Duka ( Duda Tapi Perjaka)

Duka ( Duda Tapi Perjaka)
Seorang Duda


__ADS_3

Cinta tersenyum lembut pada semua orang. Bibir itu terus saja menyunggingkan senyum tipis. Sedangkan Rayyan menatap Cinta entah seperti apa. Cuma Tuhan lah yang tau isi hati kedua nya.


''Tentu nak. Apa salahnya kalau kamu bisa kecantol Abang sepupu kamu sendiri?? Secara kan Abang sepupu kamu itu Duda??'' Goda Papa Rian pada Cinta.


Rayyan melengos. Ia sangat malas kalau ada orang lain yang menyebut kan status nya yang seorang duda beranak dua.


Dimas tertawa kala melihat wajah kesal Rayyan. ''Kamu kenapa Bang? Nggak suka sama omongan Papa?''


Rayyan tetap memilih melengos. Dimas tertawa lagi. ''Hahaha.. jangan ngambek ah! Malu sama anak! Lihat tuh kedua anak kita menatap kamu dengan bingung Bang!''


Rayyan menoleh pada kedua anak nya. Ia tersenyum lembut pada kedua anaknya itu.


Deg, deg, deg...


''Papi??'' panggil Zarra


''Ya sayang? Adek mau apa?'' tanya Rayyan sembari mendekati kedua anaknya itu.


''Boleh nggak kami ikut Kami Cinta??''


Deg!


''Ikut Mami Cinta??'' ulang Rayyan sambil menatap Cinta yang saat ini sedang memangku Raka.


Putra kecilnya itu semenjak bertemu dengan Cinta begitu lengket dengan nya. Kezia tertawa kala melihat Raka mendusel-duselkan hidungnya di dada Cinta yang tertutup hijab panjangnya.


''Abang ngapain kaauk gitu sama Tante Cinta??''


''Bukan Tante, Mama? Mami Cinta! Mami kita! Mami Zahra!!''


Deg!


Deg!


Semua yang ada disana terkejut mendengar ucapan Raka si putra sulung Rayyan dan Dimas. Cinta tersenyum tipis. Sangat tipis. Tak ada yang tau kalau saat ini Cinta sedang tersenyum terkecuali satu orang.


''Kak Rayyan..''


''Zahra??''


Deg!


Mata keduanya terkunci. Rayyan menatap terkejut pada cinta. ''Tatapan mata itu...'' batin Rayyan.


''Bang!''


''Eh apa?!'' sahut Rayyan saking terkejutnya.

__ADS_1


Mata yang tadinya terkunci kini sudah berubah menjadi biasa lagi. Rayyan menoleh pada semua orang yang kini sedang melihat nya dengan tatapan bingung.


''Kamu ngomong apa barusan Bang?? Zahra?? Dimana?? Disini??''


Deg!


Deg!


Lagi dan lagi Rayyan terkejut. ''Seingatku tadi.. aku mengingat Zahra di dalam hati dan pikiran ku? Kenapa mereka bisa tau? Apakah mereka semua mau tau isi hati dan pikiran ku?? Apakah mereka... cenayang?!''' batin Rayyan begitu terkejut melihat semua orang.


''Cenayang?? Kami gitu?! Mana ada Bang!''


Deg!


Rayyan melototkan matanya. ''Apa?! Kenapa kamu bisa tau?!'' seru Rayyan dengan wajah terkejut nya.


Dimas dan Kezia tertawa. ''Kamu sendiri yang bilang bang Rayyan! Gimana sih?'' ucap kedua masih dengan tertawa nya.


Rayyan terkejut lagi. ''Aku??'' tunjuknya pada diri sendiri.


''Ya, kamu Bang! Kamu lupa atau pikun sih? Setau aku ya, kamu itu masih sangat muda loh.. wajah kamu itu masih tampan! Umur kamu aja masih dua puluh empat tahun loh.. masa iya udah pikun aja sih??'' jawab Dimas dengan tertawa.


Rayyan kebingungan. Cinta tergelak keras hingga kepalanya mendongak keatas.


Deg, deg, deg...


Lagi, jantung itu berdegup kencang Kala mendengar suara tertawa keras dari Cinta.


''Apa Kak? Aku disini!'' jawab Zahra dengan tersenyum manis pada Rayyan.


Rayyan terkejut. Ia melihat kesana kemari. ''Kamu kenapa lagi Abaaaangg...'' tanya Dimas saat melihat wajah Rayyan begitu pucat saat ini.


Rayyan melihat kesan kemari. ''Ke-kenapa aku merasa jika Zahra ada di sini?! A-aku mendengar suara nya! Apa kalian mendengarkan nya? Sama seperti ku??'' tanya Rayyan pada semua orang yang membuat mereka semua keheranan melihat tingkah Rayyan yang berbeda dari biasanya.


Cinta menatap datar padanya. Ia bangkit dan mendekati Rayyan masih dengan menggendong Raka. ''Bang!''


''Ya Zahra!''


Deg!


Lagi semua orang terkejut dengan jawaban Rayyan untuk Cinta. Bukannya marah, cinta makan terkekeh. ''Aku Cinta Abang! Bukan Kak Zahra! Ayo kita kerumah mu. Anak-anak ingin aku menginap dirumah mu? Boleh kan??'' tanya Cinta sambil berdiri menjulang dihadapan Rayyan.


Rayyan menatap Cinta dengan tatapan yang entah seperti apa. ''Bang??'' ulang Cinta lagi.


Rayyan terkejut. ''Eh iya! Boleh, boleh. Menginap pun boleh. Mami sama Papi kan ada dirumah? Tidak akan menimbulkan fitnah nantinya! Ayo!'' ajak Rayyan sedikit salah tingkah kakak di tatap sedalam itu oleh semua orang yang ada disana.


Mami Alisa memegang erat lengan Papi Gilang. Papi Gilang mengedipkan matanya. ''Pi...'' bisik Mami Alisa.

__ADS_1


Papi Gilang mengangguk. ''Sudah.. tenang sayang. Putri Akita pasti baik-baik saja. Ia tidak akan kbali sepeti dulu lagi, hem?'' ucap Papi Gilang menenangkan hati Mami Alisa.


Wanita paruh baya itu menghela nafasnya. ''Baiklah...'' ucapnya pasrah.


Mereka berdua berpamitan pada Papa Rian untuk pulang. Waktu pun sudah sore. Waktu jenguk pun sudah selesai. Malam ini Dimas dan Kezia yang menunggui Papa Rian. Karena besok pagi, mereka akan pulang bersama kerumah mereka.


Sedangkan di rumah Rayyan saat ini kedua anaknya sedang mandi yang dibantu oleh Cinta.


Kedua anak itu begitu senang kala sang Mami yang mereka anggap itu kini sedang mengurus mereka berdua. ''Awas ih! Abang dulu Adek!'' kata di tampan Raka.


''Ndak mau! Adek dulu ih! Abang awas! Mamiiii...'' rengek di kecil Zarra.


Cinta tertawa. ''Jangan berebut ih! Mami bajakan mandiin kalian berdua, tapi kalian harus tetap tenang dan jangan buat rusuh! Okey??'' suara lembut nan tegas itu mengejutkan Rayyan yang baru saja masuk ke dalam kamar kedua anak kembar nya yang merupakan kamarnya.


Ia duduk di sofa kamarnya dengan menyenderkan kepalanya di sofa. Matanya terpejam mendengar kan suara gaduh di sebalik pintu kamar mandi yang tertutup itu.


''Abangggg... awas ih! Gantian loh.. giliran adek, Abang!'' sungut Zarra pada Raka.


Cinta tertawa lagi. ''Abang udah siap, ayo keluar duluan ya? Mami siapin adek dulu ini. Ayo! Kayaknya Papi ada di luar??''


Si tampan Raka menatap sang Mami dengan mata bulatnya. ''Bagaimana Mami tau kalau Papi ada di luar? Sedang kita di dalam kamar mandi loh..''


Cinta tertawa.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka. ''Tanpa melihat nya pun Kami tau kalau Papi kalian ada diluar sana!''


''Bagaimana caranya??'' tanya si polos Raka


Cinta tersenyum, ''Dengan mata hati! Hati kami saling terhubung satu sama lain! Kalau Papi kamu merasakan sakit, maka Mami pun ikut merasakan nya!''


Deg!


Deg!


Rayyan membuka matanya. Ia menoleh pada pintu kamar mandi dimana Cinta yang saat ini sedang berlutut di hadapan Raka, putra kecilnya.


''Iyakah??''


''Ya, suatu saat kamu pasti akan tau apa maksud ucapan Mami, hem?''


''Ya,'' sahut si kecil Raka.


Dengan segera ia keluar dari kamar mandi dan terkejut saat melihat sang Papi sedang melamun dengan menatap ke pintu kamar mandi.


''Papiiiii...''

__ADS_1


Deg!


Deg!


__ADS_2