
Selama di perjalanan, Papa Azlan dan Azka tertegun. Ia termenung memikirkan bagaimana nasib Mami Zahra setelah pergi darinya.
Ia tidak mengusir Mami Zahra. Tetapi mulut tajamnya itu menjatuhkan talak tiga pada istri tercinta nya itu hingga saat ini.
''Maafkan Abang, Dek. Abang salah padamu. Abang sudah mendapat kan hukuman seperti yang kamu katakan saat dulu. Maafkan Abang sayang.. Abang salah.. Abang janji. Kalaupun kita bertemu lagi, tetapi keadaan kita sudah berubah. Tak apa. Abang ikhlas. Karena inilah jalan hidup Abang. Semoga kamu bisa memaafkan Abang, Zahra..'' batin nya dengan mata berkaca-kaca
Tes.
Tes.
Buliran bening akhirnya jatuh juga. Pak Surya diam saja melihat Papa Azlan begitu terluka karena terlalu lama tinggal di hutan itu karena kesalahannya sendiri.
Tiga jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah luas yang disamping nya ada rumah berlantai dua bertuliskan Kediaman Keluarga Bhaskara.
Deg!
Papa Azlan terkejut. Pak Surya tersenyum, ''Tenanglah Tuan Azlan. Rumah baru Anda tepat di sebelah rumah Tuan muda Rayyan. Sesuai dengan permintaan menantu Anda. Tuan muda ingin kalau tuan lebih dekat dengan anak gadis yang selama ini tidak pernah Anda lihat. Tuan muda sengaja membeli rumah itu. Dan ini sertifikatnya. Semua ini atas nama Anda, tuan Azlan!''
''Apa?! Ini sangat berlebihan Tuan! Saya tidak pantas menerima nya!'' serunya dengan suara naik satu oktaf.
Azka meringis mendengar suara sang Papa yang sudah sering ia dengar setiap harinya kala beliau terkejut.
Azka terkekeh, ''Sudah Pa. Terima saja. Lagipun, kalau Aa' juga harus lebih dekat dengan adik Aa'??'' katanya pada Papa Azlan
Beliau terdiam. ''Tapi.. ini sangat berlebihan. Papa tidak bisa menerimanya nak. Lebih baik kita pulang kerumah nenek saja ya?'' ucapnya membujuk Azka.
Azka menggeleng. ''Nggak. Aa' mau disini saja. Aa' mau kenal sama adek Pa.. apakah tidak boleh?'' lirihnya dengan wajah sendu.
Papa Azlan memeluk erat putranya itu. ''Boleh, tentu boleh. Ayo kita turun!'' ucapnya dengan segera ia turun dari mobil dan berdiri di depan gerbang dimana Rayyan sedang tersenyum lembut padanya.
__ADS_1
Rayyan mendekati Papa Azlan. ''Assalamu'alaikum Papa..''
Deg!
Deg!
Azka mematung melihat Rayyan. Lelaki tampan berkulit putih, bibir tipis hidung mancung serta matanya yang sangat sipit itu seperti mata orang cina.
Satu kata untuknya. ''Tampan!'' celutuk Azka hingga mengejutkan Papa Azlan yang kini pun sedang menatap Rayyan tidak berkedip.
Rayyan terkekeh, ia menggamit tangan Papa AzLan dan mencium takzim. Rayyan tersenyum pada Azka. ''Selamat datang di rumah baru kalian saudara ipar! Lebih tepatnya Abang ipar kecil!'' celutuknya hingga membuat Pak Surya tertawa.
Sedangkan Rayyan tergelak melihat wajah Abang ipar kecilnya itu begitu terkejut karena ucapannya.
''Ayo, Mami sama Papi udah nunggu kalian di dalam. Ada juga si kembar! Kedua anakku dengan istriku dulu,'' ujar Rayyan membuat Papa Azlan dan Azka semakin terkejut.
''Kamu sudah menikah nak?'' Rayyan mengangguk.
Rayyan tersenyum sendu. Papa Azlan menatap Rayyan dengan seksama. ''Istri saya sudah meninggal dunia enam tahun yang lalu saat melahirkan kedua anak kembar kami..''
Deg!
Deg!
''Innalillahi wainnailaihi roji'un.. maaf Nak. Papa tidak tau..''
Rayyan tersenyum lembut padanya. ''Tak apa Pa. Ayo, Papi udah nunggu kalian sedari tadi.''
''Ya,'' sahut nya.
__ADS_1
Dengan segera mereka masuk di ikuti Pak Surya dan Azka yang membawa ransel serta satu buah koper miliknya yang masih tersisa.
''Assalamu'alaikum.. Papi.. Mami.. Papa Azlan sudah datang.'' serunya pada kedua orang paruh baya yang kini sedang menyuapi si kembar.
Papi Gilang dan Mami Alisa menoleh. Ia tersenyum begitupun dengan sang istri.
Deg!
Deg!
''Gilang! Alisa!'' serunya sambil berlari dan memeluk Gilang dengan erat.
Papa Azlan tersedu di pelukan Papi Gilang. Papi Gilang tertawa tetapi air matanya menetes.
''Apa kabar bang Azlan?? Sudah lama sekali ya kita kita tidak bertemu?? Terakhir saat sidang perceraian kamu dengan Mbak Zahra dulu kan ya?''
Papa Azlan tidak menjawab. Ia masih tersedu di pelukan Papi Gilang. Rayyan terharu melihat nya. Ia tidak menyangka jika sang Papi dan Maminya begitu mengenali Papa Azlan.
''Sudah.. malu sama anak. Lihat tuh putra kamu Azlan! Dia sampai terkejut begitu!'' kata Mami Alisa pada Papa Azlan.
Papa Azlan mengurai pelukannya dari tubuh Papi Gilang. Ia tersenyum lembut pada Mami Alisa. ''Abang sehat Lang. Kamu semakin tampan saja ya sekarang? Kamu juga Lis! Apa suami berondong mu ini sudah berhasil menaklukkan hati janda beranak tiga seperti mu ini???'' goda Papa Azlan pada Mami Alisa.
Mami Alisa tertawa. Sedangkan Papi Gilang mencebik. ''Ya jelaslah bisa! Lah wong orangnya cinta mati sama aku? Sampai sekarang. Lihat aja tuh, kemana-mana aja ngikutin aku mulu!''
Plak..
''Mana ada kayak begitu Papi! Yang ada tuh ya, kamu tuh yang begitu! Kamu bisa uring-uringan kalau sehari saja nggak ketemu apam legit punya ku!'' ketus Mami Alisa sambil berlalu ke dapur membuat kan minum untuk pemilih rumah itu.
Papi Gilang, Papa Azlan, dan Pak Surya tertawa mendengar ucapan Mami Alisa. Sedangkan Rayyan menggeleng kan kepalanya saja. Azka? Ia masih terbengong memandangi Papi Gilang yang sangat mirip dengan Rayyan. Tetapi sekilas ia melihat jika Rayyan mirip dengan Mami Alisa.
__ADS_1
Ck. Azka bingung dibuatnya. Rayyan terkekeh.