
Kedua paruh baya itu mendatangi kamar Cinta yang saat ini sedang berbaring karena perutnya begitu perih. Ia baru saja minum obat pereda nyeri saat pintu kamarnya di ketuk dari luar dan terdengar suara kedua orang tuanya memanggilnya.
"Nak? Cinta? Sudah tidurkah? Bolehkah Mami masuk??" tanya Mami Zahra di luar pintu kamar Cinta.
Sementra Cinta yang baru saja ingin terbang ke alam mimpi, kini terbangun lagi saat mendengar suara sang Mami yang ingin masuk ke kamarnya.
"Masuklah Mi. Pintunya nggak di kunci kok!" sahut Cinta dengan segera mendudukakan dirinya dan menyampir hijab instannya di kepala ranjan dan segera memakainya.
Ia duduk menyender di kepala ranjang. Kedua paruh bya itu pun masuk dan tersenyum kala melihat Cinta yang saat ini sedang terpejam dengan kepala tersender di kepala ranjang.
__ADS_1
"Ngantuk banget ya? Kalau begitu, besok aja deh Mami kasi tau kamu," ucapnya membuat Cinta yang terpejam kembali membuka kedua matanya.
Cinta tersenyum lirih, "Nggak.. Kakak cuma sedang kedatangan tamu aja sih, agak nyeri. Makanya sedari tadi nggak turun lagi saat tamu kita datang. Maaf ya Mi? Pi? Kakak nggak bisa buat minum untuk tamu kita?" jawabnya merasa bersalah
Mami Zahra tersenyum. "Nggak apa-apa Nak. Tamunya udah pulang kok. Begini Nak, Mami dan Papi sudah menerima lamaran dari seseorang untukmu. Pemuda itu sangat baik dan sangat cocok denagnmu. Kamu pasti senang nanti jika menikah dengannya. Pemuda itu meminta Mami untuk menyiapkan pernikahan mu sebulan dari sekarang!"
Deg!
Deg!
__ADS_1
Dia yang tadinya sedang melamun entah apa terkejut saat mendengar ucapan Mami Zahra. Beliau terkekeh, "Ya, kamu akan menikah sebulan dari sekarang. Dan persiapannya pun sudah di mulai," jelasnya membuat Cinta semakin terkejut.
"Tapi Mi, siapa pemuda itu? Dengan siapa aku akan menikah? Aku tidak mengenalnya loh.. Masa iya kalian berdua mau menikahkanku begitu saja tanpa bertanya dulu padaku??" serunya lagi Masih dengan suara naik stu oktaf.
Papi Rian melotot melihat Cinta, "Pelankan suara mu saat berbicara dengan Mami mu!"
Cinta terkejut lagi, ia menatap Papi Rian yang kini sedang menatapnya dengan tajam, "Maaf Pi.. Mi.. Kakak hanya kaget saja. Kakak nggak mau menikah degan pemuda yang tidak kakak kenal sama sekali. Tolong Pi.. jangan paksa kakak untuk menikah dengan pilihan Papi. Kakak sudah punya calon sendiri. Tidak bisakah kalian berdua memberikan kebebasan untuk ku memilih pasangan hidup ku kelak?" tanya Cinta dengan raut wajah sendu.
Mami Zahra melirik Papi Rian, pria paruh baya itu melengos ke arah lain. Mami Zahra terkekeh, "Tenanglah Nak. Kali ini Mami yang memilihkan mu calon suami. Calon suami yang sama seperti yang kamu inginkan saat kecil dulu. Pemuda ini sangat baik. Kamu tidak akan menyesal jika menikah dengan nya nanti. Mami pun sudah kenal dekat dengan keluarganya. Mami berhutang budi pada mereka, Nak. Sedari kamu kecil kami memang berniat menjodohkan mu dengannya. Dan ya, sekarang lah waktunya. Kamu tidak bisa menolak keinginan Mami. Selama ini Mami tidak pernah meminta apapun padamu. Bisakah kali ini kamu menuruti keingian Mami?? Mami jamin! Kamu tidak akan kecewa dan menyesal bila menikah dengan nya nanti. Kamu boleh membenci Mami kalau pemuda itu tidak sesuai dengan yang kamu mau!" ucap Mami Zahra membuat Cinta tertegun dengan ucapan sang Mami.
__ADS_1