
Pukul sepuluh lewat dua puluh lima, acara resepsi pernikahan Rayyan dan Cinta akhirnya berakhir juga.
Banyak kenangan yang mereka dapat dari pesta tadi. Dari Dimas dan Kezia yang manggung bersama dan berduet membawa lagu apakah itu cinta, di susul dengan Kenan yang membawa kan lagu Rembulan malam berbalut sepi.
Lagu yang menyampaikan suara isi hatinya untuk seseorang yang jauh disana ia tinggalkan karena tugasnya. Dan juga Kak Annisa dan Bang Tama yang berduet membawa kan lagu kesukaan papi dan Mami Alisa dulunya.
Bintang Hatiku.
Dan saat ini mereka sudah berada di kamar. Untuk si kembar untuk malam ini mereka dibawa oleh Mami Alisa dan Papi Gilang agar tidak mengganggu malam pertama pengantin baru itu.
Cinta menghela nafasnya saat merasakan seluruh tubuhnya begitu lelah karena gaun resepsi nya yang lumayan berat. Ia duduk di depan meja rias dan segera membuka pernak pernik yang melekat di tubuh keduanya.
Rayyan tersenyum saat melihat Cinta yang berulang kali berdecak karena kaitan dari setiap riasan di kepalanya itu sering kali tersangkut saat ia berusaha melepaskannya.
Rayyan yang sudah selesai membuka bajunya yang tersisa hanya baju kaos berwarna abu-abu dan celana pendeka selutut.
__ADS_1
Ia mendekati tubuh Cinta dan memegang kedua bahunya. Ia tersenyum melihat wajah Cinta yang cemberut karena bajunya itu berulangkali tersangkut pengaitnya.
Rayyan menunduk sedikit tepat di pipi Cinta. Cinta terkejut saat merasakan deru nafas Rayyan di pipinya. Ia menoleh dan bertepatan dengan Rayyan juga menoleh padanya.
Hhingga sesuatu yang lembut dan basah itu saling beradu. Keduanya tersentak. Seperti ada aliran listrik di keduanya. Cinta yang merasakan jantungnya seperti ingin copot segera berbalik dan melihat Rayyan melalui cermin yang Rayyan juga saat ini sedang melihatnya melalui cermin dengan tersenyum.
"Abang bantu," ucapnya pada Cinta
Gadis itu mengangguk setuju, "Katakan. Apa yang ingin kamu tau? Abang akan menjawabnya." Lanjutnya lagi dengan tangan terus bergerak membuka seluruh pernak pernik yang ada di kepala Cinta.
Rayyan tersenyum mendengar pertanyaan Cinta. Pertanyaan yang sudah ia tau, seperti apa jawabannya. Ia menunduk sedikit dan mengecup surai hitam milik Cinta yang kini tergerai indah di hadapannya.
Ia menatap Cinta dengan binar Cinta yang sudah terlihat di matanya. Ia tersenyum lagi melihat wajah Cinta yang begitu serius menunggu jawabannya darinya.
Rayyan berputar dan duduk dihadapan Cinta yang kebetulan kursinya pun ada disana. Saat ini mereka sudah berada di kamar pengantin di rumah Rayyan.
__ADS_1
Rumah yang berdekatan dengan Papa Azlan dan Azka. Kedua orang itu pun saat ini sudah ada di rumahnya. Saat di pesta tadi, Papa Azlan sudah berbicara dengan Cinta dan mengenalkan Azka sebagai Abangnya dari istri Papa Azlan yang lain.
Cinta memaklumi karena iapun sudah mendengar langsung dari Mami Zahra dulunya. Ia menerima Azka sebagai saudaranya.
"Abang tau saat kamu berbicara kepada suster yang ada di rumah sakit saat kamu dilamar oleh Dokter Arfan!"
Deg!
Cinta terkjut, Rayyan tersenyum. Ia menyentuh sebelah pipi Cinta yang masih berbalut makeup pesta pernikahan mereka.
"Abang tau? Jadi waktu itu Abang tidak pulang? Abang malah mendengar ucapan ku waktu itu??" tanya Cinta semakin terkejut jika Rayyan mendengar semua ucapan isi hatinya pada susternya itu.
Rayan mengambil kotak makeup milik Cinta yang terletak di meja rias disamping kanannya. Ia mengambil kapas serta micelar water untuk menghapus noda di wajah Cinta.
Sedang Cinta masih terpaku dan mentap pada Rayyan. Tangan Rayyan mengusap kapas itu ke wajah Cinta dengan lembut.
__ADS_1
"Ya, Abang tau saat kamu berbicara padanya. Abang sangat terkejut mengetahui fakta itu. Sebenarnya.. dari pertama kali melihatmu dulu tiga tahun yang lalu. Abang sudah menebakmu. Jika kamu adalah Zahra. Tetapi Abang menepis semua itu. Karena Zahra yang Abang kenal tidak dingin dan jutek sepertimu. Dia gadis yang periang, lemah lembut, dan juga ramah pada setiap orang," jelas Rayyan masih dengan tangan terus bergerak mengusap lembut wajah Cinta dengan kapas basah di tangan nya.