
"Lepas ih! Kurang asam kamu, Bang Rayyan!" seru Cinta begitu malu kala melihat para anggota seminarnya itu terkekeh dan terkikik geli saat melihat adegan live dirinya dan Rayyan baru saja.
"Ngapain abang lepas kamu, sih? Yang ada kamu kabur pula nantinya. Abang yang akan diamuk papi sama mami kalau sampai menantunya pulang sendiri ke Jakarta?" Ucap Rayyan yang dibalas cebikan kesal oleh Cinta.
Rayyan tersenyum. Ia senang istrinya cemburu padanya. Itu tandanya Cinta memnag benar-benar cinat padanya.
Rayyan tergelak saat memikirkan pemikirannya itu.
"Cinta karena Cinta??" ucapnya yang ditatap balik oleh Cinta padanya.
"Apaan? Cinta kenapa? Aku maksudnya?" tanya Cinta dengan mulut terus mengunyah makanan karena perutnya begitu lapar saat ini.
Rayyan terkekeh, "Nggak.. Makan aja. Setelah ini, kita jalan-jalan ya? Mau?" Jawab Rayyan sembari menawarkan Cinta untuk jalan-jalan.
Cinta menggeleng. "Malas ah! Capek! Mau tidur!" ketus Cinta yang diangguki oleh Rayyan.
Yes! Keberuntungan sedang berpihak padaku!
__ADS_1
Batin Rayyan kegirangan. Keduanya terus makan dengan Rayyan terus berusaha membawa Cinta untuk akrab kembali padanya.
Yang sayangnya, ditanggapi Cita sekedarnya saja karena masih kesal dengan Rayyan. Katakanlah Cinta sedang cemburu.
Dan ya, dia cemburu. Cinta cemburu melihat kedekatannya dengan wanita lain yang sebenarnya sekretaris barunya dihotel Bhaskara. Cinta tidak menyukai jika Rayyan mengabaikan dirinya saat bersama wanita lain. Seharusnya dirinya saja yang diperhatikan. Bukankah keduanya masih pengantin baru?
Baru seminggu malahan. Wajar saja jika Cinta sedikit kesal mengingat akan hal itu. Ia menjadi tidak mood saat melihat kedekatan Rayyan dengan sekretaris barunya itu.
Selesai makan malam, kini mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Yang mana Cinta dan tante Ema berjalan lebih dulu dan meninggalkan Rayyan bersama Om Andi yang kini berjalan beriringan dengan sekretaris baru mereka dihotel itu.
Om Andi menegur gadis seusia Cinta itu untuk menutup seluruh tubuhnya. Ia harus menggunakan celana panjang longgar dan juga bajunya berlengan panjang tetapi di tutup dengan blazer serta hijab yang menutupi dada nya.
Rayyan masuk kekamar hotel miliknya setelah berbicara dengan Om Andi dan sekretarisnya itu. Rayyan tidak sekejam itu untuk memecat orang. Ia pun tahu jika sang papi tidak sekejam itu. Itu hanya gertakan dari beliau untuk menegur sekretaris barunya yang terbuka itu.
Tiba dikamar hotel, ia segera masuk setelah Cinta membuka pintu kamarnya. Cinta berlalu tanpa melihat dirinya. Rayyan menghela napasnya.
Ia melirik Cinta yang sibuk dengan skincarenya.
__ADS_1
Saat ini istrinya itu hanya menggenakan baju batik rumahan sebatas lengan dan juga sebatas lutut saja. Hingga menunjukan kakinya yang putih mulus membuat darah Rayyan berdesir melihat lekuk tubuh istrinya.
Ia mendekati Cinta yang kini sudah selesai merawat tubuhnya.
"Sayang, maaf.." ucapnya lirih sembari memeluk erat tubuh langsing Cinta.
Cinta melihat wajah Rayyan yang bersembunyi diceruk lehernya dengan mata terpejam.
"Jangan biasakan dirimu seperti itu Bang Rayyan! Aku cemburu? Jelas aku cemburu! Kamu itu suamiku! Suami sah! Bukan suami simpanan!" ketus Cinta masih saja kesal pada Rayyan.
Mendengar kata simpanan, sedikit menggelitik hati Rayyan. Ia menoleh pada cermin dimana wajah Cinta kini merengut kesal padanya.
"Maaf, Sayang. Bukan maksud abang mengabaikan kamu tadi. Abang kaget aja bisa ketemu Indira lagi disini dan menjadi sekretaris abang pula dihotel ini. Dia teman sekolah abang saat di Medan dulu, Sayang. Teman dari SMP hingga kami SMA." Jelas Rayyan yang dijawab helaan napas kasar oleh Cinta.
Cinta masih kesal mengingat kejadian tadi. "Untuk malam ini, jangan ganggu aku! Aku ingin istirahat!" ketus Cinta sembari berlalu meninggalkan Rayyan yang termangu melihat kepergian sang istri yang kini berbaring didalam selimut dan membelakanginya.
Lagi, Rayyan hanya bisa pasrah melihat Cinta yang kini mengabaikannya. Ia berlalu masuk ke kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan sholat isya.
__ADS_1
Setelahnya, ia pun bergabung bersama Cinta yang kini sudah hanyut kedalam mimpi. Ia memeluk Cinta dengan erat. Serta ia labuhkan kecupan berulang kali di kepala Cinta sambil terus mengucapkan kata maaf hingga dirinya pun ikut terpejam mengikuti Cinta yang sudah lebih dulu berlalu ke alam mimpi.