
Papa Azlan mengangguk dan tersenyum. "Ya, tak apa." jawabnya yang tidak didengar lagi oleh Rayyan yang kini sudah berlalu menuju ke dapur untuk menyusul Cinta.
Tiba di dapur, ia segera memeluk Cinta dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Cinta.
Cinta terdiam. "Maaf, sayang. Bukan maksud hati ingin mengabaikanmu. Bukan juga karena salahmu. Abang hanya masih teringat Oma, itu saja," lirih Rayyan semakin memeluk erat tubuh cinta yang semakin berisi di usia kehamilannya ini menginjak delapan bulan lebih dua minggu.
Menurut perkiraan, Cinta akan melahirkan dua minggu lagi. Cinta yang tadinya merasa sedih, kini tersenyum kembali.
Ia membalas pelukan Rayyan dan berbalik. Cinta tersenyum melihat mata Rayyan yang kini sudah berkaca-kaca melihatnya.
Cinta menyeka air mata yang kinimengalir di pipi halus suaminya. Cinta berjinjit sedikit dan mengecup kedua mata Rayyan dan keningnya yang membuat Rayyan semakin terisak di pelukan Cinta.
Cinta tertawa saat merasakan pelukan keduanya terhalang perutnya yang lumayan besar karena membawa dua bayi kembar didalam rahimnya.
Cinta tersenyum. "Sudah, jangan menangis. Malu ih, sama anak? Masa iya, papinya yang lebih cengeng dibandingkan dengan anaknya?" ledek Cinta pada Rayyan yang kini terkekeh walau masih terisak.
__ADS_1
Papa Azlan dan Azka terkekeh kecil melihat Cinta sudah berhasil membuat suaminya itu tertawa lagi. Tadi, sempat sedih karena melihat suaminya itu yang mengabaikan ucapannya.
Cinta tidak marah, ia hanya merasa kecewa saja karena diabaikan oleh Rayyan. Tidak lebih. Rayyan mengurai pelukannya dan mengecup kening Cinta begitu lama.
"Mari makan? Aku udah lapar banget, loh," ucap Cinta yang diangguki oleh Rayyan.
"Papa sama Abang, ayo ikut serta!" serunya pada dua orang lelaki beda usia tetapi begitu mirip itu.
Sambil makan bersama, Cinta sesekali melirik Abangnya yang sering termenung dan diam saja saat papa Azlan dan Rayyan saling berbicara.
Ia berniat akan menanyankannya secara langsung padanya setelah makan. Lebih cepat, lebih baik. Pikirnya.
Lima belas menit berlalu. Kini Cinta dan Azka sedang duduk di balkon atas yang berhadapan langsung dengan jalanan komplek rumah mereka.
Cinta terus bertanya, hingga mau tak mau Azka menjawabnya sambil menangis dan begitu terpukul. Benar saja dugaan Cinta. Bahwa apa yang ia pikirkan tadi benar adanya.
__ADS_1
Rayyan yang baru saja siap mandi dan sholat, segera bergabung dengan Cinta dan Azka. Rayyan begitu terkejut saat melihat abang iparnya itu menangis tersedu saat menceritakan nasib percintaanya tujuh bulan ini kandas karena wanita itu berselingkuh hingga tidur bersama sebelum menikah. Azka menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya.
"Rasanya begitu sakit saat melihat langsung, Dek. Sakit sekali!" katanya sembari memukul-mukul dadanya yang begitu sesak itu.
Cinta segera memeluk Abang kandungnya. Azka tersedu di pelukan Cinta. Rayyan tertegun saat mendengar ucapan Azka baru saja.
Benar, sangat sakit ketika melihat dengan mata kepala sendiri. Jika orang yang kita cintai ternyata bermain api di belakang kita. Tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata rasa sakitnya.
Cinta begitu memahami rasa sakit yang Azka rasakan. Walau ia tidak melihatnya, tetap saja terasa sakit.
Mendengar pengaduan Azka padanya dan juga rasa sakit dihatinya ia luapkan dengan cara menangis kuat di pelukan Cinta.
Andai itu Rayyan yang melakukannya, pastilah Cinta pun akan merasakan sakit yang sama. Rayyan pun berpikir demikian.
Ia berharap semoga Azka menemukan penggantinya yang lebih baik lagi.
__ADS_1