
"Tidak bisa. Karena jika kelamaan dia tidak bisa jadi manusia seutuhnya," jawab naga emas memikirkan kebaikan di masa depan.
"Maksudnya?" tanya So Po Ta.
Naga emas meminta Feng Ni untuk menunjukkan perubahan fisik barunya.
Ketika Feng Ni menunjukkan beberapa perubahan fisik, So Po Ta jadi paham dalam ketertegunannya.
Kasihan sekaligus takjub yang terukir dalam hati kecil So Po Ta.
Usai percakapan serius mereka selesai, naga emas meminta So Po Ta mengeluarkan kotak terbuat dari kayu cendana untuk tempat ia tinggal sementara waktu.
Kotak cendana yang lumayan luas bagi naga berukuran seperti cacing tanah untuk menepati sementara itu, diletakkan pada meja altar pemujaan.
Feng Ni pun keluar untuk menemui saudaranya yang masih menunggu
di luar.
"Feng Ni!!" seru Ling Ni memanggil dengan kebahagiaan penuh.
Krakkk....
Tubuhnya yang hampir memeluk Feng Ni tersungkur jatuh akibat kecerobohan tidak melihat akar pohon yang timbul.
Buaaahhhh.....Haaaa hahaha.....
Kecelakaannya menjadi lelucon setelah berbulan-bulan merengek tak jelas.
"Sukurin!!" seru Da Min yang senang mengganggu Ling Ni.
Mata Ling Ni berkaca-kaca tertahan rasa sakit dan bahagia.
"Ayo berdiri," ucap lembut Feng mengulurkan tangan.
"Da Min dan Bapao selalu meledekku," adunya nuntut keadilan.
"Mengapa?" tanya Feng Ni tidak gegabah untuk ikut menyalahkan orang lain.
"Mereka bilang aku suka cari perhatian, penakutlah, malas latihan...." adunya panjang dengan wajah terbully.
"Emang gitu kenyataannya," celetuk jawab Da Min dan diangguk Bapao yang melipat tangan.
"Kalian jahat!!" marah Ling Ni menunjuk saudara sekaligus musuh pembully dirinya.
"Kami?" Da Min dan Bapao beradu pandang tidak merasa jadi orang jahat.
Justru mereka menggantikan tugas yang seharusnya jadi bagian pekerjaan Ling Ni selama berbulan-bulan.
"Sudah. Kalian apa tidak bosan adu mulut setiap hari?" Fun Cin menghentikan 2 pria yang suka menggoda Ling Ni sampai nangis.
__ADS_1
"Kan.... Abang saja tau," kembali mengadu pada Feng Ni dengan saksi mata memberi kesaksian.
"Bang Da Min dan Bang Bapao tidak seharusnya berkata begitu. Bukanya kita semua saudara? Yang berarti harus saling melindungi," nasehat Feng Ni dengan lemah lembut.
Da Min dan Bapao tercengang dengan penuturan dari mulut Feng Ni. Rasa haru dipanggil Abang dengan penuh perasaan telah membuat mereka terhanyut.
"Feng Ni...." spontan Bapao berlari, memeluk Feng Ni yang mengusap air mata Ling Ni.
"Abang kenapa?" tanya Feng Ni dipeluk dari belakang.
"Dikehidupan ini kita menjadi saudara seperguruan. Dikehidupan aku mau kita jadi saudara kandung," jawab Bapao tidak sanggup menahan air mata.
"Boleh," sahut Feng Ni dengan wajah senyum hangat.
"Bapao, sana masak!" titah Fun Cin lihat matahari mulai di puncak.
"Siap, Bang," bergegas pergi masak untuk semua orang.
"Da Min dan Ling Ling pergi bantu Bapao!" titahnya pada 2 lainnya.
"Baik," jawab Da Min pergi mengambil kayu bakar dan buat api.
"Aku temani Feng Ni saja," jawab manja Ling Ni tidak lepaskan tangan Feng Ni.
"Ya sudah. Tapi biarkan dia berisitirahat"
"Baik," jawabnya cepat. "Ayo, ku tunjukkan letak kamar kita," ajaknya penuh kegembiraan.
Biar mereka tidak terlalu banyak ngerumpi, setidaknya Ling Ni memiliki dirinya sesama wanita dalam 1 ruang lingkup.
Ling Ni mengajak masuk Feng Ni ketempat peristirahatan di samping ruang milik guru mereka.
"Kamu ternyata dapat tempat bagus," ucap Feng Ni lihat tempat yang dijadikan kamar.
"Tentu saja," menarik masuk untuk rasakan tempat tidur yang tidak kalah nyaman dengan tempat latihan dulu. "Enak kan?" tanyanya merebahkan tubuh berbarengan.
"Iya," jawabnya sudah lama tidak merebahkan tubuh layak manusia normal.
Setelah makan siang, Feng Ni berpamitan untuk pulang ke rumahnya yaitu istana penuh konflik.
"Aku boleh ikut kan, Guru?" pinta manja Ling Ni dengan wajah nunduk.
"Nanti yang ada kamu kabur kalau lihat 'Hantu'," bisik jahil Da Min.
Hiatttt....
Diam-diam Ling Ni membalas sindiran itu. Kaki Da Min yang tepat disebelah kakinya diinjak kuat tanpa perasaan.
Awwwww.....
__ADS_1
Teriak Da Min dengan wajah kesal natap Ling Ni seakan bukan pelaku kejahatan.
"Abang kenapa?" tanya lembut kasihan Ling Ni, tapi tangan mencubit paha Da Min.
"Ling Ni!!" pekik marah Da Min, mengangkat tangan Ling Ni yang cubit dirinya.
"Selesai makan kalian ambil air di kaki gunung!" titah tegas So Po Ta tidak ingin dengar aduan.
"Baik Guru," serentak menjawab terpaksa.
Keduanya saling menatap marah.Ling Ni yang tidak bisa ikut dengan Feng Ni dan Da Min yang dihukum bukan karena kesalahannya.
Selesai makan So Po Ta dan Fun Cin mengantar Feng Ni turun gunung. Sambil berjalan So Po Ta mengingatkan segala kemungkinan yang terjadi pada setiap konflik.
Untuk dari itu, So Po Ta akan segera turun gunung juga bersama murid lainnya setelah masa pertapaan berakhir.
"Terima kasih Guru," ucap Feng Ni nunduk beri hormat.
"Kamu tunggulah kami. Jangan bertindak sebelum bala bantuan datang," nasehat Fun Cin.
"Baik, Bang. Saya akan menunggu semuanya di istana," jawab gembira Feng Ni.
Lalu Feng Ni kembali melintasi jalan setapak yang aman tanpa ketahuan sekelompok pemberontak yang mengambil ahli tempat latihan mereka sebelumnya.
Akan butuh waktu berhari-hari Feng Ni tiba di dalam kota menggunakan jalan tikus aman dari penjajah negara.
Sesekali ia akan melompat jauh dengan bantuan akar pohon yang menjuntai dari atas ke bawah.
Jika seseorang pendekar yang berlatih dengan alam, maka melompat jauh bukan rintangan bagi mereka. Justru cara untuk mereka melaju dengan hemat banyak tenaga.
Sepanjang jalan Feng Ni tidak makan setelah jamuan makan terakhir. Sesekali dia berisitirahat untuk minum air dan membasahi insang dan juga selaput di buku-buku jarinya.
Matahari mulai terbenam di barat, akan sulit bagi manusia untuk melintas hutan belantara yang masih penuh aura mistis.
Karena teringat kejadian tahun lalu,dan tanpa penjaga yang sedang tidak ikut, Feng Ni memilih bermalam disebuah gubuk para petani menanam padi dan jagung mereka.
Ya, memang bukan tempat nyaman. Namun setidaknya bisa mengurangi kecurigaan dirinya yang akan masuk istana.
Pakaian hanfu yang memang tidak mencerminkan dari strata sosial orang berada juga, buat dia tidak begitu mengundang banyak mata, mulut telinga untuk diobjekan.
Krikkk....Krikkkk....
Krokkk ..... Krokkk....
Suara jangkrik dan katak saling berpadu music kolosal menemani kensunyian malam gelap gulita.
Matanya tidak bisa terpejam, sesekali nyamuk dan laron yang terbang menghampiri dirinya akan menjadi santapan penuh gizi dan nutrisi tambahan.
Saat itu juga dia baru menyadari bukan hanya bentuk fisik berubah, tapi gaya hidup yang menyerupai penjaganya.
__ADS_1
Feng Ni melepaskan kain ikat pinggang,lalu menutup rapat mulutnya agar tidak menjulurkan lidah yang sejak kapan elastis memanjang keluar nangkap serangga malam.
"Misi harus segera saya selesaikan," ucapnya dalam mulut terbungkus kain ikat pinggang.