
Sepasang pengantin baru itu kini sudah berada di Pekanbaru. Mereka baru saja tiba dihotel Bhaskara. Disana sudah banyak tamu undangan yang hadir untuk mengikuti acar seminar itu.
Rayyan dan Cinta segera membersihkan diri dan bersiap untuk mengikuti seminar itu. Acara telah dimulai tanpa menunggu mereka.
Karena waktu yang ditentukan sudah masuk. Mereka berdua akan menyusul. Cukup dua puluh menit saja keduanya bersiap.
Rayyan memakai baju kemeja berwarna biru dan celana jeans berwarna biru juga. Sepatu kat putih yang ia kenakan sangat serasi dengan pakaian yang ia kenakan saat ini.
Cinta sampai pangling melihatnya. Ia melengos ke arah lain saat Rayyan menatapnya dengan bibir menyunggingkan senyum manis.
Cinta pun sangat cantik saat ini. Ia juga menggenakan gamis biru muda senada dengan hijabnya.
Hiasannya pun tidak terlalu mencolok. Ia hanya menyapu tipis-tipis saja bedak ke wajahnya karena wajahnya itu sudah putih dan bersih dari jerawat.
Bibir pink alami hanya dioleskan dengan lipstik berwarna nude.
"Sangat cantik dan natural!" celutuk Rayyan sembari mengecup singkat bibir Cinta yang membuat sang empu melotot kesal padanya.
Setelahnya, ia tersipu malu. Rayyan tertawa. Keduanya keluar dari hotel dengan bergandengan tangan.
Cinta hanya membawa dompet kecil berisi ponsel dan juga uang cash serta kartu pemberian Rayyan seminggu yang lalu yang merupakan nafkah pertama darinya.
Keduanya berjalan sambil berbincang ringan hingga menuju aula hotel. Saat mereka tiba, moderator sedang membicarakan keduanya.
Suara pun menjadi riuh saat Rayyan dan Cinta masuk ke dalam ruangan itu. Rayyan mendekati manager hotel dan juga tangan kanan sang papi. Yaitu Om Andi dan Tante Ema yang ternyata sudah hadir disana.
Cinta pun demikian. Ia menyapa semua rekan dokter termasuk salah satu dokter muda seusia dengannya yang juga menjabat sebagai kepala rumah sakit di Pekanbaru saat ini.
Cinta hanya menangkupkan kedua tangannya. Setelahnya ia kembali berbalik dan ingin duduk disamping Rayyan.
Deg!
__ADS_1
Deg!
Jantung Cinta berdegup tidak beraturan saat melihat Rayyan kini sednag duduk bersama seorang gadis yang tidak ia kenal. Keduanya berbincang akrab dan sesekali terkekeh.
Cinta bisa melihat dari wajah gadis muda sebaya dirinya itu kalau ia sangat tertarik pada Rayyan, suaminya. Yang membuat tangan Cinta mengepal dengan erat.
Wajahnya pun mendadak dingin dan datar. Sang moderator yang terus melihat Cinta, menjadi takut untuk menegurnya.
"Aduh! Itu Nyonya Bos, kenapa begitu ya wajahnya? Serem amat sih? Kasih tahu nggak ya? Kalua aku panggil, yang ada ntar aku dimarahin lagi? Lihat aja tuh wajahnya? Hii.." ucap sang moderator bergumamam sendiri sambil sesekali melihat interaksi Bos dan juga istri Bos nya itu.
Cinta terus menatap Rayyan dengan wajah datarnya. Sedang yang ditatap? Malah cuek. Ia sibuk berbicara dengan gadis disampingnya itu. Sesekali terdengar suara kekehan dari bibir keduanya.
Sang moderator sudah dua kali mendapat teguran. Jika saat ini Rayyan dan Cinta yang harus berbicara. Cinta yang paham, segera bernajak menuju moderator yang berdiri tepat disamping gadis itu.
"Mari Dokter! Waktu dan tempat kami persilahkan!" ucap sang moderator menatap Cinta takut-takut.
Rayyan yang sibuk berbicara kini mengalihkan tatapannya pada Cinta yang kini berjalan melewati dirinya dengan wajah datarnya.
Sangat dingin yang membuat Rayyan tersentak akan hal itu. Tak ada senyum diwajahnya saat ia masuk tadi berdua dengan Rayyan.
"Baik, terimakasih karena sudah menghadiri acara seminar ini. Mungkin saya saja yang akan berbicara. Sedang pemilik hotel ini sibuk bersuka ria dengan yang lain!"
Deg!
Deg!
Sindiran Cinta telak mengenai ulu hati Rayyan. Mirip papi Gilang itu berdegup tidak beraturan. ia terus menatap lekat pada Cinta yang kini tidak sedikit pun menoleh padanya.
Sementara gadis yang duduk disamping Rayyan menyunggingkan senyum sinisnya untuk Cinta karena ia merasa sudah berhasil berbicara dengan pemilik hotel tempat dimana ia bekerja.
"Kita mulai acara seminar ini. Saya mewakili Direktur kita untuk memulai acara ini. Silahkan bagi kalian yang ingin berbicara!" Kata Cinta pada mereka semua para tamu undangan yang mengikuti seminar itu.
__ADS_1
Sepanjang acara seminar itu berlangsung, tidak sedikitpun Cinta menoleh pada Rayyan yang kini juga berwajah datar dihadapan semua orang.
Wajah yang tadi tersenyum tampan mendadak datar seketika ketika menyadari jika Cinta kini tidak ingin melihatnya sedikitpun.
Sang gadis disampingnya berusaha membuat Rayyan berbicara lagi padanya. Tapi sayang. Rayyan tidak menggubrisnya. Mata elang nan sipit itu fokus menatap pada satu wanita. Yaitu sang istri. Cinta Azlan Dharmawan.
Acara seminar itu berlangsung dengan baik. Banyak visi dan misi yang mereka sampaikan. Dan juga perkembangan tentang rumah sakit yang akan mereka resmikan sebentar lagi.
Sepanjang acara berlangsung itupun Rayyan tidak mengalihkan tatapannya pada Cinta. Bahkan ketika Rayyan berbicara, mata itu fokus pada Cinta saja.
Om Andi dan tante Ema yang paham, hanya bisa terkekeh kecil melihat tingkah putra dan menantu sahabat sekaligus bosnya itu.
Keduanya cekikikan saat melihat wajah Cinta melengos ketika Rayyan memanggilnya untuk duduk disampingnya.
Sampai acara itu selesai pun, Cinta tidak bersama Rayyan. Dan hal itu menjadi keuntungan untuk seseorang yang begitu tertarik dengan Rayyan.
Gadis itu merupakan sekretaris baru dihotel Bhaskara. Hal yang tidak ia tahu, kalau Rayyan baru saja menikah. Dan dia juga tidak tahu bahwa Cinta itu adalah istri Direkturnya yang merupakan bos nya.
Yang ia tahu, jika Rayyan masihlah lajang. Makanya ia sengaja mendekati Rayyan agar sekiranya posisi sekretaris berubah menjadi posisi istri. Begitulah pemikiran gadis itu.
Cinta yang tahu akan hal itu hanya bisa berdecih saja. Rayyan berulang kali memanggilnya. Tetap saja, Cinta tidak peduli. Malah tatapan dingin dan datarnya kini ia berikan kepada sang suami yang membuat Rayyan tidak tahu harus berbuat apalagi.
Selesai dengan acara seminar itu, mereka pun mengadakan makan bersama direstoran hotel milik Bhaskara.
Mereka semua menuju ke restoran itu. Cinta saat ini bersama tante Ema. Sedang Rayyan bersama Om Andi. Dan disamping Rayyan saat ini ada sang sekretaris yang sedang berusaha mengambil hati bos nya itu.
Cinta sangat kesal melihat itu. Bahkan ketika duduk dikursi restoran pun, sekretaris baru itu tidak mau jauh dari Rayyan yang membuat Cinta semakin marah padanya.
Cinta memilih duduk sendiri disamping jendela dengan pemandangan kota Pekanbaru saat malam harinya.
Rayyan ingin duduk disana, tetapi sektertaris barunya itu menahannya.
__ADS_1
"Maaf Tuan Rayyan. Sebaiknya anda disini saja dengan kami. Bergabunglah dengan kami. Untuk apa duduk ditempat lain yang tidak penting!"
Deg!