
Wkwkkkk....
Seringai tawa terbahak-bahak lihat pasir menutup rata lubang kerukkannya.
"Kim Long, apa salah mereka sampai kamu sampai hati berbuat seperti ini?" tanya ratu bidadari minta penjelasan akan tindakan Kim Long.
"Kamu tadi suruh mereka hampiri aku, kan? Ya ini jawabannya, lll" sahutnya nyantai berjalan kelilingi bekas kerukkan.
"Kamu!!" ucap penekanan tidak bisa berkata dan berbuat apa lagi. "Lebih baik saya pergi dari pada lihat sikap kejammu," berjalan memunggungi.
Saat ingin menghilang, ratu bidadari sempat berpikir keadaan Feng Ni yang mungkin akan bernasib sama dengan 3 siluman tadi.
"Lebih baik saya bawa Feng Ni saja," gumamnya hampiri orang yang kalut penyesalan.
"Jangan coba-coba kau bawa dia pergi!!" hardik tegas kuat naga emas hentikan langkah ratu bidadari dengan kemampuan spiritual.
"Tidak bisa. Dia manusia dan juga punya keluarga. Kamu akan sangat berdosa besar jika melakukannya," coba lunturkan kekuatan spiritual yang ngunci gerakan.
"Lebih baik kamu pulang saja!"
Naga emas merubah wujudnya jadi naga raksasa, hanya untuk mengantar ratu bidadari dengan 1 kepakkan sayap sampai di rumah pejabat Lim.
Wuzzz...
Naga raksasa menerbangkan ratu bidadari kembali tepat di rumah pejabat Lim.
Untuk urusan Feng Ni, Kim Long sudah tau apa yang harus diperbuat.
Dia mengubur hidup-hidup Feng Ni dalam lubang yang lebih dalam dan sempit.
"Terima saja kenyataan!" ucapnya menutup lubang.
Feng Ni dan 3 siluman itu benar-benar dikubur hidup-hidup, tanpa bisa memohon ampunan.
2 jam berlalu, pasir yang tadinya panas sudah dingin seperti tekanan suhu udara saat ini.
Dengan wujud Kim Long perkasa, dia mengeluarkan yang habis dikubur hidup-hidup dalam lubang.
"Masih sakit enggak ?" tanyanya galak pada 3 siluman.
Ketiganya bergeleng merasa normal kembali.
"Baguslah. Sana kembali ke posisi masing-masing!" titahnya sambil menatap tajam 3 siluman amatiran.
3 siluman bergerak cepat untuk kembali pada posisi masing-masing. Tarantula di atas kepala, ular di pundak dan kalajengking di lutut Feng Ni.
Tidak lama Feng Ni pun sadar lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
"Cepat pulang sebelum kita dicari!" titah ketus Kim Long merubah wujudnya biar gampang dibawa Feng Ni.
Feng Ni ngangguk. Sedikit beban di dalam hati berkurang setelah berteriak kencang dan dinetralkan dalam pelukan bumi.
Kuda berlari kencang, angin yang menerpa wajah pun menyapu kering sisa air mata penyesalan terdalam.
Sampai di pintu gerbang istana,ia langsung berhadapan dengan prajurit yang berlalu lalang mencari dirinya.
__ADS_1
"Cepat beritahu berita kepulangan Tuan Putri..." seru prajurit yang berjarak 4 meter darinya.
Berita itu sambung menyambung hingga sampai ke telinga ratu yang gelisah ngapa-ngapain semenjak pulang dari rumah duka.
"Kalian siapkan makanan untuk Putri!" titahnya lalu keluar kamar menyambut anak semata wayang.
Feng Ni tau banget akan kecemasan ibunya, maka dari itu setelah turun dari kuda, orang pertama yang ingin dilihat dekat adalah sang ibu tersayang.
"Feng Ni ..." ratu mendekap lembut Feng Ni, tangan mengusap punggung yang gemetar dan tarikan nafas sesenggukan.
"Ibu....." mengaitkan tangan di pinggang ratu Semangi.
"Tidak usah dikhawatirkan.Semua yang telah terjadi, bukan salah kamu seorang," lembut tenangkan orang yang pertama kali membunuh anggota keluarga sendiri, baik sengaja atau tidak. "Kamu pasti lapar? Kita makan dulu ya," ngajak masuk kamarnya biar tidak perlu jadi banyak tontonan mata orang lain.
Makanan masuk kamar ratu, lalu ibu dan anak saling menasehati untuk makan sesuatu hidangan.
Ada selera atau tidak, mereka harus memaksa makan sesuatu.
"Feng Ni sudah kenyang, Bu," melap bibir dengan sapu tangan.
"Baiklah. Temani Ibu main kecapi yuk!" menepuk tangan panggil dayang bereskan meja yang penuh piring dan mangkuk.
Kasim Kim mengeluarkan alat musik kecapi, dan diletakkan di atas meja yang sudah rapi bersih.
Tringg...
Sebuah senar dipetik untuk memastikan nada kunci lagu sudah sesuai.
Ratu menggeser kursi, duduk anggun, tangan di atas senar kecapi.
Ratu Semangi menatap wajah Feng Ni yang menahan dagu dengan telapak tangan.
Setiap senar dipetik, seakan gambarkan keadaan suasana hati yang kacau.
Kasim Kim berdiri termangu dengar petikan senar yang sedih mendalam. Dia saja sebagai orang luar juga meneteskan air mata, teringat kesedihan yang dialaminya dulu.
Tringg...
Melodi lagu kecapi selesai, ditutup dengan petikan 1 senar lembut.
"Kamu lebih baik?" menatap mata Feng Ni yang merah.
"Iya, Bu."
Ratu melambai panggil Kasim Kim untuk simpan kecapi.
"Malam ini, kamu tidur bersama Ibu saja," raih tangan Feng Ni dan diangguk.
Kasim Kim mengambil selimut tambahan dari lemari pakaian, dan keluar tidak ganggu ketenangan ibu dan anak.
Feng Ni sukar menutup rapat matanya, karena setiap kali menutup rapat, yang terlihat kejadian tadi pagi.
"Kamu belum tidur, Nak?" ratu juga susah tidur, lihat kain kelambu menghalangi mereka dari gigitan nyamuk.
"Belum ngantuk saja."
__ADS_1
Ratu memiringkan tubuhnya, mengelus lembut penuh kasih sayang wajah yang sudah dewasa dengan segala jenis problematika urusan.
Jika teringat kejadian pernikahan dibatalkan sepihak, ratu Semangi tidak melihat wajah yang amat buram tidur disampingnya.
"Mau Ibu nyanyikan lagu?" bujuknya merapikan rambut Feng Ni yang terurai ganggu wajah buram itu.
"Tidak usah, Bu," menangkup tangan ibu, dan diletakkan di atas dadanya.
"Baiklah," paham maksud gerakan.
**
Raja Semangi yang diberitahukan kabar Feng Ni oleh Kasim Kim, juga turut bertanggung jawab atas derita hati anak mereka.
"Besok kamu panggil para pemain wayang potehi (wayang boneka)," teringat Feng Ni suka lihat teater kecil dan selalu tersenyum setelah lihat pertunjukan.
"Baik Yang Mulia." Kasim kim pun keluar kamar raja.
Esok pagi sesuai amanat, Kasim Kim memanggil kelompok pemain wayang potehi.
"Kalian harus cepat sampai istana. Satu lagi! Jika tidak bisa menghibur suasana, kalian bukan hanya tidak dapat bayaran, tapi juga akan dihukum pukulan!" Kasim Kim ngancam serius, seserius suasana dalam istana.
Buru-buru Kasim Kim pulang ke istana untuk persiapkan panggung pertunjukan dan keperluan lainnya.
Semua dayang yang diperintahkan tampak sibuk mondar-mandir menyiapkan pentas.
2 jam dari pemanggilan, para pelakon wayang sampai istana.
Siapa sangka suasana hati Feng Ni yang sudah terlihat normal mulai dengan urusan pekerjaan secara tertulis, malas untuk nonton pertunjukan.
"Kamu yakin tidak ingin lihat wayang potehi? Ini ide Ayah sendiri?" tanya ratu Semangi meyakinkan.
"Jika begitu, tunggu Feng Ni selesai laporan ini dulu," tidak tega kecewakan niat baik orang tuanya.
Ratu Semangi tersenyum lembut dan keluar tidak ganggu konsentrasi pekerja.
Selang tidak lama kemudian, dengan semua pelakon sudah siap berpentas pada tempat masing-masing, Feng Ni berjalan lesu datangi pertunjukan.
"Sini, Nak." ratu memanggil untuk duduk disampingnya.
Pertunjukan yang diadakan untuk menghibur suasana hati 2 wanita yang gundah itu, tidak hanya dihadiri orang termasud.
Dayang, kasim dan juga 2 gadis kecil juga ikut nikmati tontonan tanpa ada raja ikut di dalamnya.
Tronggg.....
Gendang bertabuh, para boneka pelakon memperkenalkan diri sebagai salam pembuka pertunjukan.
Satu persatu boneka menyebutkan nama serta peran yang akan didalami.
Di kursi penonton, belum terukir guratan senyum tipis kemayu Feng Ni.
Beda dengan penonton lain yang sudah banyak guratan senyum di ujung bibir mereka.
Tronggg.... Tronggg..... Tonggg....Tonggg.....
__ADS_1
Sesi perkenalan selesai, lanjut dengan cerita yang akan diceritakan pelakon yang bersembunyi di bawah meja kecil pentas boneka kain.
**