Duka ( Duda Tapi Perjaka)

Duka ( Duda Tapi Perjaka)
Berangkat ke Bandung.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali rumah Mami Alisa sudah heboh dengan suara cucunya yang suka sekali menjerit-jerit di pagi buta. Apalagi ada Malik dan Zia. Kedua putra Kinara pun ada. Semua cucu Mami Alisa sedang berkumpul dirumah itu.


Yang paling heboh ialah putra Ali dan Kinara. Sedari bangun Novak kecil itu sudah membuat rusuh Mami dan Papinya yang sedang tertidur lelap karena baru saja selesai dengan olahraga malam setelah sekian lama.


Lana dan Maura terkekeh-kekeh melihat kelakuan putra Ali itu yang mencoba untuk membangunkan sang Papi untuk di ajak jalan Pagi bersama Uwaknya. Uwak Lana.


''Sudahlah sayang. Papinka tidak mau di ganggu. Biarkan mereka berdua nak. Abang sama adek sama uwak aja. Ayo kita jalan-jalan pagi. Ada kakak Zia tuh udah siap!'' tunjuk Lana pada Zia putri keduanya.


''Ayo Dek! Sama Kakak aja. Abang pun udah nunggu di depan loh..'' ajak Zia pada kedua putri Kinara dan Ali.


Mereka berdua cemberut. Akhirnya mereka berdua pasrah. Diluar sudah menunggu Rayyan dan si kembar Raka dan Zarra.


''Loh.. kenapa wajahnya di tekuk begini sayang? Mana Papi dan Mami kamu?'' tanya Rayyan pada dua anak kembar Kinara.


Lana terkekeh. ''Mereka sibuk adu gelud. Maklumin aja dek. Ali pisah sama adek itu hampir tujuh tahun lamanya. Jadi biarkan mereka puas-puasin waktu mereka berdua. Barangkali bisa jadi keponakan kita lagi nanti.''


Rayyan terkekeh. ''Iya juga sih. Pas barengan pula waktunya itu. Tapi Abang bersyukur kok. Keluarga kita sudah berkumpul lagi. Hanya tinggal dek Algi aja yang belum. Dia semakin gila bekerja di Bandung sama di kantor cabang milik kita. Abang dengar-dengar dia sedang dekat dengan seorang karyawan teladan di kantor itu.''


''Bagus dong. Berarti Algi sudah move on dari Tiara kan ya?''


''Nah.. ini dia masalahnya. Yang Abang dengar itu gadis ini sangat mirip dengan Tiara. Wajahnya yang keturunan Turki itu kadang membuat Abang yakin kalau itu adalah Tiara. Hanya saja Tiara yang ini sudah berumah tangga dan memiliki dua orang anak. Kembar dan itu sangat mirip sama Algi Bang!''


''Apa?! Kok bisa?!'' pekik Lana begitu terkejut


''Itu makanya. Abang pun heran. Kok bisa? Setau kita kan Tiara pergi dalam keadaan biasa-biasa saja. Apa jangan-jangan...'' Rayyan melihat Lana dan kan juga menatap nya.


''Saat Tiara pergi dari Algi dalam keadaan mengandung begitu??''


''Nah.. bisa jadi Bang. Barangkali itu permintaan Algi. Sebelum pergi, Tiara harus melayani dirinya dulu untuk terakhir kali?? Dan Tiara mau? Tapi setelah ia pergi dari Algi, Tiara terbukti hamil??'' terka Rayyan pada Lana.


''Bisa jadi ini. Eh, tapi Algi sudah mengucapkan kata talak belum sama Tiara??''

__ADS_1


''Setau Abang sih belum. Bahkan Algi tidak pernah ingin menceraikan Tiara. Tapi Tiara pergi karena merasa tidak pantas bersama Algi. Itu yang Abang dengar dari Algi.''


''Hemm.. tak apa. Hari ini kita akan tau apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Jika memang itu yang terjadi, Abang sendiri yang akan menjemput Tiara untuk di jadikan istri Algi kembali. Sudah cukup selama ini adik Abang tersiksa dan Gila kerja seperti itu. Apakah tubuhnya masih kurus??'' tanya Lana pada Rayyan.


Rayyan tertawa. ''Nggak Abang. Adek udah punya tubuh tegap kayak kita. Bentuk tubuh yang proporsional. Hanya sedikit saja perbedaan nya. Ia memiliki kumis tipis yang menutupi adik kecil kita itu sangatlah tampan di masa sekarang. Ia sangat di gandrungi oleh gadis-gadis cantik yang bekerja di kantor cabang milik kita di Bandung. Hahaha...''


''Hahaha... kita akan lihat hari ini. Sudah cukup, ayo kita pulang. Ayo sayang! Kita balik. Kita harus segera berangkat ke bandara setelah sarapan!'' seru Lana pada Maura yang saat ini sedang mengawal anak mereka untuk pulang.


''Iya Bang. Ayo nak. Kita pulang. Hari ini kita akan berangkat ke Bandung!''


''Horeeeee .. jalan-jalan naik pesawat uhuuyy!!'' teriak Malik kegirangan.


Lana dan Rayyan terkekeh-kekeh melihat tingkah ke enam anak yang sedang di kawal Maura. Sedang dua lagi sedang bersama Oma dan Opa nya


Siang harinya.


Saat ini mereka sudah tiba di bandara Kuala namu. Pesawat mereka akan lepas landas menuju Jakarta. Semua penumpang sudah masuk ke dalam pesawat.


Butuh dua jam agar bisa tiba di Jakarta dengan selamat. Semua anak-anak di dalam pesawat itu gembira bersama.


Pukul Empat kurang sepuluh menit mereka sudah tiba di bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Semuanya turun dan sudah di tunggu oleh jemputan masing-masing.


Jika Kinara dan Ali menuju ke Bandung, Rayyan dan Mami Alisa menuju kerumah sakit dimana Papa Rian sedang dirawat. Hanya Kinara dan Ali yang tidak ikut dengan mereka.


Karena mereka memiliki agenda lain. Seluruh keluarga besar Bhaskara dan ditambah dengan keluarga besar Papa Reza, mereka semua menuju kerumah sakit.


Tiba disana, mereka semua turun bersama. Rayyan yang sedang terburu-buru berjalan sambil memegang ponsel di telinganya tidak tau dari kejauhan ada seorang gadis yang sedang berjalan terburu-buru dengan membawa kotak obat dan juga peralatan medisnya.


Saking terburu-buru nya kedua orang ini bertabrakan hingga menimbulkan suara berisik yang lumayan mengganggu gendang telinga siapa saja yang mendengarnya.


''Ya, sebentar lagi Abang akan kesana. Kamu disana saja dulu. Iya, ini masih di rumah sakit-,''


Brrruukkk..

__ADS_1


Brrraaaakkk


Praaaangggg..


''Allahu Akbar!!!''


Deg!


Deg!


Rayyan dan gadis itu sama-sama mematung. Tubuh mereka saling bersentuhan karena gadis itu jatuh menimpa tubuh tegap Rayyan.


Deg, deg, deg..


Mata keduanya membeliak saat mengenali siapa yang mereka tabrak. Mulut mereka berdua menganga.


''Abang??''


''Cinta??''


''Ngapain kamu disini sayang??'' tanya Rayyan pada Cinta.


Seseorang yang sedang berdiri dibelakang Mami Alisa mengepalkan kedua tangannya. ''Hehehe.. adek lagi koas disinilah Bang. Abang sendiri ngapain disini??'' tanya Cinta balik pada Rayyan.


Keduanya berusaha bangun dan duduk. Seorang perawat datang membantu Cinta untuk mengambil semua alat yang sudah bertaburan di lantai itu.


Semua yang ada disana masih tertegun melihat Cinta. ''Abang mau jenguk Papa Rian.'' jawab Rayyan sedikit meringis karena sikunya berdarah mengenai alat yang dibawa Cinta tadi.


''Astaghfirullah! Siku Abang!'' pekik Cinta begitu panik.


Rayyan terkekeh. ''Abang tidak apa-apa sayang .. Abang baik-baik saja. Udah ah. Kok nangis sih?'' tanya Rayyan pada Cinta yang saat ini sedang terisak


Rayyan terkekeh geli. ''Sayang! Lihat Abang!''

__ADS_1


''Hiks. Enggak! Abang terluka! Semua ini gara-gara aku! Hiks .. kak Zahra pasti marah padaku karena sudah membuat Abang terluka! Hiks.. maaf..''


Rayyan tersenyum, kemudian ia memeluk tubuh chubby Cinta dengan sayang. Semua itu tidak luput dari perhatian semua orang.


__ADS_2