
Begitu tiba di batas ibukota, So Po Ta terhadang aura seakan menghalangi semua orang berkemampuan spiritual masuk maupun keluar dari ibukota kerajaan Semangi.
Untuk masuk ke ibukota, So Po Ta juga wajib mengeluarkan tenaga dalam berlapis mantra.
Percikan ilmu tenaga dalam berpindar menembus kabut tak kasat mata oleh manusia awam.
Syuhhh....
So Po Ta mengerahkan lebih tenaga dalam untuk membuat celah baginya masuk.
Setelah berhasil masuk, celah tersebut menutup rapat kembali, seolah mulut yang memakan santapan lezat.
"Tidak benar ini!" gerutu So Po Ta menancapkan tongkatnya, cegah aura pekat itu menyebar luas ke negeri lain.
Tapp....
Tongkat berisi mantra tertancap dalam, membentengi aura menyebar luas, karena berdampak pada kehidupan binatang dan tanaman lainnya juga.
Ujung tongkat yang menancap tanah bercabang bagai akar, menguatkan pertahanan selama mungkin hingga fenomena ini dapat titik terang.
So Po Ta kembali berjalan tanpa awan ajaib yang membawanya lebih cepat sampai tujuan.
Disaat seperti ini ia melihat banyak wabah yang seakan menular dengan kecepatan tinggi.
Tidak hanya manusia, binatang dan tanaman juga terpapar aura pekat yang timbul.
Untuk menyelesaikan ini, So Po Ta bertanya pada beberapa orang termasuk tabib dan tetua tiap kelompok masyarakat pinggiran ibukota.
"Sejak kapan wabah ini terjadi?" tanya So Po Ta, memakai kain penutup wajah agar terhindar dari beberapa penyakit menular bawaan orang yang berkumpul dalam anjungan kampung.
"Baru beberapa hari saja. Namun banyak anak-anak rewel setiap sore jelang malam. Dan 2 hari terakhir ini, beberapa orang tanpa penyakit jelas seperti biasanya, telah meninggal," jawab tetua kelompok kampung B.
"Benar. Dan sekujur tubuh mayat dirubungi serangga aneh, yang tidak pernah ada," tambah seorang pria tua di samping tetua kelompok mereka.
"Boleh aku lihat jasad mayat-mayat itu?" tanya So Po Ta untuk memastikan penyebab.
"Jangan! Barang siapa pun yang melihatnya akan tertimpa nasib mengenaskan yang sama," celetuk pemuda, karena salah 2 orang anggota keluarga sudah jadi korban berantai.
Mayat-mayat yang meninggal secara tak wajar itu dibiarkan membusuk dimakan oleh serangga mirip lalat. Bahkan tulang manusia dan ****** lain yang terkenal keras itu habis digerogoti serangga aneh tersebut.
Tapi ada keanehan lain juga yang terjadi,****** dan mayat yang meninggal karena dibantai atau mati secara wajar, tidak ada serangga aneh yang mendekati, seolah serangga-serangga tersebut muncul untuk menghindari manusia lain yang masih bernyawa tidak terkontaminasi virus, bakteri,kuman dan sejenisnya yang menular.
So Po Ta mendatangi gubuk salah seorang warga yang baru meninggal beberapa jam lalu. Di sana ia masih melihat mayat bersisa tulang belulang sebelum habis dimakan serangga beberapa jam lagi.
Uwekkk...
Pengantar langsung muntah melihat bagaimana serangga aneh itu memakan bangkai dalam waktu beberapa jam saja.
Bukan bau, melainkan jijik lihat serangga mirip lalat pemakan bangkai yang bermutasi jadi mutan.
"Anda boleh pergi," ucap So Po Ta tidak ingin memberatkan orang lain.
Lari tunggang langgang pengantar itu tanpa memberi nasehat pergi sebelum terlambat.
Baru beberapa menit sampai, tambuh gong berbunyi keras.
__ADS_1
Tonggg..... Tongggg....
Pertanda ada lagi ditemukan mayat, yang segera dikerubungi serangga aneh.
So Po Ta berbalik ke belakangnya, dimana pintu gubuk terbuka lebar dapat melihat orang-orang kampung B berlarian kocar kacir masuk gubuk masing-masing dan mengunci rapat pintu mereka.
"Apa yang mereka takuti sedang terjadi?" gumam So Po Ta berjalan keluar dari gubuk yang di pijak.
Langkahnya pelan menapak keluar, terlihat jalan kosong sepi dan tertinggal keranjang sayuran di pinggir jalan.
Terasa berat beban tubuh, tidak ada bau apapun tapi banyak serangga dari dalam gubuk tadi berterbangan keluar gubuk dengan kecepatan 100 perdetik.
So Po Ta mengikuti ratusan serangga aneh itu berterbangan menuju 1 arah sama.
Langkahnya tiba ditempat serangga itu berhenti pada sebuah objek.
Ya, seorang mayat pria gemuk masih utuh dengan nafas baru putus sedang diserang ratusan serangga yang mulai menggerogoti tubuh itu hingga ngilang.
Tap....
So Po Ta menghentakkan kaki, menghentikan serangga membunuh melebihi seorang algojo ataupun cacing tanah dan belatung memakan mayat.
Tenaga dalam dia tidak mampu membunuh serangga seekor pun, seolah mereka juga pasukan iblis yang berubah wujud.
"Binatang apa mereka?" gumam So Po Ta binggung.
Serangga menoleh dengan mata mereka yang merah tanpa pandangan.
Nguingg.... Wuzzz.....
Tanpa tongkat sakti, So Po Ta melawan sekawanan serangga yang bengis terkendali oleh sesuatu.
Di saat tepat Kim Long dan ratu bidadari muncul menolong So Po Ta.
Goarr.....
Kim Long mengaum, menghamburkan keroyokan serangga pada So Po Ta.
Ratu bidadari memercikkan air suci dari guci dengan daun willow.
Percikan air itu benar-benar membubarkan serangga .
"Terima kasih telah membantu aku," ucap So Po Ta merapikan pakaian luar yang koyak tercabik.
"Hewan apa mereka?" tanya ratu bidadari pada So Po Ta.
"Aku kurang tau. Tapi rumor mengatakan mereka serangga yang memakan bangkai orang yang terjangkit penyakit aneh" jawab So Po Ta, menunjukkan mayat yang sudah robek tercabik sadis anggota tubuhnya.
"Mereka itu terpancing aura Feng Ni," celetuk Kim Long mengenal siapa pemancing.
So Po Ta tidak percaya bahwa muridnya menimbulkan masalah ini. Setau dirinya, Xiao Feng Ni dikenal sosok yang hangat. Ya walaupun gampang dirasuki iblis saat jiwanya kosong atau marah besar.
"Kita tidak punya waktu banyak. Kalian bantu mereka,aku akan pergi mengurus Feng Ni," ujar Kim Long membagi tugas berat.
"Baik," jawab So Po Ta,tau apa yang harus diperbuat.
__ADS_1
Kim Long menyamarkan penampakan wujudnya untuk dapat dilihat langsung manusia awam. Lalu pergi mencari Feng Ni yang bersembunyi dalam selubung kegelapan.
Akan sulit bagi Kim Long menemukan wujud Feng Ni jika dia tidak tau perubahan terakhir pendekarnya.
Untuk mempermudah melacak keberadaan Feng Ni, Kim Long melacak dari sumber energi yang pekat pada sebuah bangunan di dalam istana.
"Di sana!" ujar Kim Long menemukan pemancar aura.
Tubuhnya terbang melayang untuk mengembalikan Feng Ni sediakala.
Tring.....
Tubuh Kim Long terpental saat maksa masuk dalam selubung yang dibuat Feng Ni secara tidak sadar.
"Aku harus sedikit berbuat kasar," ucap Kim Long tidak membedakan perlakuan saat berhadapan iblis apapun itu.
Sringg.... Goarr.....
Ujung ekornya memotong selubung, aumannya menghancurkan selubung yang koyak.
Kyaa....
Pekik suara beramplitudo tinggi dari dalam bangunan istana.
Goarr....
Kim Long kembali mengaum menandingi pekikan suara tinggi, sebelum jatuh korban.
Kyaaaa..
Goarr...
Suara-suara itu bersahutan melawan.
Ratu bidadari dan So Po Ta yang bisa mendengar suara tersebut merasa kesakitan telinga teramat sakit sampai menusuk kepala mereka.
Ratu bidadari menutup telinga dengan mantra khusus, begitu juga So Po Ta yang banyak keluar energi.
Goarr....
Auman Kim Long semakin besar memanjang.Tidak akan mudah Kim Long bertanding dengan Feng Ni yang sejak kapan kekuatan iblis yang muncul mempengaruhi keseluruhan jiwanya.
Kim Long berputar melingkar di atas langit istana, membuat selubung agar tidak berakibat fatal bagi manusia awam tidak berdosa di luar sana.
"Jika harus berakhir, maka cukup yang di sini," ujar Kim Long, mengunci lapisan selubung terakhir.
Goarr....
Dia kembali mengaum dan mengemakan suaranya.
Efek lapisan selubung setelah dapat auman suara , sangat membantu. Letak posisi serta wujud baru Feng Ni tampak jelas.
Keadaan istana yang masih dalam suasana berkabung terukir jelas dalam jiwa suci Feng Ni yang terkukung kejahatan kejam.
"Mmm.. Ternyata karena rasa sakit," ucap Kim Long menemukan titik kemarahan pendekarnya.
__ADS_1
Untuk menghilangkan rasa sakit terkecewa,rasa sakit kehilangan, rasa sakit haus balas dendam, dan rasa sakit lainnya, Kim Long harus mengunakan strategi tepat.