Duka ( Duda Tapi Perjaka)

Duka ( Duda Tapi Perjaka)
Di temukan


__ADS_3

''Tuan AzLan Dharmawan!''


Deg!


Deg!


Papa Azlan menoleh. Ia membeku di tempat saat melihat kuncen yang dulu pernah mengantarkan nya ke dalam hutan itu bersama pesuruh mantan istrinya.


''Ku-kuncen!!'' serunya begitu terkejut.


Kuncen itu tersenyum, ''Ya, ini saya. Anda sehat Tuan Azlan??''


Papa Azlan tidak menyahut, ia menatap dua orang disamping kuncen itu dengan raut wajah memucat. Kuncen itu terkekeh kala melihat wajah pucat Papa AzLan.


''Bapak-bapak ini ingin membawa anda pulang Tuan Azlan. Semua ini atas perintah dari Tuan Gilang Bhaskara!''


Deg!


Deg!


''Apa?!'' pekik seorang pemuda berusia dua puluh tahun dibelakang Papa Azlan.


Kuncen itu tersenyum, ''Sudah besar kamu ya Nak? Dulu, bapak mengantar kamu kesini saat kamu berusia dua bulan. Dan sekarang? Kamu sudah sebesar ini? Masyaallah.. kamu sangat hebat tuan Azlan bisa mengurus putra mu dengan baik di hutan luas ini.''


''Maksudnya apa ya? Papa? Bapak-bapak itu siapa? Siapa tuan Gilang Bhaskara? Seperti pernah mendengar nya? Hem.. oh! Bukan nya Tuan Gilang ini Papinya bang Rayyan ya Pa? Dan juga bang Rayyan ini kan akan menjadi suami dari Cinta? Adik ku??''


Deg!


Deg!

__ADS_1


Pak Surya dan Pak polisi itu saling pandang. Kuncen itu tersenyum, sedangkan Papa Azlan masih menatap kedua orang itu dengan wajah pucat pasi.


Pak Surya mendekatinya. ''Tenanglah Tuan Azlan. Saya datang kemari untuk menjemputmu dan putramu. Semua ini permintaan tuan muda Rayyan yang ingin mencari Anda. Karena putri anda akan segera menikah dengan tuan muda Rayyan. Dan kami ingin membawa pulang anda demi anda bisa menikahkan mereka berdua.''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


''Me-menikah?? Putriku?? Cinta Pramita Agung Brasmana??'' tanya Papa Azlan semakin terkejut.


''Ya, putri anda tuan Azlan. Maka dari itu anda harus keluar dari hutan ini!''


''Ta-tapi... hu-hukuman saya kan belum selesai tuan? Saya dihukum dua puluh lima tahun disini. Sedang ini baru berjalan separuhnya?'' ujar Papa Azlan mengingat ketika ia dibuang dulu dengan syarat kalau ingin bebas maka harus hidup di hutan itu selama dua puluh lima tahun lamanya.


Pak Surya tersenyum, ''Tidak apa Tuan Azlan. Tuan Gilang sudah mengambil izin dan mencabut hukuman mu dari suami mantan istrimu. Dan kini, kalian berdua bebas. Masa hukuman kalian diperpendek oleh tuan Gilang. Semua ini sudah menjadi tanggung jawabnya. Makanya saya datang kesini untuk ditugaskan membawa Anda pulang kerumah Anda. Rumah Anda yang ada disana saat ini masih menunggu Anda. Tetapi...''


''Tetapi apa? Jangan bilang kalau ibu dan Bapakku???'' sela Papa Azlan semakin gusar.


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Brrruukkk..


''Astaghfirullah!! Tuan AzLan!!''


''Papa!!!'' pekik pemuda sebaya Cinta itu hanya beda bulan saja.


''Az-azka... Nenek mu.. Kakek mu..'' lirih Papa Azlan dengan sedikit tergagap


Pemuda yang dipanggil Azka itu panik bukan main. ''Iya, iya, kita akan pulang. Tapi sebentar. Adek siapkan eh bukan! Aa' ya Aa! Sekarang Aa' bukan adek lagi iyakan Pa?'' tanya Azka pada Papa Azlan


Papa Azlan hanya bisa tersenyum lirih pada putra nya itu. Wajahnya itu begitu mirip dengan Cinta. Papa Azlan menitikkan air matanya.

__ADS_1


Azka memeluknya dengan erat. ''Sudah... keinginan Papa akan segera terkabul. Sudah ya? Kita pulang?'' ucapnya pada sang Papa


Papa Azlan mengangguk. Ia dipapah bangkit oleh Pak Surya dan seorang suruhan jendral kenalan Papi Gilang itu.


Sedangkan kuncen dan Azka masuk ke gubuk reyot itu dan mengambil seluruh barang-barang mereka seperti baju, ransel dan koper milik Papa Azlan yang dulu pernah ia ambil dari kamar Mami Zahra.


Hanya itu kenangan mereka berdua. Ia salah karena memilih wanita masa lalunya karena tergoda bujukan wanita itu. Padahal ia sangat mencintai Mami Zahra hingga saat ini.


Mengingat itu lagi dan lagi Papa Azlan meneteskan air matanya. Semuanya sudah terlambat untuk menyesali semua nya.


Mereka berlima keluar dari hutan itu diwaktu yang hampir sore. Pak Surya dan kuncen hutan itu harus dua kali bolak balik demi mengangkat seluruh barang-barang milik Papa Azlan yang berada di gubuk reyot itu.


Setelah semua barang itu keluar dan berada di hadapan nya, dengan segera semua barang itu ia serahkan pada kuncen itu. Karena barang itu semuanya pemberian kuncen dan juga istrinya dulu.


Papa Azlan dibawa kesana hanya membawa baju di badan dan juga sebuah kopernya. Tak lama setelah itu, menyusul bayi Azka yang saat itu masih berusia dua bulan.


*Nanti akan othor ceritakan gimana kisah hidup mereka selama berada di hutan larangan. Tunggu di bulan depan akan segera rilis. 😁


Kuncen itu berterima kasih pada Nya. Papa Azlan pun demikian. Jika bukan karena kuncen dan juga istrinya mungkin Azka sudah tidak hidup lagi saat ini.


Azlan berhutang Budi pada Kuncen dan isterinya. Pak Surya tersenyum melihat Papa Azlan sudah berubah.


Walau tubuhnya dan putra begitu kurus karena kekurangan makan di dalam sana. ''Sungguh mulia hati Anda, tuan Gilang. Anda rela menukar uang yang banyak demi menebus Papa kandung menanyu Anda. Semoga Allah membalas semua kebaikan Anda dengan cara anda diberikan umur panjang.. Amiin..'' batinnya.


Dengan segera tangannya mengirimkan gambar serta pesan teks di tujukan kepada Papi Gilang.


''Sudah saya temukan tuan. Tuan Azlan dan putranya Azka Dharmawan!''


Papi Gilang tersenyum ketika melihat pesan teks itu. ''Alhamdulillah.. segala puji bagi Allah. Ternyata doaku Allah kabulkan.. Terimakasih ya Allah..'' lirih Papi Gilang dengan air mata menetes karena terharu.

__ADS_1


__ADS_2