Duka ( Duda Tapi Perjaka)

Duka ( Duda Tapi Perjaka)
Mengantar Cinta


__ADS_3

''Ya sudah, istirahat lah. Kamu tidur di kamar sebelah. Janah dikamar mu. Papi Herma sama Cinta, kok ya senang banget sih sama kamar kamu? Sedari ia kecil loh..'' ucap Papi Gilang membuat pemuda tampan yang sangat mirip dengan Papi Gilang itu terkekeh kecil.


''Papi yang kayak nggak tau Cinta aja sih? Jangan kan kamar Abang. Bahkan CD Abang pun pernah dipakainya. Setelah itu pura-pura tidak tau pula. Haha.. Cinta.. Cinta. Cinta itu unik Pi. Sedari ia berumur dua tahun, Abang sudah terikat dengan nya. Lagi pun kita kan saudara sepupu??''


Papi Gilang terkekeh, ''Betul, tapi Papi itu masih bingung dengan penjelasan Mami kamu. Apa itu mungkin? Zahra kembali lagi kesini ini? Sedang yang kita tau bahwa seseorang yang sudah tiada tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. Sebab sudah ada batas antara alam manusia dan alam kubur.''


Rayyan menghela nafas nya. ''Entahlah Pi. Seperti kata Mami tadi. Kita tidak di tuntut untuk Percaya. Namun, kita di haruskan untuk mengerti dan memahami apa yang terjadi ini bukanlah kebetulan belaka. Jika memang Cinta adalah jodoh Abang, Abang siap menerima nya. Lagi pun selama ini Abang sudah mengenal Cinta bukan?''


''Ya, sudah malam. Sebaiknya kamu tidur. Katanya pagi-pagi sekali Cinta akan kerumah sakit kan ya?''


''Hem, katanya gitu tadi. Ya sudah, Abang istirahat dulu ya Mi? Pi?. Kalian berdua istirahat lah. Jangan begadang terus! Nggak cocok buat adik lagi untuk Abang!'' ketus Rayyan sembari berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang melotot melihat dirinya berlalu.


Papi Gilang berdecak. ''Lihatlah putra kamu sayang. Bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu sama kita?''


Mami Alisa terkekeh, ''Kan, yang Abang bilang benar adanya? Sedari awal kita menikah hingga sudah setua ini. Kamu masih saja ingin dan ingin lagi!''


Papi Gilang tertawa. Cup. Ia mengecup sekilas putik ranum yang selalu memanjakan diri nya itu. ''Hemm.. gimana ya? Berdekatan denganmu seperti ini membuat kayu lautku tidak bisa kompromi sih. Lain cerita kalau kita berdua sudah bangkotan! Pastilah itu kayu tekor dan menunduk saja ke bawah! Mana mau dia berdiri lagi kayak pohon kelapa? Secara kita aja udah uzur!'' celutuk Papi Gilang yang membuat Mami Alisa tertawa terbahak-bahak hingga suara tawanya itu terdengar sampai ke kamar Rayyan dan Cinta.

__ADS_1


Dua anak manusia yang sudah terikat takdir itu terkekeh mendengar suara gelak tawa dari sang Mami dan Papi mereka berdua. Keduanya terlelap setelah melaksanakan sholat isya terlebih dahulu. Tapi Cinta tidak bisa karena sedang kebanjiran. Seperti kata bang Lana pada kak Maura dulu. 🤣


Keesokan paginya.


Pukul empat Cinta sudah bangun dan segera mandi. Setelahnya ia bersiap dan keluar dari kamar si kembar yang sebenarnya itu adalah kamar pribadi Rayyan.


Cinta membuka pintu kamar itu bertepatan dengan Rayyan pun ingin mengetuk pintu kamarnya untuk memanggil Cinta.


Ceklek!


Tuk!


''Eh, astaghfirullah! Maaf sayang. Abang nggak sengaja. Astaghfirullah al'adhim! Merah sayang!'' ucap Rayyan begitu panik kala melihat dahi Cinta lumayan merah karena ketukan dari jari kekarnya.


Cinta terkekeh saat melihat Rayyan panik. Rayyan dengan segera mengambil kotak obat dan mencari sesuatu yang bisa ia letakkan di kening Cinta.


''Ishh.. kok nggak ada sih?!'' gerutunya masih dengan mengobok-obok kotak obat itu hingga menimbulkan suara berisik.

__ADS_1


Cinta terkekeh lagi. ''Udah Abang.. adek nggak Pa-pa kok. Ini udah adek apakan dengan sapu tangan milik Abang yang ada di atas nakas tadi. Maaf adek ambil gitu aja!'' katanya sambil menunjuk sapu tangan milik Rayyan yang sangat sering Rayyan gunakan.


Rayyan tersenyum, ia lupa kalau Cinta seorang dokter yang terlahir dari seorang wanita yang paham dengan segala sesuatu nya. Sama seperti Mami Alisa.


''Maaf..'' lirih Rayyan dengan menatap Cinta yang saat ini sedang meniupkan hawa panas ke sapu tangan itu lalu ia tempelkan ke dahinya.


Cinta tersenyum, ''Tak apa Bang. Abang udah sholat tahajud?''


Rayyan mengangguk dengan mata terus saja memperhatikan Cinta yang saat ini masih sibuk meniup sapu tangan miliknya lalu ia tempelkan lagi ke dahi hingga berulang kali. Dirasa cukup, Cinta menyimpan sapu tangan milik Rayyan ke dalam saku jas dokter nya.


Rayyan tersenyum, ''Sudah sedari tadi. Yuk, Abang antar. Sengaja Abang nungguin kamu tadi. Kan kamu bilang masuk jam lima subuh?''


Cinta tersenyum lembut pada Rayyan. ''Ya, sudah setiap harinya kayak begitu bang. Makanya sehabis isya, adek langsung tidur. Maaf ya? Adek tidur di kamar Abang?''


''Tak apa. Ayo, nanti kamu kesiangan lagi masuknya?'' jawabnya dengan tersenyum manis pada Cinta.


Cinta terkekeh, ''Iya Abang. Ayo!''

__ADS_1


Kedua nya pun berjalan keluar rumah dimana seorang satpam sudah menunggu mereka berdua.


Cinta masuk ke mobil Pajero sport milik Rayyan dan Rayyan segera masuk ke pintu kemudi. Ia menjalankan mobil itu menuju rumah sakit dimana Cinta bertugas dan juga Papa Rian dirawat.


__ADS_2