
Setelah Cinta masuk ke kamar nya, Mami Zahra pun bangkit dan menuju ke kamar cinta. Ia ingin menyampaikan pesan itu kepada Cinta.
Tetapi belum lagi Mami Zahra menaiki tangga, sudah terdengar suara orang berbicara yang baru saja turun dari mobil mereka.
Salah satunya sang suami. Mami Zahra membuka pintu dan terkejut melihat siapa tamunya.
''Assalamu'alaikum sayang? Arfan dan kelurahan datang ingin berbicara dengan kita. Ayo, kita masuk dulu!'' ucapnya Pada Mami Zahra.
Mami Zahra menatap datar pada sang suami. ''Ajak dulu tamunya. Ayo!'' titahnya lagi pada Mami Zahra.
''Assalamu'alaikum.. Nyonya Zahra.'' sapa kedua orang tua dokter Arfan dan dan juga Dokter Arfan.
''Waalaikum salam.. mari masuk!'' sahutnya sedikit ketus.
Ketiga orang itu saling pandang, tetapi tetap melangkah masuk. Papi Rian tersenyum pada ketiga orang itu. ''Sebentar, saya panggilkan Cinta dulu ya?''
''Untuk apa?!'' tanya Mami Zahra datar kepada Papi Rian.
Beliau yang sudah ingin berbalik berhenti kembali. Papi Rian tersenyum lagi. ''Mereka ingin bertanya langsung kepada Cinta. Apakah Cinta menerima lamaran itu atau tidak.''
''Bukankah kamu yang sangat ingin menerima lamaran ini Kak Rian?!''
__ADS_1
Deg!
Deg!
Ke empat orang itu terkejut mendengar ucapan Mami Zahra. Papi Rian yang lebih terkejut lagi. ''Sayang.. dengarkan dulu apa yang ingin aku katakan. Sebenarnya-,''
''Sebenarnya apa?! Sebenarnya kalau kamu menolak Rayyan menjadi menantuku dan menerima Arfan menjadi menantu mu begitu?!''
Deg!
Deg!
''Bu-bukan begitu sayang. Kamu-,''
Deg!
Papi Rian terdiam. ''Ingat Kak Rian! Sebelum aku menikahi mu, Gilang lah yang telah menjadi Ayah untuk Cinta! Sadarkah kamu, dengan perbuatan mu ini membuat putriku menjadi anak durhaka kepada ku dan kepadamu karena kau selalu memaksakan kehendak mu padanya?!''
Deg!
''Rayyan putraku. Sekaligus keponakan ku! Apa salahnya dengan itu? Jangan karena kejadian delapan belas tahun yang lalu, kamu ingin memutuskan hubunganku dengan saudaraku! Bagiku, Alisa dan Gilang itu saudara ku! Jika kamu tidak ingin menganggap nya, tidak masalah. Tetapi jangan halangi kedua anakku untuk bersatu! ingat Kak Rian! Kamu bukan ayah kandung nya!''
__ADS_1
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
Papi Rian dan keempat orang itu tersentak mendengar nya. Mami Zahra menatap datar pada ketiga tamu Papi Rian itu.
''Aku tau, semua ini karena suamiku yang meminta kalian untuk datang kesini dan melamar putraku! Tetapi maaf!'' ucap Mami Zahra dengan tangan terkatup di dada. ''Maaf, jika lamaran kalian saya tolak. Putri saya akan menikah satu bulan lagi dengan orang tepat menjadi suaminya! Hubungan kami sedari dulu sangat baik dengan keluarga nya. Tetapi karena satu orang, seluruh keluarga ku membencinya! Dan kamu Kak Rian, kamu selalu membuatku kecewa! Dulu, kamu menuduh Mbak Alisa dan Gilang yang telah menghasut ku untuk membenci keluargaku sendiri! Aku bisa memaafkan mu. Tetapi aku tidak bisa melupakan perbuatan mu itu.''
''Aku berusaha sabar saat kalian menghina dan memakinya sesuka hati kalian. Tetapi tidak kali ini. Karena aku tau, apa yang terbaik untuk putriku. Cinta. Cinta Azlan Dharmawan. Bukan Cinta Agung Brasmana! Ingat itu Kak Rian! Jangan lupakan statusmu apa dengan putriku! Aku menerima mu karena putriku yang meminta nya. Karena melihatmu sama seperti melihat Papi Gilang nya. Ingat itu Kak Rian!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
Papi Rian membatu di tempat mendengar ucapan Mami Zahra. Begitu pun dengan Ketiga tamunya itu.
Mereka tidak menyangka jika Mami Zahra ternyata tidak menyetujui lamaran itu. Tapi kenapa Papi Rian mengatakan jika Mami Zahra setuju.
Dan semua itu terjawab malam ini. Ternyata.. Papi Rian berbohong kepada mereka semua. Mereka menyetujui permintaan Papi Rian karena desakan dan juga putra mereka memang menyukai Cinta sejak pertama kali melihatnya.
Mami Zahra berlalu meninggalkan Tamunya dan juga sang suami yang begitu membuatnya kecewa. Ia baru tau tadi pagi dari Rayyan.
Walau sekilas, tetapi Mami Zahra paham. Bahwa Papi Rian lah otak dibalik semua itu karena memiliki motif tertentu. Yaitu ia sangat membenci Papi Gilang dan Mami Alisa.
Kejadian delapan belas tahun itu masih melekat di ingatan nya hingga saat ini. Melihat Papi Rian tediam terpaku, ketiga orang itu pun kembali dengan raut wajah kecewa kepadanya.
__ADS_1
Sedangkan Papi Rian jatuh terduduk di sofa ruang tamunya. Ia tidak menyangka jika sang istri belum sepenuhnya memaafkan nya karena kejadian delapan belas tahun yang silam.