


Angin dingin kencang bertiup tambah kencang dengan intensitas kecepatan di atas rata-rata normal angin bertiup.


"Seperti akan ada badai. Lebih baik cari tempat berlindung," ucapnya harus segera cari tempat berlindung sebelum bencana datang.


Kaki pun membawa dirinya memasuki sebuah celah gua kecil.

__ADS_1


"Moga-moga badai cepat berlalu," pinta doanya, memeluk lutut.


Wuzzz....


Swingggg.....


Deruan angin bertiup amat kencang, hingga menembus celah gua itu.


Drtttt....


Giginya bergetar kedinginan terhembus angin yang amat dingin.


"Ayolah Dewi Salju, aku mohon agar jangan kau arahkan angin dingin ini ketempat perlindungan," keluhnya gemetar kedinginan.


Wuzzz....


Swingggg.....


Dewi Salju pun tidak menghiraukan permohonan seorang gadis awam. Tugasnya lebih penting, karena jika tidak menjalankan sesuai jalur maka ketidak seimbangan hukum karma akan terjadi timpang tindih.


5 jam sudah berlalu Ling Ni bersembunyi dalam gua kecil, angin yang berhembus juga masih kencang.


Beda dengan 3 saudara prianya yang sudah ada di puncak gunung walaupun angin bertiup kencang.


"Sekarang kita masuk dan ambil air!" ucap Fun Cin memimpin keselamatan mereka.


Fun Cin memimpin rombongan kecilnya memasuki gua tempat mata air yang dicari berada.


Terasa beda jauh suhu udara antara luar dan dalam gua.


Setelah mereka melangkah setengah perjalanan gua itu, suhu tubuh mereka meninggi signifikan.


"Guru memang paling baik sama kita," ujar Bapao,meski harus keluar nanti dengan 2 ember terpenuhi air, tapi tetap merasakan sejenak kehangatan di musim panas.


"Cepat ambil air!" ucap datar Fun Cin.


"Siap!" seru kedua saudaranya.


Sesampai di sumber mata air, mereka menampung tiap aliran mata air itu hingga penuhi 2 tong ember milik mereka.


Jika secara logika kita berpikir, mana mungkin ada sumber mata air yang tidak pernah membeku setiap tahun, apalagi berada di atas gunung yang pasti bersuhu rendah tiap harinya.


Tapi memang ada gunung itu di wilayah kerajaan Semangi.


"Sudah penuh, sekarang pulang!" ucap datar Fun Cin memikul naik 2 ember.


"Bentar lagi, Bang. Lumayan capek naik turun tak berhenti," jawab Da Min.

__ADS_1


"Iya, apalagi ada badai di luar," tambah Bapao duduk berselonjor di bebatuan besar


"Justru ada badai, maka kita harus cepat turun gunung!" menarik kedua adiknya itu berdiri. "Apa kalian tidak cemaskan Ling Ni, hmm!" tegasnya lanjut tanya.


"Baiklah," jawab lesu keduanya ikut beranjak berdiri.


Pikulan 2 ember isi air penuh di pundak mereka lumayan berat,tapi jauh akan lebih berat mereka berlawanan arah dengan badai yang menerjang mereka.


"Gawat! Air di ember mulai membeku," seru Bapao sadar air yang dibawa mulai mengkristal.


Mereka percepatan perjalanan melawan arah hembusan badai.


Mereka juga telah menuruni tangga tanah yang mulai melicin. Air di ember mereka sudah tertutup kristal air dan salju. Jika makin lama mereka berjalan cari tempat perlindungan, maka air dalam ember mereka akan jadi bongkahan es balok,dan menambah berat volume isi ember.


Sampai di tempat kaki gunung, mereka tidak menemukan saudari mereka yang di tinggalkan sejak sampai bersama.


"Mungkin si Aling sudah pulang," ucap getar dingin Bapao.


"Mungkin. Lebih baik kita cari tempat berlindung dulu," sahut Da Min mulai berat isi embernya.


"Mmm," dehem Fun Cin lihat dimana letak gua yang pernah di lihat pas belum tertutup salju tebal.


"Abang cari apa?" tanya Da Min.


"Cari gua sekitar sini," melihat ke kiri,menandai sebuah pohon gundul yang beberapa batang menancap tinggi 5 meter. "Ayo ke sana," ujar Fun Cin memimpin rombongan.


Sampai di tempat yang dituju, Fun Cin melihat gua kecil sudah tertutup rapat bongkahan salju tebal.


"Percuma kita berlindung," ucap Fun Cin. "Lebih baik pulang!"


"Baik." jawab keduanya.


"To-long!!" teriak getar kedinginan orang di dalam tutupan salju tebal.


"Suara apa itu?" kaget Bapao dengar suara tanpa wujud.


"Suara angin," jawab Da Min.


"To-long."


"Sssttt.... Kalian jangan berisik!" ucap Fun Cin meletakkan beban pundak.


"Tolong...."


"Ling Ling!" seru Da Min.


"Cepat keruk salju ini" titah Fun Cin.

__ADS_1


*


__ADS_2