
Rayyan tersentak kala mengingat seseorang. ''Zahra??''
Cinta yang sedang tertawa pun tiba-tiba terdiam kala mendengar suara seseorang memanggilnya. ''Iya! Ini aku! Kakak lupa dengan ku??''
Deg!
Deg!
Rayyan mematung. Begitupun dengan Cinta. Kedua anak manusia itu sama-sama terpaku di tempat kala hati mereka saking bertaut satu sama lain.
''Zahra??''
''Iya, ini aku!''
Deg!
Deg!
Lagi, Sura hati itu terdengar di hati keduanya. Rayyan memejamkan matanya begitu pun dengan Cinta. Suster Diana heran melihatnya.
''Dokter?? Dokter Cinta??''
''Hah? Eh, iya! Maaf, maaf, Suster! Hehehe..'' Cinta nyengir kuda.
Sedangkan Rayyan tersenyum, ia berlalu pergi dari ruang Cinta dan menuju ruang inap Papa Rian. Tujuannya tadi ingin pamit pada Cinta, tetapi tidak jadi karena mendengar penuturan Cinta yang membuatnya sedikit terkejut.
__ADS_1
Ia berlalu dengan bibir terus tersungging senyum tipis. Pukul sudah menunjukkan waktu dimana untuk semua orang sudah mulai beraktivitas kembali.
Kezia sudah menyiapkan bekal sebelum ia dari rumah tadi. Di rumahnya kini ada Papa Reza dan Mama Rani yang sedang menunggu kepulangan mereka.
''Abang nggak masuk ya Dek?'' ucap Rayyan memecah kesunyian di dalam mobil miliknya yang terasa hening.
''Eh, kenapa?? Abang mau kemana??'' tanah Kezia dan Dimas bersamaan.
Papa Rian tertawa. ''Kompak ye??'' ledek Papa Rian pada kedua orang itu.
Rayyan terkekeh, Dimas dan Kezia pun ikut terkekeh. ''Enggak pa pa sih. Abang hanya swdnagbada urusan sedikit di luar. Nanti aja Abang datang lagi. Ingat Mas! Jangan macam-macam!'' peringat Rayyan pada Dimas.
Diana memutar bola mata malas. Sudah berapa kali Rayyan katakan hal yang sama padanya. ''Iya Abang ku.. adek kamu ini tidak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Kamu dengar kan Key? Bisa di penggal kepala Abang sama Abang ipar kamu ini!'' ucapnya sembari mencebik melihat Rayyan.
Papa Rian tersenyum, Kezia tertawa. Sedangkan Rayyan terkekeh kecil. ''Kan semua itu demi kehidupan baru kamu?? Dan kamu juga Dek! Jangan berbuat macam-macam!'' kini gantian, Kezia pula yang dapat peringatan.
Rayyan melotot. ''Key?????''
Kezia tertawa. ''Nggak akan Abang. Abang tenang aja. Kesalahan masa lalu bang Dimas sudah cukup sampai disana. Kalaupun keluarga ku menolak bang Dimas untuk yang kesekian kalinya, aku memilih kawin lari! Dan menikah di KUA!''
Rayyan melotot lagi. ''Nikah dulu Adek! Baru kawinnya! Mau kamu lari mau kamu jalan itu terserah kamu! Yang penting halalkan dulu! Ingat, jangan membantah apa kata orang tua! Bisa kualat kamu nanti!'' peringat Rayyan lagi.
Kezia tertawa lagi. ''Iya, iya Abang ku yang tampan dan baik hati sejagat Medaaaannn..?? hem? hem?''
Rayyan menghela nafasnya. ''Dasar!'' ucapnya tetapi tersenyum. Papa Rian dan Dimas pun ikut tersenyum.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di kediaman Diana saat ini. Disana sudah menunggu Papa Reza dan Mama Rani yang baru saja pulang dari rumah sakit untuk mengantarkan Kenan berobat karena pukulan telak dari Papa Reza kemarin sebelum berangkat ke Bandung. ( Baca aja di Sandiwara cinta ye? Udah rilis kok tadi pagi. 😁)
Rayyan pun hanya bisa pamit. Karena ia punya urusan lain diluar. Ia langsung menuju kediaman Sang Mami untuk bertemu kedua orang itu.
Cukup dua puluh lima menit saja, Rayyan sudah tiba disana. Ia terkekeh kala mendengar perdebatan sang Papi dan ketiga anaknya yang lain.
Ia melangkah masuk dengan senyum terus mengembang di bibirnya. Entah mengapa Rayyan selalu ingin tertawa jika ia berkunjung kerumah besar milik Papi Riandra ini.
Ya, Rayyan saat ini sedang berada di kediaman Papi Cinta. Riandra Agung Brasmana.
Ia melangkahkan kakinya untuk masuk kerumah itu dengan mengucapkan salam. ''Assalamu'alaikum .. Papi... Mami.. Adek... Abang datang nih!'' serunya pada kelima orang yang sedang sarapan pagi bersama itu.
Papi Rian menoleh, ''Eh, menantuku! Waalaikum salam.. masuk nak. Sini duduk! Papi sama Mami lagi makan! Lihat tuh ketiga adik kamu saling berebut makan rendang jengkol!'' ketus Papi Rian sambil menatap ketiga anaknya itu dengan mata menyipit tajam.
Rayyan tergelak keras hingga kepala itu mendongak keatas. Mami Zahra pun ikut tertawa. ''Kamu ih! Ayo nak? Kenapa nggak sama Cinta? Bukannya tadi pagi dari rumah mu kan ya pergi nya?''
Rayyan terkekeh, ''Tadi pagi iya Mami. Tapi siang ini tidak. Abang ingin datang sendiri kesini. Ini kenapa pada ngumpul dirumah siang-siang begini? Tidak sekolah kah??'' Tanya Rayyan pada ketiga adik Cinta ini sambil menarik kursi untuk duduk disamping Papi Rian.
Salah satu dari mereka menyengat kuda hingga gigi putihnya terlihat. ''Kami cuti satu hari Bang! Kan sekolah ada rapat hari ini? Tapi Papi nggak percaya sama kami!'' ketus si bungsu Diandra. Ia mendelik tak suka pada sang Papi.
Rayyan tertawa lagi. ''Pantas saja riuh! Sedari Abang datang, suara kalian sudah hiruk pikuk kayak pasar ikan!''
''Mana ada! Papi tuh yang buat kami kayak pasar ikan!'' balas Diandra begitu ketus.
Papi Rian mendelik menatap putri bungsu nya. ''Diem kamu! Nanti Papi sunat uang jajan kamu baru tau rasa kamu!''
__ADS_1
''Abang tuh yang Papi sunat! Jangan Adek! Adek kan nggak punya burung kayak Papi dan Abang??'' balasnya hingga membuat Papi Rian melototkan matanya.
Rayyan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Diandra. Inilah yang selalu ia sukai setiap kali berkunjung kerumah ini. Pasti akan ada yang membuat perutnya di kocok untuk tertawa.