
''Jawab Bang!''
Deg!
Rayyan memejamkan kedua matanya saat mendengar suara tegas Mami Alisa. Ia menghela nafasnya. ''Abang nggak tau Mami.. Abang nggak tau..'' lirih Rayyan dengan suara begitu lemah.
Papi Gilang menghela nafasnya. ''Papi nggak ngerti sama ucapan Cinta tadi. Apa maksudnya itu?? Mana ada di zaman modern seperti sekarang ini ada yang namanya titisan?? Itu nggak mungkin ah!'' kilah Papi Gilang sambil terkekeh kecil.
''Katakan Bang? Apakah kamu memang sudah merencanakan hal ini bersama Cinta? Kenapa Mami harus tau dari orang lain tapi bukan dari dirimu??''
__ADS_1
''Abang nggak tau Mami. Abang nggak ngomong apa-apa sama Cinta tentang hal ini. Tadi saat kami berdua duduk diruang tivi, Papi Riandra hubungin Cinta untuk memintanya pulang kerumah mereka. Tidak baik terlalu lama disini. Bisa jadi fitnah katanya. Papi Riandra juga bilang tadi, kalau kalian berdua harus kesana untuk bersilaturahmi dan menentukan acar pernikahan Abang sama Cinta. Abang kaget, tapi tidak bisa membantah keinginan Papi Riandra yang selama ini begitu baik terhadap Abang. Kalau bukan karena Papi Riandra dulunya, mungkin saat ini perusahaan kita tidak maju Mi.. maafkan Abang jika membuat Mami merasa kecewa.. untuk Masalah pernikahan, Abang belum memikirkan nya. Hati Abang masih gamang Mi. Belum bisa memutuskan untuk bisa menerima Cinta sebagai pengganti Zahra. Tapi Abang tidak bisa melawan dan melarang keinginan Papi Riandra yang sudah berjasa di dalam hidup Abang, Mi..''
Mami Alisa tertegun begitu juga dengan Papi Gilang. Kedua paruh baya itu menatap sendu pada putra sulung Papi Gilang itu. ''Abang hanya bisa mengikuti jalannya takdir seperti apa. Jikalau memang Abang berjodoh dengan Cinta, berarti Cinta lah pengganti Zahra. Tapi jikalau tidak, maka Cinta bukanlah jodoh Abang. Abang hanya bisa pasrah Mi.. Abang tidak bisa melawan takdir jika memang ini sudah ditakdirkan .. walau jauh di dalam hati Abang, Abang belum bisa melupakan Zahra. Akan tetapi, Cinta begitu mirip dengan nya. Bahkan sangat mirip dalam segi hal apapun.''
''Kadang Abang berpikir, Cinta itu memang lah titisan Zahra untuk Abang. Ia hadir kembali ke dunia ini untuk Abang. Sekali lagi Abang memikirkan itu. Tapi hati ini menolak untuk menerima nya. Cinta itu memang sedari kecil memang sudah mirip dengan Zahra. Makanya Abang hanya bisa dekat dengan dua orang gadis saja. Yang pertama Zahra dan kedua Cinta. Bersama Cinta Abang bisa merasa kan jika Zahra pun hadir disana.''
''Abang tidak mungkin salah mengenal istri Abang sendiri. Walaupun dulu Abang tidak pernah menyentuh sejengkal pun tubuh Zahra, tapi semua yang ada pada tubuh Cinta itu memanglah Zahra, Mi. Apa itu mungkin? Apakah mungkin kalau Zahra memiliki titisan di masa depan?? Kenapa Abang merasa kan kalau Cinta itu Zahra? Mereka ini memiliki jiwa yang sama hanya tubuh yang berbeda. Dan juga Cinta kan sepupu Abang sendiri? Putri dari Mami Zahra dan Papa Azlan??''
Deg!
__ADS_1
Deg!
Wajah tua itu begitu terkejut dengan ucapan Rayyan. ''Cinta tadi bilang seperti itu Mi. Apa mungkin bisa terulang lagi pada kami berdua? Pernikahan saudara sepupu? Kami kan bukan mahram ? Jika menurut agama??''
Papi Gilang melirik Mami Alisa, begitupun sebaliknya. ''Iya sih. Kalian sah sah saja kalau Menikah. Yang menjadi pertanyaan Papi. Kenapa Cinta berkata jika dia merupakan titisan Zahra? Apa itu mungkin??''
''Entahlah Pi. Abang pun tidak tau. Yang jelas, Cinta mengatakan hal seperti itu. Dan juga Cinta mengatakan jika ia kembali untuk menyempurnakan cinta kita yang dulu tertunda karena dirinya ternoda. Ia kembali dalam wujud yang baru tapi jiwa yang sama.''
Deg!
__ADS_1
''Apa?!'' Seru Mami Alisa begitu terkejut.
''Iya Mi. Cinta ngomong kayak gitu sama Abang. Belum lagi kalau cinta juga mengatakan, kalau dirinya merupakan seseorang dimasa depan yang memang dikirimkan untuk Abang dan si kembar. Abang masih belum mengerti Mi. Apa itu mungkin Papi??'' tanya Rayyan pada Papi Gilang yang saat ini tertegun karena ucapan Rayyan baru saja.