
Keduanya saat ini sedang melaksanakan sholat isya, disambung dengan sholat tahajud dan juga sholat dua rakaat sebelum memulai rumah tangga mereka ke depannya.
Selesai dengan melaksanakan sholat, kini keduanya sudah duduk ditepi ranjang yang bertaburan bunga mawar di atasnya.
Mengingat sesuatu yang akan terjadi untuk pertama kalinya di dalam hidup keduanya, Cinta dan Rayyan sedikit gugup.
Tetapi ditahan. Sekuat tenaga agar tidak gerogi saat melakukannya Rayyan mendekati Cinta dan memegang kedua tangannya. "Abng tidak akan mengatakn apapun padamu. Karena hal ini pun kamu tau yang sebenarnya!" ucap Rayyan membuat Cinta tertawa.
"Tentu adek tau Bang. Lakukan! Lebih cepat lebih baik!" sahuat Cinta dengan mantap.
Rayyan tersenyum dan mulai menyentuh pipi serta mendekati telinga Cinta. Dan membisikkan doa sebelum melakukan penyatuan cinta mereka berdua.
Jantung Cinta berdebar kala merasakan hembusan nafas Rayyan menyapu telinga serta pipinya. Kini ke seluruh wajahnya. Wajah Cinta mendadak merona, Rayyan tersenyum.
Ia tau, Cinta sedang malu padanya saat ini. Rayyan menyentuh pipi yang sangat halus terasa di telapak tangan besarnya.
Ia semakin mengikis jarak dan tanpa Cinta sadari putik ranum lembut miliknya kini sudah menempel di putik ranum Cinta setelah tadi salam tempel sebentar saja.
Saat ini Rayyan bukan hanya menempel, tetapi juga mngecap setiap sudut dan setiap inci dari susdut putik ranum yang begitu manis ia rasa.
Darah keduanya berdesir. Cinta memegang baju Rayyan yang berada di pinggangnya. Sedang Rayyan sedang memegang pinggang dan juga tengkuk Cinta untuk memperdalam rasa putik ranum milik sang istri yang begitu manis saat ia rasa tadi.
Kecupan dan pagutaan itu terus berlanjut hingga turun ke telinga kan Cinta dan menyusuri kulit halus seputih susu itu. Yang selama ini selalu Cinta jaga untuk tidak terlihat oleh siapa pun. Dan juga tersentuh oleh pria manapun.
Seseorang yang pernah menyentuhnya hanya Rayyan seorang. Itu pun saat mereka bertabrakan dirumah sakit. Rayyan orang pertama yang menyentuhnya.
Turun ke bawah hingga semakin dalam, Cinta terlena dengan setiap sentuhan yang begitu memabukkan dari sang suami untuknya pertama kali.
Tanpa ia sadari baju saringan tepung yang ia kenakan sudah terlepas dan jtuh entah kemana saking tipisnya saringan tepung itu hingga Cinta tidak menyadari jika sudah terlepas dari tubuhnya.
Seuatu yang basahh dan lembut terus menuntut dirinya ingin meminta lebih. Cinta tidak sadar lagi jika suara alunan merdu miliknya itu sudah membakar hasrat sang suami untuk menyentuhnya lebih dalam.
__ADS_1
Suara alunan merdu itu terus terdengar di dalam ruangan pengantin baru itu. Setiap inci dan setiap jengakl dari tubuhh h sang pemilik hahtinya Rayyan sentuh denagn lembut dan meninggalkan efek yang begitu membaukkanuntuk cinta.
Sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Apalagi Rayyan. Ia sangat menyukai mainan barunya yang begitu pas berada di tangan nya saat ini.
Dengan putik ranum terus saja mengukir bintang-bintang yang berkelipan dimana-mana, tangan kirinya menyentuh palung surga yang saat ini masih tertutup dengan segitiga bermuda.
Sedang tangan satu lagi sedang memainkan benda kenyal seperti squishi yang semakin ingin sentuh dan nikmati.
Hingga tubuh sang pemilik hati melengkung bak busur panah hingga tidak sanggup tertahankan. Perutnya begitu geli seperti akan ada ribuan kupu-kupu yang berkeluaran dari sana.
Ah...
Elungann merdu itu terdengar di telinga sang duka. Ia tersenyum puas. Dengan cepat ia membuka seluruh kain yang melekat di tubuhnya dan menghampiri sang permaisuri yang saat ini sudah siap untuk ia ajak keliling dunia ckrawala bersama untuk mereguk manisnya madu pernikahan sekaligus menyempurnakan cinta mereka berdua.
Cinta tersentak saat merasakan sesuatu yang lembut tetapi tidak bertulang menyalami bibir palung surganya. "Sudah bisa kan Abang buka segelnya?" tanya Rayyan dengan tubuh mengukung dirinya.
Wajah Cinta memerah karena malu. Ia mengangguk dengan wajah yang semakin merona. Rayyan terkekeh, dengan segera ia mengetuk pintu itu dan mulai membuka kuncinya.
Dua lali, gagal!
Yang ketiga kalinya, Cinta mendesis dan meringis dengan tangan memegang seprei begitu kuat, Mata ayu itu terpejam menahan sakit di bawah sana.
Rayan berhenti saat melihat permaisurinya kesakitan. "Kita lanjutkan besok saja kalau begitu. Abang tidak ingin kamu terluka, sayang!" ucapnya dengan segera ingin melepas alat tempurnya yang masih mengacung seperti pohon kelapa itu.
Mendengar ucapan Rayyan yang ingin menghentikan penyatuan sekaligus penyempurnaan cinta mereka berdua, membuka matanya.
"Jangan!" cegah Cinta memegang lengan Rayyan dengan erat. "Lanjutklan! Adek nggak pa-pa kok. Ini hal biasa bagi seorang gadis yang masih bersegel. Adek seorang calon dokter Abang! Jangan lupakan itu!" peringatnya pada Rayyan yang kini sedang menatapnya dengan dalam.
"Tapi.. kamu kesakitan sayang. Abang nggak tega-,"
"Lanjutkan Kak Rayyan!" tekan Cinta dengan suara rendahnya dan juga wajah yang memerah nenahan malu melihat sesuatu yang tegak berdiri seperti tiang tetapi bukan tiang keadilan.
__ADS_1
Rayyan menatap Cinta dengan tatapan cinta dan penuh damba, ia tersenyum. "Lakukan!" titah cinta lagi.
"As you wish hhoney..." sahut Rayyan dengan segera mendekatkan kembali tiang yang masih berdiri tegak itu.
Cukup sekali sentakan palung surga milik Cinta akhirnya terbuka Tanggul surga miliknya kini menjadi milik Rayyan! Rayyan tersenyum puas dengan kepala mendongak ke atas.
Raungan suara Cinta yang menahan sakit pun menjadi alunan merdu untuk dirinya. Setetes bulir bening mengalir dari sudut mata Cinta. Rayyan mengusap dan mencium kedua mata itu.
"Maaf.." bisiknya lirih di telinga Cinta, dan diangguki olehnya.
Rayyan tersenyum. Dengan segera ia mengayuh lautan surga yang sudah ia buka jalannya itu untuk mencari kenikmatan dan kesempurnaan cinta mereka berdua.
Alunan merdu dari cinta menambah tempo kayuhan tubuhnya di palung surga milik permaisurinya yang kini ikut bergerak seirama dengannya.
Satu teguk tidak cukup untuk mereka berdua. Mereka kembali mereguk manisnya madu penyempurnaan itu hingga berulangkali. Hingga menjelang subuh, keduanya baru berhenti.
Dengan keringat mengalir deras di tubuh keduanya dan mereka berdua pun tertawa saat mendengar suara alunan merdu pemilik sang pencipta Alam mengalun lembut di udara pertanda sudah subuh hari.
Cinta terkekeh-kekeh kala mengingat apa yang baru saja mereka lakukan. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Rayyan pada Cinta yang saat ini masih saja tertawa.
"Gimana adek nggak tertawa? Abang itu begitu bersemanagt. Begini ya ternyata sang duka kerena ini?" ucap cinat amsih denagn tertawa
Rayyan mengernyit bingung. "Duka?? Duka apa maksudmu?? Mana ada Abang memberi duka untukmu? Nikmat iya!"
Cinta tertawa lagi. "Mau tau apa itu Duka??"
Rayyan mengangguk, Cinta terkikik geli. "kita sholat subuh dulu. Setelahnya makan. Baru adek kasi tau sama Abang, apa itu duka?" ucap Cinta membuat Rayyan berdecak sebal. Tetapi tetap menuruti apa kata Cinta.
"Baiklahh, baiklahhh. Kita sholat dulu. Setelahnya mkan baru kita tidur!! Ngantuk!!" celutuk Rayyan sambil bangkit dari ranjang dan memakia sarungnay kembali.
Setelahnya ia menggendong Cinta yang membuat permaisurinya itu memekik karena terkejut sebab ia sedang terpejam karena mengantuk. Rayyan tertawa, Cinta menepuk bahu nya dengan gemas tetapi tetap tertawa.
__ADS_1
Mereka berdua mandi besar sebelum melaksanakan sholat subuh.