
''Yang jelas pemuda yang Abang bilang bejat ini sangat istimewa bagiku dan kak Zahra. Abang tau? Sebelum kak Zahra menunjukkan foto bang Dimas padaku, sebulan sebelumnya aku sudah di pertemukan dengannya di dalam mimpi. Ia datang bersama bang Rayyan untuk melamarku pada Papa. Pada saat itu Papa tidak menyahuti nya sama seperti sekarang ini. Tapi Bang Rayyan tetap berusaha menikahkan kami berdua dengan atau tanpa persetujuan kalian semua!''
Deg!
Deg!
''Kezia....'' lirih Papa Reza, ia menatap nanar pada putri bungsunya itu.
"Ya, Papa. Pemuda yang kalian bilang bejat ini merupakan jodohku di masa depan. Sebulan sebelum aku mendapatkan kabar jika kak Zahra sakit, aku bermimpi tentang bang Dimas. Makanya ketika dulu Kak Zahra menunjukkan foto Bang Dimas, aku sempat terkejut. Tapi setelah mendengar cerita Kak Zahra barulah aku paham. Dan ya. Selama kurang lebih satu setengah tahun ini kami selalu bersama. Bang Dimas merupakan dosen di kampus ku. Beliau seorang dokter spesialis penyakit dalam. Sedangkan aku sendiri seorang mahasiswa kedokteran belum lagi ambil jurusan. Kami bertemu di kampus yang sama. Tidak salahkan jika aku menyukai dosen ku sendiri yang merupakan Papa kandung dari dua keponakan ku. Dan lagi pula.. apa salahnya menikahi pria yang ternyata beliau adalah Papa dari dua keponakan ku sendiri??"
"Tapi tidak dengan nya Key.." lirih Papa Reza
"Kenapa?? Kenapa Papa sangat membencinya? Apakah karena ia seorang pemuda bejat yang telah menodai putri sulung Papa? Apakah pemuda sepertinya tidak bisa berubah? Ingat Pa. Setiap manusia itu memiliki kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Semuanya memiliki kekurangan. Termasuk Papa dan Mama! Jangan lupakan suatu hal tentang kejadian masa lalu kalian!"
Deg!
Deg!
"KEZIA!!!!" sentak Kenan tidak terima dengan ucapan Kezia terhadap kedua orang tuanya.
"Kamu juga bang Kenan! Jangan jadi lelaki sok suci kamu! Aku tau apa perbuatan mu selama kamu kuliah diluar sana! Perlu aku jabarkan satu persatu???"
Deg!
__ADS_1
Kenan mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak bisa berkutik kala Kezia mengancamnya dengan kelakuan nya selama jauh dari kedua orang tuanya.
"Sekarang terserah pada kalian berdua. Jika kalian tetap bersikukuh tidak ingin menikahkan kami berdua, maka kami akan tetap menikah di KUA." Tegas Kezia pada semua orang
Ia berlalu pergi meninggalkan mereka semua. Kezia mengambil tas serta perlengkapan nya. "Hallo, Ya Kevin! Susul kami dirumah Papi Gilang. Ya, hari ini aku akan kembali ke Bandung. Ya, bersama Pak Dimas. Hem, Oke."
Semua yang ada disana tercenung mendengar ucapan Kezia. "Dek..." lirih Dimas dengan wajah yang semakin sembab karena bekas luka di wajahnya yang semakin terasa perih.
"Kita harus pulang ke Bandung hari ini. Abang harus dirawat. Bang Ray! Jangan lupa lusa antarkan si kembar ke rumah kami. Abang tau kan dimana rumah bnag Dimas yang baru??''
Rayyan tersenyum. ''Tentu sayangku. Abang akan bawa dua keponakan mu ini. Pergilah. Abang akan menyusul kalian nanti,''
''Bang??'' lirih Dimas dengan mata berkaca-kaca.
Rayyan mengangkat tubuh Dimas dan berusaha mendudukkan nya di sofa. ''Apa aku bilang, kamu tidak akan sanggup melawan orang-orang ini. Pulanglah. Abang akan antrakn Raka dan Zarra lusa ke Bandung. Selain bang pun ada tugas sedikit di Bandung lebih kurang satu bulanan lah. Jadi.. kamu bisa mendekat diri pada mereka setelah sampai disana. Nanti akan Abang betitahukn kepada mereka siapa kamu. Pulanglah. Kevin sudah tiba diluar.''
Grep.
Rayyan memeluk Dimas dengan erat. Sakit di tubuhnya tidak ia rasakan lagi. Lebih sakit lagi saat tadi di kantor Bhaskara group ia di tolak mentah-mentah oleh kedua anaknya. Ingin kecewa. Tapi apalah daya. Ia tidak punya hak sedikitpun tentang hal itu.
Sekarang yang bisa ia lakukan ialah ia harus kembali ke Bandung. Karena Kezia sudah memboking pesawat untuk keberangkatan malam ini ke Bandung. Pukul dua belas malam.
''Nak??'' panggil Mami Alisa dengan air mata beruraian.
__ADS_1
Dimas mengurai pelukannya dari tubuh Rayyan. Ia tersenyum, ''Mami...'' lirih Dimas.
Mami Alisa mendekati dan mengecup kening Dimas lumayan lama. Dimas tersedu. ''Pulanglah. Kami yang akan mengantarkan kedua bakmi menemui Papa mu. Katakan pada beliau kalau Mami mengizinkan Raka dan Zarra tinggal bersama kalian kapan pun kalian mau. Kami tidak punya hak penuh terhadap nya. Karena menurut hukum, kamu lho wali yang sah. Walaupun mereka berdua tidak berbadan padamu. Tetapi tetap saja mereka berdua darah daging yang tidak kamu ketahui kehadirannya. Maafkan Mami yang sengaja menutupi ini dari kamu satu tahun yang lalu. Mai terpaksa berbohong. Mereka mengatakan anak-anak mu. Maafkan Mami, Nak...''
Mami Alisa memeluk Dimas dengan erat. ''Tak apa Mami. Abang paham kok. Semua ini demi melindungi mereka berdua. Tak apa. Abang tidak marah. Abang bersyukur karena kalian sekeluarga sudah menerima kedua anak Abang dengan baik. Abang pamit pulang Mami. Maaf.. kehadiran Abang membuat keluarga Kami menjadi gaduh.. Abang janji. Setelah ini Abang tidak akan kesini lagi-,''
''Dimas! jangan berbicara seperti itu. Kalau bagi orang lain kamu itu penjahat tapi tidak untuk Mami. Sedari kecil kamu sudah bersama Rayyan. Sedari klaim TK hingga sekarang kamu tetaplah PUTRA MAMI. PAHAM??'' tegas Mami Alisa pada Dimas.
Dimas terkekeh kecil. ''Ya, Abang tau itu. Tapi Abang tidak ingin-,''
''Cukup Dimas! Kamu boleh tidak datang kerumah mereka! Tapi tidak kerumah Mami! Kamu putra Mami! Ingat?? Banyak saudaramu yang menginginkan kamu disini! Jikalau mereka tidak menginginkan mu, yok kita pun tidak rugi kok. Yang rugi kan juga mereka? Karena menolak pemuda baik seperti kamu. Kamu putra Mami. Mami tau kami pernah melakukan kesalahan. Benar seperti kata Zia. Setiap manusia itu memiliki kesalahan, kalau mereka bertaubat dan tidak mengulanginya, itu pertanda jika dia sudah menjadi lebih baik. Mami yakin. Kamu tidak melakukan hal buruk pada Kezia. Mami kenal siapa kamu Dimas!''
''Mamiii...'' rengek Kezia.
''Pulanglah. Lusa kami akan menyusul. Ayo Bang. Tuntun Dimas menunjukkan mobil. Ayo Kevin!'' katanya pada Kevin yang baru saja masuk dengan mulut ternganga lebar.
Rayyan yang gemas langsung saja menyumpal satu buah apel ke mulutnya hingga membuat Kevin melotot kan matanya.
''Abang! Ishhh..''
Rayyan terkekeh. ''Habisnya kamu itu melongo kok mulut menganga! Mau kamu masuk nyamuk sana kata ke dalam mulut kamu?''
''Ya enggaklah! Abang ini ada-ada saja! Ngomong-ngomong bang Dimas kenapa nih?''
__ADS_1
''Kepho!'' sahut Rayyan dan Kezia bersamaan.
Mami Alisa dan Papi Gilang terkekeh melihat ketiga anak itu. Mereka sudah besar saat ini. Kevin merupakan putra kedua Andi dan Ema. Hanya berjarak sedikit saja dari Kezia.