
Satu minggu berlalu.
Hari ini kedua pengantin baru itu akan menuju ke Pekanbaru untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh Rayyan sendiri.
Seminar yang khusus diadakan untuk para dokter yang saat ini sedang dibutuhkan tenaganya disana.
Rayyan sebagai pemilik hotel Bhaskara di Pekanbaru, ingin merekrut banyak dokter ahli dari Jakarta, terutama Bandung.
Ia ingin membawa dokter iu untuk mengabdikan diri mereka dirumah sakit yang saat ini sednag ia bangun.
Rumah sakit Alisa hospital merupakan rumah sakit yang didedikasijkan untuk sang mami yang sudah berusaha membuat perubahan yang begitu banyak di kota kecil seperti Pekanbaru.
Kota kecil tempat dimana Papi Gilang sering beristirahat dari penat letihnay pekerjaan saat berada di Medan.
Entah kenapa papi Gilang memilih kota kecil itu, Rayyan pun tak tahu. Yang jelas, ia ditugaskan disana untuk membantu sang papi demi mewujudkan impian sang mami yang ingin memiliki rumah sakit bagi masyarakat miskin yang menetap disana.
__ADS_1
Mami Alisa sengaja meminta sebuah rumah sakit. Ia masih mengingat saat melahirkan Annisa dulunya, beliau melahirkan hanya di klinik bersalin saja.
Karena rumah sakit disana tebatas dan juga jauh. Belum lagi biaya nya lumayan mahal. Mahal bagi kalangan masyarakat kelas menengah seperti beliau dulunya.
Mengingat itu, Rayyan tersenyum sendiri. Melihat suaminya tersenyum, Cinta menatap lekat padanya dengan tatapan aneh.
Sadar jika dirinya ditatap oleh sang istri, Rayyan beralih menatap pada Cinta yang kini menatapnya.
"Kenapa?" tanya Rayyan sembari memegang pipi halus Cinta yang membuat wanita cantik mirip almarhum Zahra itu terkejut sekaligus bulu halusnya meremang.
Cinta tersenyum, "Nggak ada. Adek heran aja lihat Abang tersenyum sendiri. Ada Apa? Kok bisa Abang tersenyum sendiri sih? Ada yang Abang pikirkan? Apakah ini tentang.. Mami?" tanya Cinta yang diangguki oleh Rayyan dengan terkekeh.
Ia mengelus pipi Cinta lagi. "Kamu kok bisa menebak sih? Apa yang sedang Abang pikirkan? Kamu tahu darimana jika abang sedang memikirkan mami kita, hem?" tanya Rayyan pada Cinta yang kini menatap lekat sepasang bola mata hitam nan sipit mirip papi Gilang itu.
Rayyan tersenyum lagi. Senyum yang selalu memabukkan untuk Cinta saat ia menatap senyum itu. Senyum yang sedari kecil begitu menggetarkan hatinya hingga saat ini.
__ADS_1
Senyum manis yang selalu Rayyan berikan untuk adik sepupu kecilnya itu. Bahkan sedari kecil, Cinta sudah menyukai Rayyan, abang sepupunya.
"Adek tahu semua tetang abang. Bukan hanya saat kita bersama ketika hamil si kembar. Tetapi jauh sebelum itu. Abang masih ingat? Saat abang dimarahi oleh papi Riandra dan tidak boleh bertemu denganku karena abang lalai dalam menjagaku waktu dilapangan bola itu?" tanya Cinta yang diangguki oleh Rayyan.
"Adek mengenalmu bukan hanya sekarang bang Ray! Tetapi sudah dari dulu. Saat aku dilahirkan dan mami membawaku ke kediaman kalian, bukankah abang selalu menjagaku ketika mami Zahra pergi bersama mami Alisa?" Rayyan mengangguk lagi.
"Kita sudah dari kecil bersama. Kita terpisah karena mami waktu itu kembali ke Bandung karena Opa Alan meminta mami untuk pulang agar mami bersedia menerima lamaran papi Rian. Kita sudah sedari dulu bersama. Jadi.. Tiada hal yang tidak adek ketahui tentang abang.
Termasuk tentang pikiran abang saat ini tentangku!" Ucapnya yang disambut gelak tawa Rayyan karena mendengar ucapan istrinya itu.
"Kamu benar, Sayang. Kita sudah bersama sedari kecil. Jadi, mana mungkin kamu tidak bisa memahami abang? Terimakasih karena kamu masih bersedia menunggu bujang lapuk ini!" seloroh Rayyan yang dihadiahi cubitan tuan krab di perutnya oleh Cinta yang membuat Rayyan kembali tertawa.
Perjalanan mereka menuju ke Pekanbaru diisi dengan gelak tawa sepasang pengantin baru itu. Keduanya tidak sadar saat membuat lelucon hingga penumpang mereka yang berada dikelas bisnis itupun ikut tertawa melihat tingkah laku mereka berdua.
Kedua berhenti saat Cinta yang ingin tidur karena mengantuk akibat pengaruh obat. Cinta mabuk pesawat. Makanya ia memilih untuk meminum obat agar tidak muntah didalam pesawat dan membuat Rayyan kesusahan karena dirinya. Cinta sangat memahami Rayyan yang suka panik jika menyangkut dirinya.
__ADS_1
Keduanya memilih istirahat daripada membuat tertawa seperti tadi. Karena setibanya disana, keduanya langsung mengadakan seminar yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.