
Dua bulan berlalu.
Cinta sudah bangun sedari subuh. Ia sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk sumai dna kedua anak kembar mendiang Zahra dna Dimas calon suami Kezia. Baru seminggu yang lalu mereka kembali dari rumah Kezia dan Dimas. Karena Kezia meminta izin pada rayyan untuk bisa merawat si kembar selama dua minggu bersamanya.
Yang kebetulan saat itu, Dimas baru saja kembali dari Singapura karena bertugas sebagai dokter khusus untuk acara seminar yang dadakan di Singapura.
Cinta kembali masuk ke kamar saat melihat Rayyan yang masih bergelung dengan selimutnya setelah sholat subuh tadi.
Hal yang tidak pernah Rayyan lakukan saat menikah dengan Cinta. Baru dua minggu ini, Cinta melihat hal yang berbeda dari Rayyan.
"Abang," panggil Cinta sembari mengelus pipi halus Rayyan yang sedikit ditumbuhi bulu halus itu.
Entah kenapa, dirinya begitu malas untuk mengurus dirinya sendiri walau hanya bercukur saja. Cinta tersenyum saat emndapato respon tubuh Rayyan yang segera memeluknya setelah menciunm terlebih dahulu putik ranum miliknya.
"Bangun, Suamiku. Tidak ingatkah hari ini kamu ada rapat penting dengan investor asing?" Ucap Cinta lagi.
Masih berusaha menyadarkan Rayyan yang tidak mau bangkit dari dalam selimut hangatnya. Cinta tak mendapati respon lagi dari Rayyan. Pemuda itu semakin terlelap dalam kehangatan yang saat ini ia rasakan.
Cinta yang usil senagaj meembangunkan Rayyan dengan cara yang lain. Cinta sengaja memainkan sesutu yang lembut tapi tak bertulang itu untuk mengganggu tidur lelap snag suami.
"Eugghh .." lenguh Rayyan masih dengan mata terpejam.
Cinta terkeikik geli. Ia sangat suka menganggu suaminya itu dengan cara seperti itu. Karena ia tahu, hanya dengan sedikit sentuhan darinya, milik Rayyan sudah mengacung sempurna dan akan siap tempur itu.
__ADS_1
Cinta semakin gesit mengganggu Rayyan. Sesekali Cinta juga mengecup tipis putik ranum Rayyan yang selalu menjadi candu untuknya itu.
Rayyan yang sudah terpancing akibat ulah Cinta, segera membuka kedua matanya dan mulai mengeksusi Cinta. Sementara Cinta? Ia malah tertawa karena telah berhasil menggoda rayan karena ulahnya.
Pagi hari itu berubah menjadi pagi yang panas untuk pasangan pengantin baru yang masih berusia tiga bulan itu.
Pukul sembilan pagi, keduanya baru keluar dari kamar. Rayyan terus menggerutu pada sekretarisnya yang sudah ribuan kali menghubunginya serta spam chat yang dikirim ke ponselnya itu oleh sekretarisnya.
Cinta terkekeh geli melihat wajah masam rayyan saat ini. Bagaimana tidak. Sesi keduanya harus berhenti saat pembantu rumah mereka mengetuk pintu membangunkan keduanya yang sudah tidak keluar sejak pukul tujuh tadi. Terutama Cinta.
Walau merasa tidak enak, sang bibi tetap berusaha membangunkan mereka berdua. Karena asiten Rayyan sudah datang untuk menyusulnya.
Dan disinilah mereka saat ini.
Cinta yang sibuk dengan buku kecil ditangannya mencatat semua apa yangasisten investor asing itu ucapkan, tidak memperdulikan seseorang yang terus mencuri-curi pandnag menatapnya. Hingga membuat Rayyan semakin kesal dna berwajah masam saja saat ini
Mereka terus sibuk berbicara dengan Rayyan saat salah seorang OG masuk dengan membawa nampan minuman dmn melewati Rayyan tentunya.
Rayyan yang sednag fokus menyimak apa yang investor itu ucapakan, mendadak hidungnya mencium bau yang tidak sedap hingga perutnya mual seketika.
Rayyan menutup mulutnya saat OG itu mendekati dirinya sambil meletakkan pesananaya tadi. Yaitu jus pokad.
"Permisi Bos, ini pesanan Anda tadi," katanya sambil meletakkan jus itu.
__ADS_1
Rayyan yang sudah tidka tahan menahan rasa mula dan bau menyengat dari OGnya itu, segera berdiri dna memasuki kamar mandi diruangan rapat itu.
Brakk.
Semua yang melihatnya terkejut, terutama Cinta. Ia secepat kilat berlari mendekati Rayyan dan melihat Rayyan sudah jatuh terkapar dilantai dengan pelipis berdarah.
"Astaghfirullah, Abang!" seru Cinta begitu keras hingga membuat sang asisten sigap masuk tanpa permisi keruangan kecil itu.
Sang asiten segera membawa rayyan ke klinik perusahaan yang berada di lantai satu. Dibantu investor asing itu, Rayyan seegra dibawa ke bawah.
Tiba disana, Rayyan seegra diobati dan diperiksa. Cinta terus berusajha menyadarkan Rayyan yang masih betah memejamkan kedua matanya dengan raut wajah pucat. Cinta menangis. Investor asing itu terus melihat Cinta dan juga Rayyan.
"Hiks.. Bangun, Abang! Jangan buat aku khawatir! Hiks.. Suami saya kenapa Dokter? Apakah ia mengalami penyakit yang serius? Biasanya dia tidak pernah pingsan. Hanya sering malas bangun pagi dan ingin tidur saja. Tapi ini? Hiks.. Bangun, Sayang!" seru Cinta terisak dengan tangan terus mengusap tangan Rayyan yang kini begitu lemah digenggaman tangannya.
Dokter yang bername tag Indra itu tersenyum. "Anda tidak perlu khawatir Nyonya. Sebaiknya Anda yang harus saya periksa. Ayo berbaring disini!" titah Dokter Indra yang membuat Cinta kebingungan.
"Kenapa aku yang diperiksa? Suamiku loh, yang sakit?" tolak Cinta saat seorang suster menuntunnya untuk berbaring di bangkar tepat di sebelah Rayyan.
Dokter Indra tersenyum lagi. "Berbaring saja dulu, nanti Anda tahu dokter Cinta! Seharusnya Andalah yang lebih tahu darisaya?" pancing dokter Indra yang membuat Cinta kini terdiam terpaku degan mata membulat sempurna saat melihat pada investor asing yang kini mentapanya dengan datar.
"Benar dugaan saya, Anda sudah emngandung saat ini!" ucapnya saat memegang perut Cinta walau masih diabut gamis saja.
"Hah?"
__ADS_1