Dragon Warrior

Dragon Warrior
Bab 74. Sidang Tertutup


__ADS_3

"Kok bisa begini, Bang?" Da Min tercengang.


"Cepat kamu bangunkan mereka!" sahut Fun Cin ambil irus dan kuali bocor.


Feng Ni dan Ling Ni dibangunkan. Mereka cukup kaget bisa ada gunung salju kecil di dalam gubuk reyot.


Ingin rasanya Feng Ni gunakan sedikit ilmu sihir untuk nambal atap bocor. Tetapi jika semua masalah kecil diselesaikan dengan ilmu sihir dan tenaga dalam, bukankah akan menambah kemalasan orang lain.


Mereka berempat saling gotong royong perbaiki atap yang tertutup salju tebal.


2 cewek di bawah mengoper susunan jerami pada 2 cowok di atas atap gubuk.


Serbuan angin dingin juga tak peduli dengan usaha mereka yang memperbaiki gubuk reyot itu.


2 bulan kemudian.....


Musim semi sudah berlangsung beberapa minggu lalu. Segala jenis kegiatan juga lebih gampang dilakukan oleh semua orang tanpa banyak kendala berat.


4 saudara seperguruan beserta guru mereka yang sudah leluasa bergerak dalam istana juga sering berdiskusi rahasia setiap tingkat keamanan menurun.


Malam hari dimana semua orang sudah terlelap tidur, mereka berkumpul di terowongan rahasia ruang perpustakaan istana.


Banyak topik yang dibahas bersama untuk atasi semua masalah pelik di istana.


Bukan niat juga So Po Ta dan Fun Cin ingin merevisi beberapa undang-undang terkait pajak.


"Seharusnya setiap rakyat negeri Semangi harus membayar pajak sebesar 0.01 persen setiap tahunnya untuk semua fasilitas umum," ucap saran So Po Ta.


"Abang setuju dengan usulan Guru.Dengan begini semua lapisan berkontribusi,dan semua bisa mendapat hak yang sama untuk kesejahteraan," tambah Fun Cin ngangguk.


"Usulan ini akan saya sampaikan pada rapat selanjutnya," sahut Feng Ni tidak bisa ambil keputusan untuk merubah undang-undang.


"Jika begitu, para pejabat koruptor akan bahagia dengan pajak hanya sebesar 0.01 persen," ujar Da Min kurang memberi ganjaran pejabat koruptor.


"Untuk pejabat, mereka sudah ada patokan pajak yang akan dipotong dari setiap gaji bulanan mereka." Feng Ni noleh samping,jelaskan kebijakan negerinya.


"Oh begitu. Bagus sekali. Jika perlu pajak mereka 25 persen dari harta kekayaan mereka saja," ujar Da Min.


"25 persen ? Bukankah para pejabat koruptor hanya semakin jadi biang koruptor," sahut Ling Ni kurang paham urusan negara.


"Kamu ini bagaimana sih! Kan bisa angkat tim penyelidik keuangan anti korupsi." Da Min menepuk jidatnya ditanggapi kuper.


"Saran yang tepat!" Feng Ni menyerukan kesetujuan dirinya.


**


Waktu yang ditunggu mereka untuk membasmi koruptor tiba juga.


Dengan segala bukti kuat yang sudah terkumpul oleh mereka. Raja pun menggelar sidang,dengan hadirkan terdakwa dan pelapor.


Raja yang bertindak sebagai hakim itu di hari ke- 1 pengajuan, yang didampingi 2 jendral setia memulai sidang rapat tertutup.


Terdakwa pertama adalah penasehat yang merupakan saudara raja sendiri.

__ADS_1


"Penasehat ! Apakah anda mengakui perbuatan anda!" tegas tanya raja Xiao Se Mang mengadili dengan barang bukti berupa gulungan surat harta kerajaan yang sudah dicuri.


"Tidak Yang Mulia! Semua bukti itu bisa saja dibuat orang luar dan sengaja ingin hamba turun jabatan," dalih argumen adik raja (paman ke-4).


"Kamu baru saja mengantikan penasehat sebelumnya, tapi sudah banyak kasus bermunculan. Semua bukti sudah jelas terpampang, masih saja mau ngelak, haa!!" raja Semangi meninggikan suaranya.


Sebagai pelapor, Feng Ni juga wajib berada di depan mempertanggung jawabkan semua aduan.


"Yang Mulia, hamba juga bisa hadirkan saksi hidup," ucap Feng Ni memperkuat bukti tuduhan.


"Panggil saksi masuk!!" gelegar suara jendral Mu manggil saksi setelah diizinkan raja.


3 orang saksi yang ingin bertanggung jawab setelah dikecewakan saat bekerja sama dengan paman ke-4, muncul dengan wajah takut dan gemetar.


"Hamba memberi hormat," serentak mereka beri salam sebelum bersaksi.


Dengan dampingan 2 jendral, sidang dilanjutkan beserta pengakuan saksi.


Dalam ruang aula pertemuan istana utama, hanya orang-orang khusus saja yang dapat ikuti sidang tertutup itu.


Bahkan Kasim Do yang sepanjang hari layani raja Semangi, hari ini tidak dapat izin masuk dengan segala alasan tugasnya.


"Mengapa raja ini tidak izinkan saya masuk?" gabut Kasim Do, mondar mandir di depan pintu aula ingin tau apa yang dibahas.


"Tuan Kasim, jangan mondar mandir lagi," ucap sopan seorang prajurit khusus, berjaga depan pintu.


"Tutup saja mulut kalian!" ketus sahutnya, pelototi prajurit khusus yang berani ngatur.


"Ada apa ini? Hari cerah begini kok Kasim kepala marah-marah?" celetuk sindir Kasim Kim berjalan nyantai hampiri setrika gosokkan di depan pintu aula pertemuan.


"Aduhh.... Bakal ribut 2 kasim ini," keluh halus prajurit khusus.


"Iya, ya. Lebih baik jauhkan cepat mereka," sahut prajurit khusus lainnya.


"Para Kasim kepala, tolong jangan buat keributan di sini. Yang Mulia Raja akan marah besar jika mengetahui perihal ini," nasehat prajurit meleraikan tatapan mata sengit pertarungan.


"Diam kau!!" bentak bareng 2 kasim berseteru, dorong hempas prajurit antara mereka.


"Kau jangan ikut-ikutan!" bentak Kasim Do, telunjuk toel jidat Kasim Kim.


"Ihh... Jangan pikir aku takut, ya!!" Kasim Kim lantang balas jawaban, merapikan topi jabatan yang mereng.


Lihat keributan 2 kasim, prajurit pun bertindak tegas.


Sringg...


Seorang dari mereka yang berjaga mengeluarkan pedang tajam dari sarung kayu berukir lambang kerajaan.


"Mau apa kau!!" bentak lagi 2 kasim bersamaan.


"Jika para Kasim tidak bisa tenang,maka terpaksa saya berbuat kasar," tegas jawab prajurit yang menghunuskan pedang tajam diantara keduanya.


Prajurit khusus beda dengan prajurit biasa.Jiwa keberanian mereka memang diabdikan seutuhnya untuk keamanan istana.

__ADS_1


Segala mandat yang diterima langsung dari raja, ibarat titah penting dari orang tua mereka sendiri.


Selain itu,ilmu pedang mereka juga pilihan terbaik dari jendral.


"Silahkan menjauh 10 meter jika ingin ribut," tegas prajurit yang hunuskan pedang.


"Hmpphh!!" ketus jutek kedua kasim menghempas kasar wajah jutek mereka.


.


Jam pasir sudah dibalik prajurit yang ada dalam aula pertemuan untuk menentukan terusan waktu setiap 2 jam sekali.


Berarti pula persidangan sudah berlangsung 2 jam tanpa jeda minum.


Kunci saksi untuk memberatkan adik raja juga sudah dihadirkan semua. Yang namanya penjahat, mana mungkin akan berkata jujur saat dalam persidangan.


Terpaksa juga Feng Ni memberikan bukti paling berat berupa kerja sama paman ke-4 dan beberapa pejabat lain, dengan tipuan bahwa orang yang bersangkutan sudah mengakui semua rencana konspirasi mereka.


"Apa itu benar!!" tegas tanya raja Xiao Se Mang, memukul balok pengetuk.


"Tidak! Ini semua hanya jebakan!" dalih adik raja bersih kekeh tidak akui semua konspirasi dan korupsinya.


"Lebih baik Paman penasehat akui bukti konkret ini semua!" tegas Feng Ni.


Haa....Hahahahaa......


Tawa berat penasehat sekaligus rangkap paman dan adik keturunan dinasti.


Tawanya menggelegar kuat buat semua prajurit dan jendral mengeluarkan pedang dan hunuskan tombak.


"Sampai mati pun, saya tidak akan kasih kalian tau jawaban dari pertanyaan kalian!" gelar jawab, kembali tertawa dan berjalan ke samping mengarah ke Feng Ni.


"Lindungi Tuan Putri !!" hardik raja Xiao Se Mang, berdiri dari kursi tahta panik dengan situasi.


Pedang dan tombak membentuk benteng pertahanan untuk Feng Ni.


Jika terdakwa ingin coba celakai raja maupun keturunan berikutnya, maka terlebih dahulu harus berhadapan dengan senjata tajam mereka.


Jlebb...


Penasehat memilih percikan darah kotori prajurit dan Feng Ni, daripada harus mengakui semua kejahatan.


Ujung tombak yang nusuk tubuh terdakwa dicabut kasar para prajurit pemegang.


Darah bercucuran mancur cipratkan wajah orang disekitarnya.


"Feng Ni yang lugu," ucap putus-putus paman ke-4,natap sayup dengan pandangan mengabur.


"Paman," sahut lembut Feng Ni merasa yang panggil adalah pamannya yang dikenal bersahaja, dan berdedikasi untuk kerajaan.


Tubuh terdakwa pun ambruk ke belakang, menghantam tengkorak kepala belakang.


"Cepat tolong, Penasehat!" titah sedih Feng Ni buka jalan untuk melihat perpisahan terakhir sebagai keluarga rukun.

__ADS_1


Biarpun Feng Ni ingin menghukum para pejabat kotor, pengkoruptor, konspirator, tetap saja hati nurani kecilnya ingat kenangan terindah yang sempat ada dulu.


**


__ADS_2