
Ia duduk termenung seorang diri di sofa itu. Sedangkan Mami Zahra sudah masuk ke kamar lain karena tidak ingin bertemu dan melihat suaminya itu.
Sungguh keras kepala suaminya itu. Jika bukan karena Mami Alisa yang mendesaknya menerima lamaran dari Papi Riandra dulunya, pastilah ia tidak mau menerima lamaran pemuda yng merupakan cinta pertamanya itu. Dan akan menikah dengannya.
Mami Zahra membuka kaca matanya dan memijit pelipisnya karena tensi darahnya tiba-tiba saja naik hingga membuatnya pusing.
Papi Rian melangkah masuk ke kamarnya. Dengan langkah gontai ia berusaha menguatkan dirinya untuk berhadapan dengan sang istri yang kini sedang marah padanya.
Ia menghela nafas nya saat sudah berdiri di depan pintu kamar mereka berdua. Ia membuka pintu itu dengan perlahan dan melangkah masuk untuk mencari Mami Zahra yang tidak terlihat batang hidungnya.
Ia mencari ke sekeliling kamar itu. Tetap saja Mami Zahra tidak ada. Ia menghela nafasnya. "Maaf Sweety..." gumamnya dengan segera keluar dari kamar mereka dan menuju kamar Mami Zahra satu lagi jika ia sedang ingin sendiri.
Wanita peruh baya lebih tua dua tahun dari Papi Gilang itu kini sedang duduk di balkon kamar nya saat Papi Rian masuk dan langsung mendekatinya sembari ia duduk dengan kedua kaki ia tekukkan di lantai.
Mami Zahra tidak sadar akan kedatangannya. Pandangan mata itu kosong. Tercubit hati Papi Rian melihatnya.
__ADS_1
Ia menelusupkan kedua tangannya untuk memeluk pinggang ramping Mami Zahra dan ia senderkan wajahnya di perut Mami Zahra. Mami Zahra memejamkan kedua matanya. Saat menyadari jika sang suami kini sedang memeluk tubuhnya.
"Pergilah Kak. Aku ingin sendiri. Jangan ganggu aku," ucapnya tidak ingin melihat keberadaan Papi Rian sedikitpun
Pelukan di perutnya itu semakin kuat, " Maafkan aku sweety.. Maaf.. Maafkan suami mu ini.. Maaf..." lirihnya seperti berbisik tetapi Mami Zahra bisa mendengarnya.
Mami Zahra memejamkan kedua matanya saat merasakan jika tubuh sang suami bergetar di pelukannya.
"Sudahhlah Kak. Tolog hargai aku sedikit... Saja. Aku ingin kebahagiaan untuk putriku. Dan kebahagiaan itu hanya ada bersama putra Gilang. Keponakan ku dan seseorang yang kau anggap musuh sedari delapan belas tahun yang lalu!"
Papi Rian semakin tersedu. Ia semakin kuat memeluk tubuh Mami Zahra. "Maaf Sweety.. Aku minta maaf.. Aku salah.. Maafkan aku..." lirihnya lagi masih dengan memeluk Mami Zahra.
Inilah yang Mami Zahra tidak ingin lihat dari Papi Rian. Lelaki tangguh diluar tetapi begitu cengeng jika sedang bersamanya. Apalagi ketika ia bersalah dan Mami Zahra mengacuhkannya. Rasanya hidupnya seperti mati saat itu juga.
Kelemahannya ada pada Mami Zahra begitupun sebaliknya. "Kamu tau Kak? Bahkan jika bukan karena Gilang dan Alisa, mungkin saat ini aku tidak bisa hidup bersama mu. Karena hatiku sudah beku untuk ingin membina rumah tangga lagi setelah masalah rumah tangga yang menimpaku. Ingin aku menolakmu, tetapi putriku sangat menginginkan mu menjadi Papi nya. Karena ia melihatmu sama seperti melihat Gilang, Papinya dari semenjak ia bayi hingga ia dewasa. Umurnya tidak jauh berbeda dari kedua putri dan putra Alisa dan Gilang. Mereka terpaut bulan saja. Tidakkah kamu melihat pancaran cinta yang begitu terlihat ketika putri kita bersama putra mereka berdua??" tanya Mami Zahra pada Papi Rian hingga membuat paruh baya yang masih tampan itu semakin tersedu di pelukan sang istri.
__ADS_1
"Ingat pengorbanan mereka berdua yang menghidupi ku hingga dua tahun lamanya Kak.. Tolong. Mengertilah. Jika kamu tidak ingin menerima Rayyan, tidak apa-apa. Tetapi biarkan putriku bahagia bersama cintanya. Mungkin jalan cintaku berbeda denganmu, kak. Tetapi aku masih tetap mencintaimu hingga saat ini. Bukan aku tidak mencintai suamiku dulu. Aku juga telah mencintainya tetapi karena dirinya berbuat seperti itu, aku terpaksa mengubur rasa cintaku untuknya karena aku sudah di ceraikan olehnya. Dan kamu datang menyembuhkan luka itu walau kamu selalu membuat masalah dengan keluarga GIlang dan Alisa, aku tetap masih menerima mu."
"Tolong Kak.. Untuk kali ini. Biarkan aku melihat putriku bahagia tidak seperti diriku yang selalu mengalami luka setelah aku menikah dan mengenal dua orang Pria."
Dddduuuaarrrr...
Tersentak Papi Rian mendengarnya, "Maafkan aku sweety.. Maaf.. Maaf.. Maaafkan aku.." ucapnya sambil menciumi kedua tangan Mami Zahra.
"Aku akan memaafkan mu kalau kamu tidak mengganggu pernikahan putriku, bisa?"
Papi Rian melihat Mami Zahra dengan tatapan sendunya, kemudian bibir itu tersenyum. "Tentu. Aku tidak akan mengahalangi pernikahan putriku dengan keponakan mu. Aku merestui mereka berdua. Tapi ku mohon.. Jangan menjauh dariku?" pintanya dengan wajah sendu dan begitu memelas.
Mami Zahra tersenyum dan mengangguk, "Tentu, aku tidak akan menjauhimu. Ayo, kita kabarkan hal ini pada Cinta. Bagaimana pun pernikahannya akan segera terjadi dan kita pun harus merahasaikan siapa pemuda itu. Ayo! " katanya pada Papi Rian.
Beliau mengangguk dan segera pergi ke kamar Cinta yang saat ini sedang mengalami kram di perut karena sedang kedatangan tamu bulanannya.
__ADS_1