
Cinta bergeming. Ia tidak peduli dengan ucapan Pak Kusman yang kini mengiba padanya. Cinta hanya kesal dengan yang ia lihat tadi. Bagaimana tidak, kalau putri Pak Kusman itu menatap memuja pada Rayyan.
Terselip rasa suka yang begitu dalam dari mata itu untuk suaminya. Bukan salah Cinta jika cemburu. Salahkan saja pada takdir. Kenapa Rayyan harus memiliki paras yang sangat tampan setampan papi Gilang? Eh?
Astaghfirullahal'adhim.. Bukan salah takdir jika suamiku begitu tampan. Bukan salahnya juga yang menyukai suamiku! Bukan salah Allah dalam mencetak bang Rayyan. Hishh.. Aku kesal aja sih! Kenapa pula tatapan mata wanita itu begitu memuja dan lekat menatap suamiku? Ingin sekali ku congkel bola mata itu hingga terlepas dari matanya! Huh! Astaghfirullah.. Astghfirullah.. Ya allah...
Batin Cinta mendengkus sekaligus beristighfar karena hati dan pikirannya menyalahkan takdir.
Rayyan dan Pak Kusman terus menatap Cinta yang kini semakin berwajah kesal kepada keduanya. Pak Kusman merasa tidak enak hati saat ini.
Niat hati ingin menyambung tali silaturahmi dengan orang baru, malah ternoda karena ulahnya sendiri. Yang salah paham pada keduanya.
"Emm.. Maaf, Nak. Bukankah tadi kalian bertanya tentang penginapan?" tanya Pak Kusman memecah keheningan kala melihat Cinta yang tak kunjung menyahuti ucapannya dan juga Rayyan.
Rayyan tersenyum, "Iyakah? Kalau memang ada kami akan menyewanya untuk seminggu ini!" jawab Rayyan begitu mantap hingga membuat Cinta menatap Rayyan dengan tajam.
Rayyan tersenyum kikuk pada Pak Kusman yang melihat tatapan Cinta tidak selembut tadi.
"Maafkan bapak, Nak. Bapak tidak akan memaksa jika kalian tidak mau. Rumah itu, rumah adik bapak yang sedang merantau ke Jakarta. Rumah itu sudah lama kosong. Tetapi untuk segala perabotannya lengkap. Selama ia pergi, rumah itu kami yang mengurusnya. Ia menyuruh kami untuk menyewakannya saja pada orang yang mau menyewanya. Jika kalian berminat, mari bapak tunjukkan! Rumahnya tidak jauh dari rumah bapak," Ucapnya yang diangguki oleh Rayyan.
__ADS_1
Sedangkan Cinta?
Ia berdiri diam bagai patung. Tidak berbicara tetapi bernapas. Rayyan merangkul pinggang Cinta dan merapatkan tubuh ramping itu ke tubuhnya.
"Kami akan menyewanya selama seminggu, Pak! Mari kita bicarakan sambil berjalan!" seru Rayyan begitu senang terlihat dimata Cinta.
Pak Kusman mengangguk. Cinta terpaksa menuruti tarikan Rayyan dipinggang rampingnya. Ingin menolak, tapi Rayyan semakin erat memeluk pinggangnya.
Mereka bertiga menuju rumah sewa itu. Rayyan segera menghubungi orang Hotel untuk mengantarkan perlengkapan mereka yang tertinggal disana.
Rayyan terus berbicara hingga menuju ke rumah itu. Disana sudah ada putri Pak Kusman dan juga istri Pak Kusman menyambut mereka.
Ia merasa tidak enak dengan wanita sebayanya itu. Ia ingin berbicara, tetapi lengannya dicekal oleh sang ibu yang kini menggeleng tanpa menatap padanya.
Putri Pak Kusman menunduk. Cinta terkekeh sinis melihat itu. Ia melepaskan tangan Rayyan dan segera berlalu ke arah samping rumah itu yang ada pohon kelapa rendah serta pohon jambu air yang ditanam dalam pot begitu besar sudah.
Pohon jambu air itu begitu lebat daunnya. Angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi membuat Cinta merasakan kenyamanan disana.
Ia mendekati ayunan yang terbuat dari jaring itu dan mendudukinya. Ia menjulurkan kedua kakinya yang masih tertutup dengan kaos kaki di dalam ayunan itu.
__ADS_1
Matanya terpejam seiring angin laut yang terus berhembus mengibarkan hijab biru muda miliknya.
Rayyan tersenyum melihat itu. Selesai berbicara dengan Pak Kusman tentang urusan biaya menyewa dan juga makan mereka, Rayyan segera mendekati Cinta.
Ia duduk di bangku yang tersedia disana sambil mata sipit papi Gilang itu menatap lekat padanya.
"Abang tidak pernah berniat menduakanmu, sayangku. Kamu satu-satunya yang abang mau. Sedari kecil kita sudah bersama. Tidak ada alasan bagiku untuk menduakanmu. Semuanya ada padamu. Kamu istri dan ibu yang baik untuk anak kembar kita dan juga adik si kembar kelak. Walau mereka bukan kedua anakku, tetap saja abang menyayangi mereka. Dan abang bersyukur, kamu tidak pernah menolak kehadiran mereka."
"Walau Dimas ayah kandungnya, tetap saja ia masih kedua anakku. Kamu jangan takut jika abang mendua. Hati ini tidak akan pernah mendua sampai kapanpun. Memang iya banyak gadis yang cantik diluar sana. Tetapi tidak memikatku sama sekali."
"Abang mengikuti jejak papi yang hanya menikah sekali seumur hidup dan cukup mencintai satu orang saja. Mami Alisa. Ibu susuku. Beliaulah yang selama ini mengurusku. Walau abang memiliki mama Vita, tetap saja. Mami Alisa segalanya. Makanya ketika banyak wanita yang mendekatiku, abang menolaknya."
"Kenapa abang menolaknya? Karena mereka tidak sama seperti mami Alisa. Kasih sayangnya begitu tulus padaku yang bukan putra kandungnya. Ia menganggapku sebagai putra kandungnya sendiri. Aku beruntung memilikinya."
"Maka dari itu, kriteria seorang istri Rayyan Putera Bhaskara ialah kamu. Cinta Azlan Dharmawan. Semua sifat dan sikapmu sama seperti mami Alisa. Bukankah seorang putra akan melihat dan mencari seorang istri yang sama seperti ibunya?"
"Kamu memiliki kriteria itu, Sayang. Abang tidak mungkin mencari yang lain. Sementara kamu sudah abang miliki. Percayalah. Cinta dan hati ini hanya milikmu. Selamanya akan seperti itu. Abang sangat mencintaimu, Sayang. Sangat!" suara Rayyan yang terdengar tercekat membuat Cinta tersenyum didalam tidurnya.
...****************...
__ADS_1
Slow update ye 🙏