Dragon Warrior

Dragon Warrior
Hantu


__ADS_3

Sepanjang Bapao melakukan pekerjaan, di situ pulalah Ling Ni ngintilin saudaranya.


Jika saja sekarang dia melihat wajah Feng Ni, apa akan timbul rasa ketakutan yang sama saat lihat gurunya?


Bapao selesai membuat alas tidur istirahat mereka dengan tumpukan dedaunan kering dan ranting kayu kering.


Begitu juga Da Min dan Fun Cin yang beres menata gua hingga layak tinggal sementara waktu.


"Guru, silahkan istirahat," ucap Fun Cin memapah tubuh tua gurunya yang duduk di luar gua menunggu pekerjaan mereka selesai.


Bapao kembali bertugas untuk menyiapkan makanan untuk mereka dengan bekal bahan makanan yang ingat dibawa olehnya.


"Kamu jangan nempel terus. Aku kan jadi susah kerja cepat," omel Bapao melepaskan tangan Ling Ni yang narik belakang bajunya.


"Aku masih takut. Seram tau!!" jawab ngeyel gemetar takut.


"Ini yang seram ya!!" suara serak berat menakuti orang yang dari tadi takut. Tangan diangkat tinggi, lalu dibiarkan telapak tangan mengantung bergoyang.


Rrrrgggg....


Ling Ni coba berbalik walau takut setengah mati. Saat ia berbalik, sosok yang tidak ingin dia lihat tiba-tiba hadir mencolek punggungnya.


"SETAN....!!!!" pekiknya langsung lompat naik di atas punggung Bapao.


Wkwkkkk.....


Da Min tertawa terpingkal-pingkal lihat reaksi saudarinya yang sok kuat ternyata hanya gadis cemen penakut.


Ctakkk.....


Muncul juga si saudara tertua mereka, menjitak kepala Da Min yang buat keributan saat guru mereka beristirahat.


"Sakit, Bang," adunya gosok kepala belakang habis dijitak.


"Sudah tau Guru beristirahat, masih saja kau ganggu dia," omelnya menceramahi saudaranya yang bercanda keterlaluan.


"Maaf, Bang. Habis, dia tuh. Entah apa yang ditakutkan." Da Min mengeluh, nunjuk Ling Ni yang masih nyaman di punggung Bapao.


"Ling, kemari!" Fun Cin memanggil saudarinya yang habis dikerjain.


"Nggak! Nanti ada hantu," jawab rengek Ling Ni.


"Justru kalau kau tidak lepas. Aku akan jadi hantu!" sahut Bapao tercekik lipatan tangan Ling Ni di leher.


"Jangan. Bang Bapao tidak boleh jadi hantu!" ujarnya tidak paham maksud Bapao.


Eeek....Eeekkk.....


Bapao meniru suara orang hampir mati tercekik.

__ADS_1


"Bang, jangan takuti aku," ujar Ling Ni mengoyangkan leher Bapao.


Bapao yang baru selesai mencuci beras dibuat pusing 7 keliling. Di atas kepala seakan banyak daging ayam melayang berputar kelilingi kepala.


"Hentikan, Ling!" ujar Fun Cin bersuara tegas menghentikan Ling Ni yang hampir buat Bapao hampir mati benaran.


"Hiksss.... Hikss.... Aku mau pulang di tempat lama," tangisnya mengusap air mata dan ingus.


"Kamu ini sudah jadi seorang ksatria, tetap saja penakut," ucap Fun Cin membantu Bapao tenangkan pikiran.


"Huaaa..... Aku gak mau jadi ksatria kalau banyak hantu," Ling Ni makin kencang menangis.


"Cep, cep, cep..... Apa nggak malu dilihat Guru?" bujuk Da Min mendekat.


Ling Ni tidak peduli lagi dengan segala hal, asal dirinya tidak bertemu setan dan kawan-kawan.


Dengar suara tangisan Ling Ni, So Po Ta yang baru akan beristirahat kembali keluar.


Sebagai guru, ayah dan juga kakek untuk kelima murid, dia juga harus bisa menempatkan posisi yang tepat dalam kondisi yang terjadi.


"Da Min, kamu lanjut rapikan saja tugasmu!" ucap guru So Po Ta tiba-tiba muncul menghampiri murid-muridnya.


"Baik, Guru," jawab Da Min beranjak pergi.


Begitu juga Fun Cin dan Bapao kembali dengan tugas mereka.


Lalu So Po Ta mengajak Ling Ni menjauh untuk diajak bicara dengan kepala dingin.


Tidak mungkin bagi Ling Ni berkata jujur, jika merasa sosok pria tua tepat di depannya menyerupai 'HANTU'.


"Ti-dak!" jawabnya sesenggukan berhenti nanggis.


"Kalau kamu berpikir, 'Hantu' itu ada. Maka mereka memang ada, dan hidup berdampingan dengan kita. Tetapi adakalanya jika kita berpikir positif. Tidak semua makhluk itu jahat meski kebanyakan dari mereka itu jahat, " So Po Ta menjelaskan kembali pelajaran tentang alam semesta.


Ling Ni terdiam membisu mendengar penjelasan gurunya. Akan tetapi tidaklah semudah apa yang dikatakan. Beda orang,maka beda juga titik kelemahan terbesar mereka.


" pasti melihat Guru seperti 'Hantu' kan?" tanya So Po Ta yang diangguk ragu muridnya.


So Po Ta tersenyum paham maksud ketakutan muridnya itu. Selain hanya tersisa 1 murid wanita di dekatnya, pasti juga Ling Ni ingin dapat perhatian khusus dari guru dan saudaranya.


"Kalau kamu masih takut, banyak saja hafal mantra," nasehat Guru.


"Kalau tidak mempan?" tanya takut Ling Ni tertunduk.


"Panggil saja Guru atau mereka," So Po Ta tersenyum tipis di balik kumis dan janggut putih memanjang.


Ling Ni pun ngangguk tidak bertanya jawab lagi.


So Po Ta beranjak berdiri dari duduknya di atas batu besar, kembali ke gua untuk merenggangkan otot-otot yang sudah tua itu.

__ADS_1


Begitu juga Ling Ni yang kembali ngekor orang yang bisa diandalkan.


"Sepertinya rasa ketakutan dia belum hilang," gumam So Po Ta berjalan santai sambil elus janggut dan kumisnya itu, agar orang di belakang bisa ngekor.


***


Beberapa hari sudah meraka tinggal di tempat baru itu. Beberapa kejadian yang kerap terjadi setiap tengah malam, sudah buat Ling Ni depresi.


Selain ngekorin saudara dan gurunya berada,dia tidak dapat ikut latihan bersama di luar gua.


"Ayo latihan!!" Da Min menyeret paksa keluar Ling Ni yang bersembunyi di dalam gua yang sudah diberi mantra pembatas mahkluk astral.


"Nggak mau! Guru saja tidak larang " Ling Ni menghempas tangan Da Min yang maksa keluar dari tempat teraman.


So Po Ta berjalan dekat, mengibaskan tangannya agar Da Min tidak memaksa murid yang jadi manja extra.


"Guru mau kemana?" tanya Ling Ni juga tidak mau ditinggal tanpa ada yang jaga.


"Berjemur." So Po Ta berjalan perlahan keluar dari gua.


Antara takut ditinggal sendiri dan lebih ditakuti saat di alam terbuka, Ling Ni kembali diolok-olok Da Min.


"Pendekar cengeng. Ulu ulu lu lu lu....." Da Min mengejek.


"Da Min!!" bentak Ling Ni terhina dengan kondisinya saat ini.


"Apa ? Dasar cengeng." Da Min semakin mengolok.


Da Min pun pergi biarkan Ling Ni tetap dalam ketakutan.


Mentari beserta angin sepoi-sepoi membisikkan So Po Ta akan keadaan murid kesayangannya yang tengah berlatih keras, dan hampir selesai masa latihan itu.


Guratan bahagia mengukir keriput di wajah tua itu. Murid yang jadi kebanggaan telah memiliki ilmu baru jauh di atas kemampuan saat dia mengajar.


"Guru," panggil lembut oleh Fun Cin, menghampiri gurunya yang berdiri merentangkan tangan, menyerap sinar mentari.


"Mmm..." dehem sang guru.


"Guru sedang melihat keadaan Feng Ni?"


So Po Ta mengangguk,lalu menurunkan rentangan tangan.


"Dia sekarang gimana?" merindukan setelah banyak bulan berpisah.


"Segera dia akan capai tujuan kelahirannya," jawab So Po Ta dengan makna tersirat.


Fun Cin turut bahagia atas keberhasilan saudarinya dalam pelatihan tempat beda.


"Semua usaha tidak akan sia-sia jika dilakukan dengan niat tulus," ucap So Po Ta menepuk pundak Fun Cin,lalu berlalu.

__ADS_1


Fun Cin ngangguk paham, dan dia kembali untuk latihan lebih keras untuk dapat menyeimbangi kemampuan Feng Ni saat dibutuhkan dalam memberantas kejahatan.


__ADS_2