
Rayyan masih tertegun dengan ucapan Cinta. Darimana Cinta bisa tau ucapan itu. Itu merupakan ucapan Rayyan pada Zahra dulu ketika masih kecil dan ketika sudah remaja.
Rayyan masih menatap Cinta yang saat ini sedang sibuk memasak. Sekilas ingatan masa lalu terbayang di ingatan Rayyan.
''Abang!''
''Hem,'' sahut Rayyan. Cinta cemberut.
Karena tidak mendengar suara Cinta, Rayyan menoleh. Terlihat wajah ayu Cinta cemberut padanya. Rayyan terkekeh. ''Kenapa, hem?''
''Adek lapar!'' ketus Cinta pada Rayyan masih dengan wajah cemberutnya.
Rayyan tertawa. ''Baiklah.. baiklah.. kamu mau makan apa?'' tanya Rayyan pada Cinta yang saat ini mengekor pada dirinya.
''Terserah Abang aja!'' ketusnya lagi.
Rayyan tertawa lagi. ''Telur dadar aja ya? Abang nggak bisa masak yang lain. Seharusnya itu ya, kamu yang masak buat Abang! Ini enggak! Malah sebaliknya!'' Rayyan tertawa lagi saat mengatakan hal itu.
Cinta semakin cemberut. ''Adek nggak berani Abang! Takut minyaknya menyurat ke tangan Adek! Nih lihat, semua hitam-hitam ini gegara adek disuruh masak sama Mami! Adek nggak bisa Abang!'' ucapnya masih dengan cemberut.
Rayyan menoleh pada lengan cinta yang memang banyak bekas hitam-hitam nya. Rayyan tertawa lagi. Cinta bertambah cemberut.
''Kamu harus belajar masak, agar suatu saat kalau Abang kesini lagi kamu udah bisa masak buat Abang, paham?''
Cinta merengut. ''Adek nggak mau! Takut, minyaknya panas dan sangat sakit kalau krns tangan!'' jawab cinta masih dengan cemberut.
''Berarti kalau gini ceritanya, Abang tidak akan sering-sering datang kesini. Buat apa sering kesini, kalau Abang lapar, Abang harus masak sendiri? Rugi dong? punya adik sepupu yang perempuan tapi nggak bisa maskapai baut Abang nya?''
__ADS_1
Cinta mendongak. ''Oke. Adek akan rajin belajar masak tapi Abang harus sering kesini ya? Tiap liburan Abang harus sering kesini! Adek janji. Adek akan belajar masak sama Mami. Nami pun sering bilang, kalau ingin disayang sama seorang lelaki, terlebih dahulu harus bisa masak yang enak. Agar lelaki itu betah tinggal bersama nya. Contohnya Papi Rian sekarang. Walaupun Papi Rian bukan Papi kandung adek, tapi adek udah menganggap nya Papi adek. Karena sedari lahir, yang adek tau cuma Papi Rian. Bukan Papa Azlan...'' lirih Cinta dengan wajah sendunya.
''Nak?? Rayyan!!''
Deg!
''Hah iya, apa Cinta?'' tanya Rayyan pada Cinta.
Cinta yang sedang memasak pun terkejut. Ia menoleh pada Rayyan. ''Abang kenapa? Kok Cinta sih? Mami loh...'' katanya pada Rayyan sambil terkekeh.
Mami Alisa terkekeh begitu pun dengan Papi Gilang. Rayyan terkejut. Ia sadar salah sebut. Rayyan tersenyum kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mami Alisa tertawa. Rayyan mendekati sang Mami dan duduk di sebelahnya. ''Ada apa Mi? Maaf.. tadi Abang melamun.'' Jawab Rayyan dengan sedikit meringis malu.
Papi Gilang terkekeh. ''Kamu itu sedang mikirin apa sih? Hingga hanya Cinta yang disebut? Padahal Mami kamu yang bertanya?'' ucap Papi Gilang masih dengan kekehan kecil di bibirnya.
Cinta yang mendengar nya memutar bola mata malas. ''Ck. Itu jaman nggak enak Abang! Coba Abang ingat, sudah berapa lama kita nggak ketemu??''
''Emm.. mungkin... lima tahun kali ya?'' jawab Rayyan menerka-nerka
Cinta mencebik. ''Itu tau?''
Rayyan terkekeh. ''Iya sih. Udah lama banget ya?''
''Ya iya lah lama. Abang sibuk sama sekolah dan si kembar! Belum lagi aku sibuk bolak balik Medan dan Bandung. Pusing aku tuh di buat Mami sama Papi! Tapi ya gimana?? Mereka kedua orang tua ku kan??''
Rayyan mengangguk setuju. Ia menatap Cinta dengan tatapan yang entah seperti apa. Rayyan menerawang jauh tentang Zahra dan Cinta.
__ADS_1
''Mereka berdua mirip tapi berbeda. Tapi kenapa aku merasakan jika Cinta itu Zahra?? Wajah mirip, tapi apa kelakuan juga sama? Tapi tadi, saat selesai mandi aku merasakan jika harum tubuh Cinta sama persis seperti Zahra? Ini sebenarnya ada apa?? Kenapa aku merasakan hal janggal disini?? Apa mungkin orang yang sudah tiada kembali lagi?? Setau ku tidak! Orang yang sudah mati tidak mungkin bisa kembali lagi! Ada pembatas antara dunia manusia dan alam kubur. Orang yang sudah mati masih disana hingga hari kiamat tiba. Lantas, ini ada apa?? '' batin Rayyan berbisik ria ketika melihat Cinta yang sedang memasak begitu cekatan.
Cinta sudah berbeda. Lima tahun tidak bertemu dengan nya begitu banyak perubahan nya saat ini. Kalau dulu Cinta tidak bisa memasak, kini Cinta sangat cekatan bisa memasak sama seperti Zahra.
Zahra pun sangat pintar dan cekatan dalam memasak. Rayyan menatap Cinta tanpa berkedip dengan kedua tangan saling menggenggam tapi mata itu tidak putus dari menatap Cinta yang saat ini masih menggoreng kerupuk keinginan si kembar.
''Sudah. Ayo dimakan? Sebentar lagi Maghrib loh..'' kata Cinta pada semua nya.
''Aseeekkk.. kerupuk euuyy!!'' celutuk Raka begitu suka dengan kerupuk udang kesukaan nya itu.
Zarra pun ikut-ikutan. ''Terimakasih Mami! Mami yang terbaik! Your the best Mom!'' seru Zarra pada Cinta yang saat ini sedang menatap dalam pada Rayyan.
Rayyan terkekeh, ia pun ikut menoleh pada Cinta. Cinta menunduk. Ia mengambil piring dengan segera dan menyajikannya terlebih dahulu kepada Papi Gilang dan Mami Alisa.
''Hemm... enak bsnget punya anak perempuan lagi, iyakan sayang? Kalau Kinara dirumah, pastilah seperti ini. Tapi sayangnya putri Papi itu sedang bersama suaminya..'' lirih Papi Gilang
Mami Alisa mengelus lengan paruh baya itu. ''Biarkan Kinara bersama Suaminya. Selama ini ia selalu menunggu Ali hingga hingga anaknya sudah berusia lima tahun lebih. Berbeda sedikit dari Rayyan. Kita sempat membujuknya bukan untuk menerima pinangan Adam? Tapi apa yang Kinara katakan?''
''Selama nya ia akan hidup menjanda jika suaminya tidak kembali lagi. Ia yakin, kalau Ali pasti kembali lagi padanya. Dan ya, seperti keyakinannya selama ini. Ali kembali disaat ia hampir saja menerima pinangan Adam karena desakan dari kita. Papi salut padanya. Tapi Papi sangat merasa bersalah padanya. Jika bukan karena Ali, mungkin saat ini Kinara tidak akan pernah mau menerima Papi sebagai Papinya lagi. Kamu ingat dengan kejadian tentang kakak kamu Annisa kan Bang??''
Rayyan mengangguk, ia menghela nafasnya. ''Benar. Adek sempat marah sama Papi gegara Papi mencoba untuk merecoki hubungan bang Tama dan kak Annisa. Abang pun ikut andil di dalamnya. Hah. Adikku itu. Sungguh, ia wanita yang begitu sabar dan tegar namun, hatinya begitu rapuh jika menyangkut suaminya. Kekuatan nya adalah Ali. Sama seperti Abang. Abang pun memilki kekuatan itu dulunya. Tidak lagi dengan sekarang. Semuanya terasa berbeda saat Zahra telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya...''
Deg!
Deg!
💕💕💕💕
__ADS_1
Noh, spoiler untuk Mak Cinta sama Papinya bentar lagi bakalan rilis. Pantengin terus ye?