Duka ( Duda Tapi Perjaka)

Duka ( Duda Tapi Perjaka)
Cemburu tanda cinta part 2


__ADS_3

Tubuh Cinta menegang dan memanas seketika ketika mendengar ucapan sekretaris Rayyan itu. Napasnya memburu. Tangan nya terkepal erat hingga buku-buku tangannya memutih.


Rayyan terus memperhatikan Cinta yang kini wajahnya semakin dingin. Om Andi menepuk bahu Rayyan.


"Temui dia. Jangan biarkan kesalahpahaman berlarut-larut, Nak!" katanya pada Rayyan yang diangguki oleh Rayyan.


Rayyan pun segera bangkit ingin menuju kursi Cinta. Lagi, sekretarisnya itu menahannya disana. Hingga Rayyan menurut padanya.


Yang membuat Cinta semakin kalap dan ingin sekali menampar wajah gadis itu.


"Jika aku tidak menghargai suamiku, maka bibir jelekmu itu sudah aku koyak sedari tadi! Huh! Siapa kamu berani melarang suamiku untuk menemuiku? Kamu lihat saja sebentar lagi! Aku bukan kamu yang ingin menunjukkan diri kepada siapa yang paling hebat! Kamu lupa, Nona! Aku ini istri sahnya! Dan kamu? Hanya sekretaris saja!" gumam Cinta sambil tersenyum licik melihat padanya dan juga pada Rayyan yang kini fokus pada Om Andi dan tante Ema yang sedang berbicara dengannya.


Cinta segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang diseberang pulau sana.


Saat sambungan ponsel itu berbunyi Tut, Cinta tersenyum senang. Ia tersenyum saat melihat wajah wanita paruh baya dan juga lelaki tampan mirip suaminya itu ada dilayar ponselnya.


Cinta yang sengaja duduk memebelakangi mereka semua, membuat wanita paruh baya dan juga lelaki tampan mirip Rayyan itu seketika berwajah datar dan dingin.


Padahal tadi sedang tersenyum manis padanya. Cinta tertawa jahat dalam hati.


"Assalamu'alaikum, Mami, papi!" seru Cinta denan suara rianganya yang membuat Rayyan segera menoleh padanya.


Deg!


Deg!


Mata Rayyan dan ke empat pasang mata di dalam ponsel itu pun bertemu. Seketika saja, wajah Rayyan mendadak pias.


Ia segera bangkit dan menemui Cinta yang kini tertawa senang dalam hati saat melihat sekretarisnya itu terlihat kesal padanya.


"Wa'alaikum salam, Nak. Kamu apa kabar? Sehat?" tanya wanita paruh baya itu.


Rayyan langsung saja menjatuhkan tubuhnya disamping Cinta dan menatap memelas pada kedua orang itu.


"Alhmdulillah sehat mami, papi. Kalian berdua? Masih di Singapura kah?" jawab Cinta sambil bertanya keberadaan kedua mertuanya itu.


"Alhamdulillah sudah kembali ke Medan. Baru tadi malam sih tibanya." Jawab sang mami sambil tersenyum teduh padanya.


Tetapi berbeda dengan lelaki tampan di dalam ponsel itu. Matanya tajam setajam elang kala melihat putra sulungnya itu.


"Sama siapa kamu, Bang? Kenapa gadis itu terus menempeli kamu kayak rumput kemucung yang sekali lengket nggak mau lepas?!"


Deg, deg, deg..


Jantung Rayyan berdegup sangat kencang. Ia tersenyum walau terlihat sangat kaku.

__ADS_1


Cinta tertawa dalam hati.


"Nggak ada, Pi. Abang sama Cinta kok. Iya kan sayang?" jawabnya sembari mencari pembenaran dari Cinta yang hanya ditanggapi dengan keterdiaman Cinta saja.


"Kamu ya Bang! Sudah papi ingatkan berulang kali! Jangan suka tebar pesona dengan senyum kamu itu!"


Deg!


Jantung Rayyan seakan berhenti memompa darahnya.


"Lebih baik kamu berwajah datar dan dingin kepada semua gadis! Tanpa terkecuali! Ingat? TANPA TERKECUALI! Paham?" tekan sang papi yang diangguki pasrah oleh Rayyan dengan tersenyum tetapi memelas.


Cinta diam saja. ia ingin tertawa saat ini. Tetapi tidak ingin berbuat seperti itu. Biarlah mertuanya saja yang menegurnya. Karena papi Gilang sangat pekaan orangnya. Dan itu terbukti.


Hah! Tidak sia-sia aku menghubungi mami! Hihihi..


Batin Cinta cekikikan.


"Paham kok, Pi. Abang nggak gitu kok! Beneran! Gadis itu sekretaris baru-,"


"Pecat dia! Atau papi akan memecatmu!"


Deg!


Rayyan membulatkan matanya. "Tapi Pi-,"


Ddduuaaarr!!


Seruan papi Gilang dari dalam ponsel Cinta mengalihkan perhatian semua orang. Termasuk sekretaris baru Rayyan itu.


Om Andi yang tahu itu suara siapa segera mendekati meja Cinta dan mengambil ponsel itu.


"Iya Tuan! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Om Andi sedikit kebingungan saat melihat sahabat sekaligus bos nya itu ingin berbicara dengannya.


"Carikan sekretaris lelaki untuk Rayyan! Saya tidak setuju jika sekretarisnya itu perempuan! Perempuan bukan mahram untuk putra saya yang sudah beristri!"


Deg!


Sekretaris itu membulatkan matanya. Ia melihat pada Cinta dan Rayyan yang kini sedang berdiaman dikursinya dengan wajah datar keduanya.


"Baik, akan segera saya urus tuan! Ada lagi yang anda butuhkan?"


"Tidak ada! Jika sudah pulang dari Pekanbaru, mari berkumpul dirumahku. Kita akan bakar-bakar ikan! Bawa serta anggotamu!" ucap papi Gilang yang dijawab dengan anggukan antusis oleh sang asisten dan juga sahabatnya itu.


"Tentu Bos! Siap laksanakan!" jawabnya mantap sambil tersenyum tetapi dingin.

__ADS_1


Cinta terkekeh melihat itu. Ia menatap Rayyan yang kini menatap sendu padanya.


"Tdak perlu menunjukkan wajah memelasmu padaku bang Rayyan!"


Deg!


Rayyan menggeleng, "Kamu salah paham, sayang!"


Deg!


Sang sekretaris yang berada di belakang Rayyan pun terkejut mendengarnya. Kakinya berhenti melangkah saat ingin memanggil Rayyan untuk makan bersama dimeja mereka semua.


Meja Cinta juga sudah penuh dengan makanan yang Cinta pesan baru saja.


"Tak ada yang perlu dijelaskan sekarang! Kembalilah ke mejamu! Calon istri kamu, sudah menyusulmu!" ketus Cinta begitu dingin hingga membuat Rayyan segera bangkit dan berbalik melihat sekretarisnya itu.


"Perhatian semuanya! Saya ingin mengumumkan sedikit." Katanya pada mereka semua yang kini heran melihat Rayyan, direktur hotel Bhaskara. Termasuk sekretarisnya itu.


"Mungkin, ada yang belum tahu jika status saya itu sudah menikah!"


Deg!


Tubuh sekretaris itu menegang. Wajahnya mendadak pucat.


"Saya sudah menikah satu minggu yang lalu. Sebagian dari kalian sudah ada yang tahu. Karena kalian kami undang saat acara pernikahan kami!"


Deg!


"Bagi yang belum tahu yang mana istri saya, ini dia. Wanita yang sedang makan memakai gamis biru muda ini merupakan istri sah saya yang baru saja saya nikahi satu minggu yang lalu. Jadi.. Saya harap, kalian bisa menghormatinya sama seperti kalian menghormati saya!"


Deg, deg, deg..


Jantung sang sekretaris mencelos seketika saat mendengat penuturan Rayyan tentang statusnya. Ia mundur selangkah ke belakang dan kembali duduk di kursinya dengan wajah suram.


"Sekian saja. Mari dilanjutkan makannya. Tak apakan jika saya makan bersama istri saya?" tanya Rayyan


Semuanya mengangguk dan tersenyum. Mereka memaklumi akan hal itu.


Rayyan pun segera kembali dan ikut bergabung dengan Cinta yang kini makan dengan lahapnya. Rayyan menghela napas panjang.


Ia menatap cinta yang sibuk makan makanan resep mami nya itu.


"Sungguh, jika kamu cemburu sangat menakutkan sayang! Tetapi abang senang. Itu artinya, kamu sangat mencintai suami mu ini. Bukankah cemburu tanda cinta??" bisiknya di telinga Cinta yang tertutup hijab biru mudanya kini serasa meremang seluruh tubuhnya.


Cinta menoleh padanya.

__ADS_1


Cup!


Tanpa di duga, bibir keduanya bertemu yang membuat Rayyan mengambil kesempatan itu dan dengan sengaja semakin memperdalam ciu mannya. Membuat Cinta memukul pundaknya karena malu.


__ADS_2