
..."Setiap yang bernyawa pasti akan mati."...
Kalimat sering kita dengar apabila seorang ustad sedang berceramah tentang apa yang hidup di muka bumi ini. Semua yang hidup dari Allah, pasti akan mati.
Inilah yang juga sedang dialami oleh keluarga besar Bhaskara. Satu bulan sebelum Cinta melahirkan, Oma Dewi berpulang ke pangkuan Allah.
Beliau pergi dengan bahagia. Walau belum sempat melihat cicitnya, ia tetap bahgia diakhir hidupnya. Selama ia hidup, ia selalu menyayangi Rayyan serta anak-anak lain mami Alisa.
Masih teringat jelas beberapa tahun yang lalu saat Rayyan lahir ke dunia. Rayyan lahir dengan selamat. Tapi ibunya meninggalkannya pada mami sambungnya.
Untuk dibesarkan dan diasuh oleh mami sambungnya. Yaitu mami Alisa. Mami Alisa merupakan orang yang telah membawa mama Vita ke rumah sakit beliau akan melahirkan Rayyan.
Setelah Rayyan lahir, mama Vita meninggalkannya kepada Oma Dewi untuk dirawat bersama mami Alisa. Mami Alisa yang sangat dibenci dulunya oleh Oma Dewi karena menurutnya, papi Gilang menjadi pembangkang karena mendengar ucapan mami Alisa yang saat itu hanya seorang janda.
Mengingat itu, rasanya sesak sekali. Makanya ketika beliau akan menutup mata, Oma Dewi meminta dipertemukan dengan mami Alisa.
__ADS_1
Mami Alisa tidak keberatan. Baginya, Oma Dewi merupakan orangtua keduanya setelah kedua orangtua kandungnya di Aceh sana.
Oma Dewi meminta maaf karena kesalahannya di masa lalu karena begitu menghina dan menjelekkan mami Alisa. Beliau juga meminta pada mami Alisa, bahwa saat ia dimandikan nnanti, mami Alisa harus berada di kepalanya.
Memamgku jasadnya untuk yang terakhir kalinya. Oma Dewi sudah menganggap mami Alisa sebagai anak kandungnya. Putrinya.
Betapa bahagia papi Gilang saat mendengar jika Oma Dewi begitu menyayangi istri tercintanya sedari ia SMA hingga saat ini.
Oma Dewi tutup usia saat berumur 70 tahun. Opa Angga saat ini berusia 71 tahun. Tua setahun saja dari Oma Dewi.
Ke empat pemuda itu sedang masuk ke liang lahat menunggu jenazah Oma Dewi di turunkan. Opa Gilang berdiri di bagian kepala saat jenazah Oma Dewi diturunkan.
Sebelum di kuburkn, Opa Gilang terlebih dahulu mengadzani Oma Dewi untuk yang terakhir kalinya. Dengan suara sengau akibat terlalu lama menagis, beliau tetap melantunkan adzan terakhir untuk mamanya.
Setelah selesai, barulah mereka menutup kenazah Oma Dewi dengan tanah. Sebelumnya dengan papan kabilah sebagai pembatas jenazah dan tanah.
__ADS_1
Setelah selesai, mereka menabur bunga. Serta berdoa untuk kelapangan kubur sang Oma. Rayyan menuntun Papi Gilang yang masih saja sesegukan setelah jasad Oma Dewi dikuburkan.
Bang Lana mendorong kursi roda Opa Gilang yang mendadak tidak bisa berjalan karena shock akan kepergian istrinya untuk selama-lamanya. Sementara mami Alisa di gendong Algi dan Bang Tama karena pingsan saat Oma Dewi di makamkan.
Mereka semua pulang setelah selesai mengubur jenazah Oma Dewi. Cukup lima belas menit dengan berjalan kaki, mereka sudah tiba di kediaman Opa angga dan almarhum Oma Dewi.
Ponsel Rayyan terus berbunyi sedari tadi. Mbok Nah sebagai pemantu dirumah itu segera memberikan ponsel Milik Rayyan yang tertinggal di kamarnya.
"Maaf, Den. sedari tadi, ponsen aden terus berbunyi. Jadi, bibi bawa turun saja. Kayaknya non Cinta yang menghubungi Aden Ray," ucapnya yang diangguki cepat oleh rayyan.
Walau masih berduka, ia tetap harus bisa kuat demi istri dan anaknya yang kini tinggal bersama Kezia di Jakarta sana.
"Hallo, Waalaikum salam. Ya, Abang baru pulang, Sayang. Ya, Abang akan pulang seminggu lagi. Selepas tujuh hari almarhum Oma. Kamu tak apa kan ya, Abang tinggal? Baik, hem. Iya, abang juga sayang kamu. Wa'alaikum salam," lirih Rayyan begitu lesu.
Bang lana menepuk bahunya agar kuat dna tegar. Rayyan mengangguk saja. Ia pun ikut duduk di bawah sofa. Dimana mami Alisa masih pingsan.
__ADS_1