Duka ( Duda Tapi Perjaka)

Duka ( Duda Tapi Perjaka)
Cinta Pramita Agung Brasmana


__ADS_3

Mereka semua makan dengan lahapnya setelah ada drama yang menguras hati tadi sedikit.


''Mami! Lagi!'' seru Raka pada Cinta


Cinta tersenyum, ia mengambil nasi dan lauk ayam goreng lagi untuk Raka. Kerpuknya pun tidak ketinggalan.


''Ini!''


''Asiiiikkk.. Abang nambah! Biar cepat besar kayak Papi!''


Rayyan tertawa. ''Adek pun! Tambah lagi Mami!!'' seru Zarra juga.


Cinta tertawa. ''Baik, baik tuan putri.. akan Mami ambilkan! Segini! Cukup??''


Zarra mengangguk setuju. ''Asiiiiikkk..'' seru Zarra kesenangan.


Cinta terkekeh-kekeh melihat tingkah si kembar. Rayyan menatap Cinta dengan dalam. Papi Gilang berdehem untuk mengalihkan mata sang Duka dari adik sepupu nya itu.


Rayyan terkekeh kecil. Ia pun kembali makan. Sesekali Keluarga kecil itu tertawa bersama karena tingkah lucu Raka dan Zarra yang selalu menjadi pengobat rindu untuk Rayyan yang sangat merindukan sang istri.


Maka dari itu ketika melihat Cinta, ia sepeti melihat Zahra ada disana. Entah cuma perasaannya atau bagaimana yang jelas itulah yang dirasakan Rayyan saat ini.


Selesai mereka makan, adzan pun berkumandang. Ketiga orang itu melaksanakan sholat berjamaah di musholla rumah Rayyan. Si kembar pun ikut serta. Tapi tidak dengan Cinta, saat ini gadis cantik mirip Zahra itu sedang kebanjiran seperti kata Bang Lana dan Ali dulunya. 😄


''Assalamu'alaikum Pi? Ada apa? Kakak lagi di rumah bang Rayyan loh..'' terdengar suara Cinta yang sedang berbicara di ruang tivi.


Ia duduk sambil berselancar di bawah sofa ruang tivi dimana ada ambak beludru milik si kembar.


''Waalaikum salam Kak. Kamu kok nggak pulang sih nak? Nggak baik loh.. nanti kalian terkena fitnah! Ingat, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!'' terdengar suara seseorang dibalik ponsel Cinta.


Cinta berdecak sebal. ''Dirimsh ini tuh nggak kakak aja ya, Pi! Ada Papi sama Mami nya bang Rayyan! Papi itu lupa atau pikun sih?!'' sungut Cinta tidak terima.

__ADS_1


''Heh! Bocah edan koe! Papinya masih muda gini di bilang gendeng! Dasar kamu!'' ketus suara di seberang sana.


''Buahahaha...'' terdengar suara tertawa sang Mami di sana


Cinta terkikik geli. ''Diam kamu Sweety! Mau kamu Papi hukum?!'' lagi, suara itu terdengar yang membuat Cinta tertawa.


Suara tertawa Cinta membuat ke empat orang yang baru saja selesai sholat itu saling pandang. Rayyan terkekeh mendengar suara Cinta.


Ia bangkit dan berjalan duluan menuju ruang tivi. Di ikuti oleh si kembar dan Kedua paruh baya yang berjalan saling bersisian.


''Hah!'' suara Rayyan yang terduduk di sebelah Cinta membuat Cinta menoleh dan tersenyum.


''Siapa??'' tanya Rayyan sembari membetulkan kain sarung di pinggang nya sambil terduduk.


''Papi, Bang. Abang kan tau, kalau si tua posesif itu selalu begini setiap kali aku pergi??'' Cinta terkikik geli karena mendengar suara ribut dan tertawa di seberang sana.


Rayyan terkekeh ketika mendengar suara Papi Riandra sedang bertengkar dengan Mami Zahra. ''Ubah panggilan ke video call. Biar Abang yang ngomong sama si tampan Riandra itu. Dasar pria tua posesif!''


''Ya Kak. Haha.. ih, Papi! Kamu itu ya? Ini anaknya lagi ngomong loh.. ishhh...'' gerutu Mami Zahra di seberang sana.


Rayyan terkekeh kala melihat Papi Riandra sedang marah-marah pada ketiga anaknya yang lain. ''Sayangku.. Papi!!! Ini anak kamu nih!'' seru Mami Zahra


Rayyan tertawa. Ia semakin mendekat kan dirinya pada Cinta. Cinta yang sedang memegang ponsel pun Salah tingkah. Pipi putih itu mendadak panas.


Semua itu terlihat oleh Papi Riandra dari seberang sana. ''Loh, loh, ada apa dengan mu Cinta?? Kenapa pipi kamu merona seperti itu? Eh, masyaallah! Pangeran tampan euuyy!!'' celutuk Papi Riandra pada Rayyan yang saat ini sedang berdekatan dengan Cinta.


Rayyan semakin merapatkan dirinya pada Cinta. Hingga kini tidak ada jarak diantara mereka berdua. ''Assalamu'alaikum Pi?? Sehat??''


''Waalaikum salam nak, Alhamdulillah si tua Bangka bau tanah ini sehat. Begitupun dengan istri cantik Papi ini. Ketiga adikmu juga baik. Alhamdulillah.. eh ngomong-ngomong. Kapan kamu kesini? Satu kota tapi jarang ke tempat Papi! Calon mantu itu harus sering kesini. Jengukin Papi minimal. Ini enggak, kamu sering nya sibuuuukkk... mulu! nggak ada waktu buat kami si tua Bangka bau kuburan ini!''


Buhahahaha...

__ADS_1


Suara tawa Rayyan dan ketiga adik cinta lainnya menggelegar di dalam ruangan itu. ''Papi nggak ngomong sama kalian ya! Ingat itu!'' ketus Papi Riandra lagi.


Rayyan masih saja tertawa. Ia sangat suka melihat paruh baya itu memarahi ketiga anaknya. Sama seperti Papi Gilang kalau sedang marah-marah.


''Sudah Papi.. insyaallah kalau tidak ada halangan dalam pekerjaan, Minggu ini Abang kesana ya? Bang Azriel mana? Kok udah jarang ya datang ke tempat kerja Abang? Apakah masih bertugas di Padang sampai saat ini Pi??'' tanya Rayyan pada Papi Riandra. Yang seharusnya di panggil Bude oleh Rayyan.


Mami Cinta merupakan kakak kandung beda ibu dengan Mama Vita. Tapi karena Rayyan sudah dianggap anak sendiri oleh mereka berdua, maka jadilah panggilan mereka tidak pernah berubah sedari Rayyan berumur tujuh tahun hingga saat ini.


Papi Riandra tersenyum saat melihat wajah Rayyan dan Cinta menyatu di dalam ponsel miliknya. ''Bawa kedua orang tuamu kesini nak? Kami sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Abang kamu tidak peduli! Dia sibuk dengan tugas yang Papi berikan! Hadeeeuuhh.. dasar bocah itu! umur udah tua masih juga betah sendiri! Apa jangan-jangan putra kamu itu sudah menikah di luar sana Sweety??''


Plakk..


''Papi ih! Jangan ngomong kayak gitu! Doa kamu itu selalu tidak baik terhadap Azriel. Doa itu ya harus bagus dong Papi!''


''Ck! Kamu itu! Iya, iya! Aku sedang ngomong dengan menantuku! Ray! Papi menunggu kehadiran mu untuk meminang putri Papi! Cinta Pramita Agung Brasmana! Papi menyuruhmu pulang besok pagi. Tunggu sampai calon suami kamu yang merupakan sepupu kamu itu datang kerumah kita untuk menikahkan kalian berdua! Kamu dengar itu Cinta pramita Agung Brasmana??''


Cinta berdecak sebal. ''Papi apaan sih!''


''Papi beneran sayang! Tanya sama seouou kamu itu. Kapan dia akan datang kerumah kita untuk melamar kamu? Papi tunggu kamu Ray! Jangan kecewakan Papi! Papi tunggu! Assalamualaikum!''


''Waalaikum salam..'' sahut Rayyan dan Cinta bersamaan.


Kedua orang itu masih saja Terkekeh. Mereka berdua tidak sadar, jika saat ini sedang duduk saling berdekatan. Duduk dekat dengan hawa tubuh masing-masing begitu terasa hangat.


Cinta ingin bangkit, tapi pinggang nya dirangkul erat oleh Rayyan dari belakang.


Deg, deg, deg..


''Seperti ini aja dulu. Lihatlah si kembar. Mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing..''


''Bagaimana dengan Abang sendiri?? Tidakkah Abang ingin menikah lagi? Apakah Abang masih menginginkan kak Zahra??''

__ADS_1


Rayyan tidak menyahut namun, mata itu terpejam dengan tangan semakin erat memegang pinggang ramping Cinta.


__ADS_2