
Setelah dari musholla, Rayyan melewati raungan Cinta yang selama ini ia tempati. Tidak terlihat Cinta disana.
Rayan berjalan dengan wajah datar dan dingin. Sangat jelas aura kemarahan di wajah tampan nya. Seseorang dibalik dinding itu merasakan sesak yang tiada Tara. ''Maafkan aku Kak.. aku tidak berniat sedikitpun untuk menduakan mu. Aku masih tetap orang yang sama walau tubuhku berbeda. Kami satu jiwa Kak.. maafkan aku..'' lirihnya dengan tangan bergetar sembari memegangi dadanya yang begitu sesak.
''Dokter Cinta??'' panggil salah seorang perawat.
''Hah? I-iya!'' sahutnya dengan segera menyeka air mata yang tidak mau berhenti untuk menetes. ''Hehehe.. maaf Sus! Saya sedang sedih aja. Ck. gini ya rasanya terluka karena orang yang kita cintai? Jangan kan tidak berbicara melihat nya saja hatiku terluka? Terluka akibat perbuatan ku sendiri!'' ketusnya masih dengan menyeka air matanya.
Suster yang bernama Diana itu menghela nafasnya. ''Jikalau dokter ingin menghindari dokter Arfan, hanya ada satu jalan keluarnya!''
Cinta menetap suster Diana dengan serius. ''Apa itu?? Jika memang bisa, pasti akan aku lakukan!'' sahut Cinta mantap
Suster Diana tersenyum, ''Menikahlah dengan orang yang anda cintai. Paksa dirinya atau kedua orang tuanya untuk menikahkan kalian berdua. Katakan kalau sampai ia tidak mau menikahkan Anda dengannya, Anda lebih baik menjadi perawan tua seumur hidup jika tidak menikah dengan nya!''
Deg!
Cinta melototkan matanya. ''Astaghfirullahal'adhimm.. Suster! Kok gitu sih?! Aku nggak mu loh.. jadi perawan tua? Enak aja aku di doain seperti itu!'' ketus Cinta tidak suka.
Suster Diana terkekeh, ''Bukan mendoakan dokter Cinta yang cantiiiikk... saya itu sedang memberikan saran untuk Anda. Katakan itu padanya jika kekasih Anda itu menolak untuk menikahi Anda. Sesekali ambil jalan pintas tetapi tidak merugikan orang lain, Dokter! Coba anda pikirkan! Bagaimana kalau seandainya dokter Arfan melamar Anda dan orang tua Anda menerima lamaran pemuda itu. Apakah Anda bisa menolak keinginan orang tua Anda Dokter??''
Cinta termenung.
__ADS_1
''Oke, kalau mereka menolak. Itu keberuntungan untuk Anda Dokter. Tetapi kalau seandainya mereka setuju bagaimana? Apa Anda sanggup menjalani pernikahan terpaksa tanpa adanya cinta dengan pemuda yang tidak Anda inginkan sama sekali di dalam hidup Anda??''
Cinta menoleh ke arahnya. ''Masalahnya.. bukan saya yang tidak mau Suster! Tetapi calon saya ini! Hatinya masih gamang. Apa gunanya saya memaksa dirinya kalau dirinya tidak ingin menikah dengan saya? Yang ada nanti bukannya bahagia karena memaksakan kehendak, yang ada malah tersakiti setiap harinya karena ucapan atau pun perbuatannya! Nggak ah! Saya nggak mau gitu! Lebih baik menjadi perawan tua seumur hidup daripada menikah tetapi tersiksa lahir dan batin ketika sudah menikah dengan nya! Menikah itu atas dasar suka sama suka. Benar, ada juga yang saling mencintai setelah menikah. Ada. Tetapi semua itu berbeda dengan saya. Sedari kami kecil sudah tumbuh dan hidup bersama. Lagipun di kehidupan masa lalu saya pernah menjadi istrinya dan melahirkan bayi kembar karena kesalahan saya sendiri. Ya.. saya nggak bisa dong bersikap sama seperti dulu? Bukankah pengalaman masa lalu itu harus menjadi pedoman di masa depan??''
Deg!
Deg!
Seseorang dibalik itu tertegun mendengar ucapan Cinta. Tangan kekar yang ingin mengetuk pintu terhenti seketika karena mendengar ucapan Cinta.
Suster Diana kebingungan mendengar ucapan Cinta. ''Bukannya Dokter Cinta masih perawan tingting ya? Kapan Anda melahirkan dan menikah?? Selama saya menjadi asisten Anda, belum pernah saya melihat suami Anda dan juga kedua anak yang Anda bilang kembar tadi? Maksudnya apa nih Dokter?? Bingung saya!'' ucapnya membuat Cinta tertawa.
Deg, deg, deg..
Degup kedua jantung itu bertalu-talu. Apalagi seseorang di depan pintu ruangan Cinta. ''Ini dia suami saya di masa lalu. Lihat lah. Tampan bukan??'' kata Cinta pada suster Diana sbari menunjukkan foto Rayyan di ponsel miliknya.
Deg!
''I-ini... bu-bukannya... lelaki yang tadi bertemu dengan Anda bersama dokter Arfan kan ya?''
Deg!
__ADS_1
Lagi, seseorang dibalik pintu yang tertutup sedikit itu mematung. Cinta tersenyum, ''Benar! Dia suami masa lalu saya!''
Deg!
Suster Diana bertambah terkejut, ''Ta-tapi .. bagaimana ceritanya Anda bisa menikah dengannya sedang Anda sendiri masih gadis hingga saat ini? Atau.. jangan-jangan Anda ini janda Dokter Cinta?!'' Seru Suster Diana bertambah terkejut.
Cinta tertawa. Suara tawa yang selalu Rayyan dengar ketika ia berhasil menggoda Cinta dulunya.
Seutas senyum tipis terbit di bibir tipisnya. ''Baik, jika itu yang kamu inginkan! Akan Abang penuhi. Abang akan datang kepada Mami dan Papi! Tunggu kejutan Abang untukmu satu bulan dari sekarang! Tetapi apa yang kamu katakan tadi itu maksudnya apa? Pernah menikah? Denganku? Kapan? Dan lagi.. anak kembar??''
Deg!
Rayyan tersentak kala mengingat seseorang. ''Zahra??''
Cinta yang sedang tertawa pun tiba-tiba terdiam kala mendengar suara seseorang memanggilnya. ''Iya! Ini aku! Kakak lupa dengan ku??''
Deg!
Deg!
Rayyan mematung. Begitupun dengan Cinta.
__ADS_1