
Tiba di dapur, Cinta langsung mendekati Mami Alisa yang saat ini sedang memasak untuk kedua cucu nya. Belum lagi Papi Gilang, ia sibuk bermain dan menggoda Zarra yang suka sekali merajuk jika dirinya tidak di ikut sertakan bermain oleh saudara laki-laki nya.
''Awas ih adek! Abang masih mau min loh..'' tegur Raka pada Zarra.
Zarra merengut. Bibir itu maju lima centi seperti paruh bebek. Papi Gilang tertawa melihat tingkah cucu bungsunya itu.
''Hahaha... sudah ah. Main disini sama Opa bersama-sama. Ayo!''
''Nggak mau Adek! Abang jahat!'' sungutnya tak suka
Raka terkekeh, ''Biarkan aja adek, Opa! Kita aja yang bermain berdua! Adek kan perempuan??''
''Ngggaaaakk!!!'' pekik Zarra tidak terima
Opa Gilang tertawa. Cinta terkekeh kecil mendengar suara lengkingan Zarra yang seperti ingin menangis. ''Sudah.. jangan menangis. Nanti adek mainnya sama Mami, hem?'' bujuk Cinta pada putri kecilnya.
Zarra yang sudah berkaca-kaca kini tersenyum dan mengangguk. Ia mengejek Raja dengan menjulurkan lidahnya. Opa Gilang tertawa lagi. Mami Alisa pun sama.
''Duduk aja Nak. Biar Mami yang selesaikan ini.''
Cinta mendekati Mami Alisa. ''Sebaiknya.. Mami yang duduk. Biar kakak yang masak, hem? Udah lama kakak nggak pegang dapur. Terakhir saat hamil si kembar!'' celutuk Cinta tanpa sadar membuat kedua paruh baya itu terkejut bukan main.
''Nak?? Ka-kamu su-sudah pernah hamil??'' tanya Mami Alisa dengan tergagap.
Cinta terkejut, ''Ehem.. be-belum pernah Mami! Hehehe.. maksud aku tuh.. dulu aku pernah masak sekali saat masih SMP. Saat kak Zahra hamil dulu, gitu loh maksudnya.. hehehe.. salah ngomong Mi!''
Kedua paruh baya itu saling pandang. ''Hoo... Mami kira kamu sudah pernah hamil tadi. Soalnya Mami dengar sendiri omongan kamu?''
''Ehehehe .. nggak.. bukan gitu Mami! Udah.. usah di pikirin! Biar kakak yang masak ya?'' bujuknya pada dua paruh baya yang saat ini menatapnya dengan aneh.
Dengan cekatan cinta melanjutkan menumis sayur kangkung yang baru saja di petik oleh Mami Alisa. Ia mengulek bumbu yang sudah di sediakan disana.
Setelah selesai, ia memanaskan wajan sebentar sebelum bumbu ia tumis. Tungku sebelah ia nyalakan lagi. Lalu, ia letakkan wajan dan menuangkan minyak untuk menggoreng ayam Kalasan yang sudah di ungkep terlebih dahulu oleh Mami Alisa tadi.
__ADS_1
Sreeeennggg...
Suara tumisan bumbu dan ayam goreng bersamaan masuk ke dalam wajan. Mania lsoa dan Papi Gilang tertegun melihat tanahnya Cinta begitu cekatan dalam memasak bahan makanan yang sudah tersedia.
Sama seperti Zahra dulunya. Kedua paruh baya itu saling pandang. Sementara si kembar sibuk dengan permainan mereka.
Rayyan yang sudah siap bersih-bersih pun keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Baru saja berjalan separuh jalan, harum tumisan bumbu tumis kangkung dan wangi ayam goreng sudah tercium aromanya hingga ke hidung Rayyan.
Rayyan tersenyum. Ia melangkah kan kakinya menuju dapur. Tiba di pintu dapur ia tertegun melihat punggung Cinta sedang sibuk didepan tungku dengan tangan sibuk menggoreng ayam di wajan.
Kedua orang tuanya masih terpaku melihat punggung Cinta yang saat ini sedang memasak. Rayyan melangkah kan kakinya menuju meja makan.
Tiba disana Rayyan lagi dan lagi tertegun. Seingatnya Cinta tidak bisa masak sama sekali. Cinta hanya bisa masak nasi di Cosmos.
Sedangkan untuk menumis sayur dan menggoreng ikan Cinta itu sangat anti. Ia takut dengan minyak panas yang sering bercipratan saat ia memasak.
Rayyan tau itu. Tapi ini? Cinta memasak? Apakah itu mungkin?? Ketiga orang itu saling dibuat tertegun kala Cinta membuat sambal khas yang dulu pernah Zahra buat untuk mereka semua untuk sambal colek ayam goreng kesukaan Rayyan yang saat ini sedang Cinta buat.
Deg!
Praaangg..
Spatula di tangan Cinta terlepas. Wajah itu mendadak datar dan pucat pasi. Rayyan mendekati nya yang saat ini sedang terdiam di depan tungku yang sedang menyala.
''Sayang??''
Deg!
Deg!
Cinta memejamkan kedua matanya. Tangan halusnya bergetar Kala merasakan kehadiran Rayyan di belakangnya.
Cinta berbalik dan tersenyum kaku pada Rayyan. ''Abang butuh sesuatu??'' tanya Cinta tidak melihat Rayyan.
__ADS_1
Tangan putih nan halus masih saja bergetar. Ia tidak berani melihat Rayyan. ''Ya Allah.. selamatkan aku..'' batinnya.
Sedangkan Rayyan semakin mendekat pada Cinta. Ia membalikkan tubuh itu agar menghadap padanya. Cinta menurut namun, tidak ingin menatap mata sipit setajam elang itu.
''Sayang, lihat Abang!'' titah Rayyan dengan suara tegasnya.
Cinta menoleh, bibir itu tertarik namun, sangat kaku. Rayyan tau itu. ''Sejak kapan?''
''Apanya??'' jawab Cinta masih dengan senyum kaku di bibirnya.
''Sejak kapan kamu bisa memasak, setau Abang kamu tidak bisa memasak sama sekali. Kamu hanya bisa masak nasi saja. Ini apa? Sejak kapan, Cinta??''
Cinta tersenyum kaku, ia melepaskan tangan Rayyan yang saat ini berada di kedua bahunya. ''Sejak aku mengenal kamu Bang Rayyan. Aku belajar masak dari Mama dan Mami. Semua ilmu memasak ini dari mereka berdua. Kalau dulu aku tidak bisa memasak, wajarkan? Dulu aku masihlah kecil dan takut dengan minyak panas. Tapi seiring waktu aku tumbuh menjadi gadis dewasa yang di tuntut harus bisa segalanya. Aku di ajarkan mandiri oleh Mami langsung. Aku belajar memasak ini semenjak aku kelas tiga SMP dulu.'' Jelas Cinta tanpa berbalik.
Tangan halus itu terus bergerak lincah membalik ayam di wajan yang saat ini sedang di goreng olehnya.
''Sejak kapan?'' ulang Rayyan lagi. Jawaban Zahra masih belum memuaskan hatinya.
Tuk.
Cinta meletakkan piring yang berisikan ayam goreng di meja makan. Ia berdiri dengan mata lurus ke depan.
''Saat aku mengenal mu bang Rayyan. Aku merubah diriku agar bisa menjadi wanita mandiri seperti yang sering kamu katakan selama ini kepada ku. Jangan jadi manja. Belajarlah memasak agar kelak aku bisa menyenangkan hati dan perutmu! Aku harus bisa menjadi diriku sendiri yang tidak bergantung pada orang lain. Jika ada kamu, aku pasti akan sangat senang. Kamu bisa menyenangkan ku dengan cara memasak untukku! Bukankah kata-kata ini dulu yang pernah kamu katakan padaku??''
Deg!
Deg!
Rayyan tertegun lagi dengan ucapan Cinta. ucapan yang dulunya ia katakan pada Zahra yang saat itu tidak bisa memasak sama sekali pada saat umur Zahra masih sepuluh tahun.
''Dan aku juga bisa menjadi istri yang baik untukmu kelak kalau aku bisa memasak makan enak untukmu. Dan bonusnya adalah.. kamu akan mencintaiku setulus hatimu.. tak kan tergantikan dengan yang lain.. walau banyak wanita yang akan mendekatimu, tapi kamu tetap memilihku. Itu kan dulu yang pernah kamu katakan pada ku bang Rayyan??''
Lagi dan lagi Rayyan tertegun dengan ucapan Cinta. Ucapan yang sama saat dirinya dan Zahra dulu masih kecil hingga ia remaja.
__ADS_1