Duka ( Duda Tapi Perjaka)

Duka ( Duda Tapi Perjaka)
Baby Twin


__ADS_3

Cinta yang semakin sakit saat akan melahirkan kedua buah hatinya, tidak bisa berbicara lagi. Ia semakin merasakan mulas yang tiada tara saat mengedan buah hatinya.


Rayyan yang sedang di serang panik, malah bingung harus buat apa. Satu nama yang teringat olehnya ialah..


"Bang Azka!" Rayyan segera meminta izin untuk menghubungi Azka untuk membawa ponsel dan juga dompet miliknya yang berada di dalm kamar mereka.


"Hallo Bang! Ke rumah sakit Ibu dan Anak sekarang! Tolong ambilkan ponselku dan juga dompet yang terletak di nakas! Cinta akan melahirkan, bang!"


Tut!


Rayyan memutuskan sambungan ponsel itu sepihak saat mengingat Cinta yang kini sedang berjuang mengeluarkan kedua buah hatinya. Ia melewati seseorang yang tadi motor anaknya Rayyan serempet. Baginya, Cinta.


Cinta dan kedua anaknya. Karena Pak tua itu sadar akan kondisi Rayyan yang kini sedang tidak baik, maka ia memilih mengalah dan menunggu.


Sementara Azka yang baru saja pulang dari kantor karena lembur dan baru saja terlelap, ia harus bangkit lagi saat Rayyan menghubunginya dengan mengatakan harus ke rumah sakit.


"Ibu dan Anak? Siapa yang sakit, sih? Bawa apa tadi katanya? Ponsel dan dompet? Huh! Hoaamm.. Nagantuk! Besok aja, deh! Ck! enak-enak tidur malah digangguin!" gerutu Abang kandung Cinta itu dengan segera menarik selimutnya kembali.

__ADS_1


Ia terlelap beberapa saat sebelum ia ngacir dari ranjangnya dan berlari ke luar sambil memanggil kuat sang papa yang ternyata baru saja merebahkan dirinya. Karena baru selesai sholat tahajud.


"Papa! Adek mau melahirkan! Bawa mobil, abang mau ambil ponsel Rayyan dan dompetnya dulu!" pekik Azka sembari berlari tanpa menggunakan alas kaki menuju rumah Cinta.


Papa Azlan tersentak saat mendengar teriakan putranya itu. Ia segera mengambil kunci mobil milk Azka dan berlari ke luar rumah, sebelumnya ia berpamitan pada pembantu rumah mereka.


Keduanya di serang panik di tengah malam buta. Azka mengemudikan mobilnya ugal ugalan di jalan raya yang semakin lengang karena sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Saking kencangnya laju mobil itu, jarak menuju rumah sakit sekitar empat puluh lima menit jika tidak macet malah menjadi singkat hanya lima belas menit saja.


Tiba di halaman rumah sakit yang Rayyan katakan, keduanya turun dengan berlari setelah melempar kunci mobil pada petugas rumah sakit yang berjaga.


Kedua anak dan ayah itu segera menuju ruang bersalin. Entah di mana, mereka pun tidak tahu. Sambil berlari bertanya. Hingga menemukan seorang pria tua menunggu pintu ruang bersalin itu.


Masih terdengar suara bidan menyerukan Cinta harus lebih kuat lagi mendorong anak keduanya. Sementara anak pertamanya kini sudah ditangani oleh dokter spesialis anak.


Keduanya melihat bapak tua itu dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


"Maaf, bapak siapa? Kenapa menunggu di depan ruang bersalin?" tanya Azka karena rasa penasarannya itu begitu kuat melihat lelaki tua itu berada disana.


Bapak tua itu tersenyum. "Saya-,"


"Oek, oek, oek.." suara tangisan bayi kedua Cinta terdengar sampai ke luar.


Ketiga orang itu saling pandnag dna tersenyum lega. "Alhamdulillah.." ucap ketiganya begitu lega.


Ketiganya tersenyum bersama saat pintu ruang bersalin itu terbuka dari dalam dan menunjukkan wajah kusut dan basah milik Rayyan.


"Papa! Abang! Aku jadi papi! kembar sepasang Pa, Bang!" seru Rayyan sembari berjalan mendekati keduanya dan memeluk keduanya sambil menangis lagi.


Azka dan Papa Azlan tertawa melihat Rayyan menangis tersedu di pelukan keduanya. Papa Azlan mengelus lembut punggung menantunya itu.


Suami dari mami Zahra. Istri peramanya yang masih bertahta di hatinya hingga saat ini. Jika bukan karena kesalahannya, pastilah keluarga mereka utuh saat ini.


Tapi itulah yang di namakan takdir. Jika takdir sudah tergores, kita tidak bisa mengubah lagi akan ketetapannya.

__ADS_1


Typo bertebaran! Besok othor revisi! 🙏


__ADS_2