Dragon Warrior

Dragon Warrior
Bab 86. Kiamat zaman


__ADS_3

Pluggg...pluggg....


Tulang belulang tengkorak tercemplung dalam lahar panas mendidih.


Sorak gembira tikus dan kelelawar tampak jelas dalam bahu membahu kelompok So Po Ta yang memberantas kaum iblis.


"Awas Guru!!" jerit Da Min membantai iblis dengan golok, dan segera bantu So Po Ta yang kewalahan lawan iblis tingkat tinggi.


"Cepat kalian rebut permata biru. Lalu keluar !!" titah So Po Ta bersuara keras, menendang jendral iblis.


"Kalian musnahkan manusia-manusia itu!!" titah panglima iblis, sambil serang So Po Ta .


Begitu lihat Da Min ingin pergi ambil permata biru bentuk prisma panjang tertancap pada singgah sana raja iblis, prajurit iblis yang lain segera menyusul.


Sriinggg......


Dengan kekuatan tongkatnya, So Po Ta terus melawan jendral dan panglima iblis yang kuat.


Takala petarungan sengit itu, sudah banyak yang jadi korban, juga banyak benda rusak akibat pertempuran tersebut.


Ibarat lari estafet, Da Min dan 2 saudaranya berusaha gapai permata biru yang ada di ujung atas kursi iblis yang terbentuk dari susunan tulang tengkorak.


"Kamu pergi ambil Ling! Biar kami hadapi mereka," ujar Bapao mendorong Ling Ni jauh dari pertarungan.


"Baik," cepat berlari biar semua cepat pula berakhir.


Hihihi......


Muncul tiba-tiba kepala puntung terbalik menghadap Ling Ni yang berbalik.


"Setan... !!" jeritnya mati kaku.


Terpaksa Da Min yang tidak jauh dari Ling Ni segera menolongnya.


"Cepat pergi !!" hardik Da Min, pelipis sudah bercucuran darah segar.


"Makanan...!!" kepala puntung ngences lihat darah segar yang ngaliri pelipis Da Min .


Plak....


Tak segan-segan Da Min langsung menempeleng kepala puntung kayak permainan bisbol.


"Pergi kau ke neraka!" Da Min memaki akibat marah beserta capek.


Arrrgggggg....


Kepala puntung melambung jauh nan tinggi, berputar-putar karena rotasi pukulan.


Jedukk....


Kepala itu terbentur keras tembok karang, hingga nyangkutkan kepala yang tertancap ujung karang tajam runcing.

__ADS_1


Baru puluhan langkah terjalani, kaki Ling Ni dicengkeram tangan-tangan yang muncul dari dalam tanah.


"Apalagi ini??" keluhnya lihat 2 kaki tercengkram jari-jari kisut kering.


Citt....Cittt....


Tikus-tikus berdatangan membantu Ling Ni terbebas dari jari-jari kurus kering.


Gigi-gigi mereka yang tajam terus mengigit sampai jari-jari putus.


"Terima kasih kalian sudah menolong kami," ucap Ling Ni terharu dapat pertolongan binatang tak punya kemampuan bertarung.


Cittt.....Cittt.....


Kumpulan tikus mengangguk jawab dan lanjut gigit.


Kelelawar juga bantu raja kelelawar mereka yang bertarung dalam tubuh penuh luka.


"Kalian juga bantu saudaraku!" Da Min usulkan kelompok kelelawar berpencar.


Ketika Ling Ni bebas dari cengkraman tangan di kakinya, dia berlari naiki anak tangga berupa akar pohon yang panjang dan saling bergabung tiap ujungnya.


"Sebentar lagi sampai!" ujar Ling Ni lihat kursi tengkorak tidak jauh dari jangkauan mata.


Dughhh....


Lagi-lagi usahanya terhalangi. Dia jatuh tersungkur akibat akar pohon yang rupanya bisa bergerak.


Tidak ada siapapun kecuali akar pohon raksasa yang mencuat dari susunan tempat.


"Ehhh... Ternyata pohon ini iblis juga!" umpat Ling Ni muka kesal.


Dia mencacah dan nusuk akar-akar yang bergerak gelombang.


"Rasakan !! Rasakan !! Rasakan !!" terus membacok dan nusuk akar-akar yang bergerak.


Akar-akar itu bergerak cepat, melilit erat tubuh Ling Ni.


Sayatan pada akar bukannya berupa cairan getah pohon sejenis, tetapi cairan berwarna hitam,bau dan bergas.


Uwekkk....


Eneg rasa bau gas yang keluar, lebih parah dari bau kotoran binatang.


Akar pohon melilit dan angkat tubuh Ling Ni secara terbalik, lalu diguncang atas bawah kiri kanan.


Akar pohon itu berhenti menguncang saat dengar suara ultrasonik kelelawar.


Bughhh...


Tanpa aba-aba akan dilepaskan, tubuh Ling Ni mendarat bagai nangka busuk dari ketinggian hampir 2 meter.

__ADS_1


"Aw sakit!!" keluhnya tidak bisa ngelus spesial bagian yang hampir semua sakit.


Tapi dia tetap berterima kasih selalu dapat pertolongan, walau sedikit terlambat.


"Kalian bantu aku hadapi akar iblis itu ya," ucap Ling Ni merangkak jalan capai kursi tengkorak.


Di dunia manusia yang dijaga dewa bumi, masih belum ada tanda-tanda Feng Ni atau raja iblis telah kembali.


"Teman-teman, kita rapikan tempat ini dulu," usul salah seorang dewa bumi, pada dewa bumi lain yang juga datang.


"Baik," masing-masing dewa bumi dari tempat lain mengambil sapu lidi dan juga keranjang sampah bambu.


Mereka bergotong royong bersihkan hancuran puing-puing benda keras akibat pertempuran.


Selang tidak lama puing hancuran sudah bersih, mereka merasakan getaran kuat tidak hanya berasal dari perut bumi.


Manusia-manusia seluruh benua merasakan hal sama, dan mengira bahwasanya sedang terjadi gempa bumi.


Banyak manusia yang bersembunyi di bawah kolong meja. Ada juga yang keluar cari lahan kosong dari gubuk mereka.


Retakkan-retakkan muncul mengukir bangunan istana semi permanen tersebut. Kekohan istana Semangi sedang diuji,dimana beberapa kediaman pejabat negara hampir luluh lantak, meninggalkan puing-puing kenangan belaka.


"Gempa bumi!!" teriak rakyat seluruh negeri, menyerukan kiamat akhir zaman.


Lama sudah guncangan bergetar sampai retakkan tanah terbelah lurus memanjang mau dibawa kemana.


Bukan daratan saja bergetar hebat,dasar lautan juga bergetar lebih hebat dengan kekuatan lebih besar, hingga berakibat menteri ikan sukar tenangkan gelombang arus yang bergejolak menyapu daratan.


"Kita harus bagaimana," tanya dewa bumi pesisir laut pada temannya.


"Tetap harus cegah gelombang sampai di sini " sahut Dewi bumi, menancapkan tombak perintah.


Arus gelombang kian besar dan kuat.Orang-orang yang bertempat tinggal di daerah sekitar pantai cepat mengungsi meninggalkan bangunan dan harta benda yang tidak mampu dibawa.


"Ayo cepat ke gunung !!" ujar salah seorang pria,membawa istri anaknya dan sedikit! bekal bertahan hidup.


Mungkin ini yang namanya kiamat manusia. Mau lari kemana juga tetap hadapi masalah lebih besar.


"Dewa sedang murka," keluh seorang kakek cacat bertumpu tongkat penyangga.


Tongkat itu dijatuhkan, memilih bersujud memohon pengampunan. Warga yang sadar diri juga ikut bersujud memohon hal sama, tapi bagi yang angkuh, tamak, serakah lebih milih menyelamatkan diri membawa banyak harta milik.


Bukan dewa dewi surga tidak mendengar keluhan dan permohonan. Tapi apa mau dikata, keadaan langit lapisan pertama sampai ke-7 juga terdampak guncangan dari alam di luar kekuasaan raja langit.


Banyak pilar-pilar bangunan langit yang lari dari posisi, dan hal itu harus buat banyak dewa dewi menahan pilar yang hampir jatuh.


"Bagaimana ini? Jika kita tidak menolong mereka, pasti rasa keyakinan mereka terhadap para dewa akan hilang?" ucap dewi bunga sambil topang pilar dan dengar doa sedih manusia awam dari berbagai belahan dunia.


"Lalu, jika kita turun selamatkan mereka, apa tidak lebih kejam karena telah meluluh lantakkan 3 alam," sahut ketus dewa simfoni.


Ada pro dan kontra antara para dewa dewi yang sukar menentukan pilihan terbaik dalam situasi genting.

__ADS_1


**


__ADS_2