
Rayyan pulang kerumahnya dengan hati yang tenang. Bibir tipis itu tidak berhenti untuk melengkung kan senyum manis.
Tiba di mobilnya, Rayyan segera mendial nomor sang Papi dan orang suruhan kepercayaan Papi Gilang.
''Ehem, hallo assalamualaikum Pi, Pak Surya!''
''Waalaikum salam nak.. ada apa?''
''Waalaikum salam Tuan muda..'' jawab Pak Surya.
Rayyan berdecak sebal. ''Jangan tuan muda Pak Surya! Rayyan saja!'' ucap Rayyan pada pak Surya sedikit kesal
''Maaf tuan muda! Itu melanggar sumpah saya dengan tuan Gilang! Benar begitu tuan Gilang?'' kata Pak Surya pada Papi Gilang.
Papi Gilang terkekeh. ''Ada apa kamu menghubungi kami seperti ini? Ada yang perlu kah?'' tanya Papi Gilang
Rayyan mengangguk melalui sambungan video call nya. ''Ya, Abang butuh bantuan Papi dan Pak Surya. Dalam hal mencari seseorang!''
''Siapa?'' tanya Papi Gilang memastikan
''Papa kandung Cinta, anak dari Mami Zahra!''
Deg!
Deg!
''Untuk apa? Apakah kamu sudah melamar Cinta pada Bude mu?'' terka Papi Gilang pada Rayyan.
Rayyan tersenyum, ''Sudah. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk membawa Mami dan Papi kesana. Nanti Abang beritahu Papi. Untuk sekarang, Abang butuh izin Papi agar bisa mencari keberadaan Papa Azlan Dharmawan dimana keberadaan nya. Karena wali yang akan menikah Abang dan Cinta nanti adalah Papa Azlan!''
''Hemm.. baiklah. Pak Surya!''
''Saya tuan Gilang!''
''Segera Carikan pria yang bernama Azlan Dharmawan. Dimana pun dia berada temukan dengan cepat. Hidup ataupun mati saya butuh informasi nya segera!''
''Baik, akan segera saya laksanakan! Saya pamit!'' ucap Pak Surya segera undur diri dari sambungan ponselnya.
__ADS_1
Kini tinggallah Rayyan dan Papi Gilang yang saling menatap. ''Apakah Tuan Rian menerima kamu nak?'' tanya Papi Gilang memastikan.
Rayyan menghela nafasnya. ''Terima Pi. Tapi ya itu tadi. Agak sedikit rada gimana.. gitu! Papi kan tau seperti apa Tuan Rian? Papi yang lebih dulu bertemu dengan nya ketika kalian bekerja sama dulu. Abang hanya berusaha memenuhi keinginan Cinta, Pi. Sudah waktunya untuk Abang bisa hidup bahagia. Sudah cukup selama ini. Lagi pun Si kembar sangat menginginkan Cinta menjadi Mami mereka. Apa salahnya kalau Abang memenuhi keinginan nya?''
''Ya, kamu benar! Ya sudah, nanti Papi kabari jika sudah mendapatkan kabar dari Pak Surya. Sebaiknya kamu pulang dulu. Tadi Mami dirumah sendiri. Si kembar ikut Papi ke kantor cabang kita!''
''Oke, Abang pulang. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam ..'' sahut Papi Gilang.
Ia pun segera mendial nama seseorang untuk membicarakan masalah Rayyan dan Cinta ini. ''Ya, hallo. Saya butuh bantuan kamu! Ya, kamu kesini segera! Saya tunggu!'' ucapnya pada seseorang di seberang telepon itu.
Papi Gilang menghela nafasnya. ''Semoga kamu masih disana bang Azlan.. jika kamu sudah pergi, berarti kamu sudah keluar dari sana. Hah. Semoga saja!'' gumamnya sembari melirik dua bocah kecil itu sedang terlelap setelah mereka lelah bermain tadi.
Sedangkan Pak Surya bergerak cepat ketika mengetahui dimana titik keberadaan Papa Azlan berada saat ini.
Butuh waktu dua jam untuk tiba disana. Dengan dibantu oleh salah satu polisi dan juga salah seorang asisten jenderal yang Papi Gilang hubungi tadi, kini mereka bertiga segera menuju ke sana.
Mereka melewati banyak pepohonan tinggi. Tempat itu sangat jauh terjangkau. Jika mobil biasa pastilah tidak akan bisa masuk kesana. Karen jalanan itu dipenuhi dengan bebatuan di setiap sisi dan jalannya.
Mereka berdua saling pandang saat sudah memasuki kawasan hutan luas itu. Ketiganya terkejut saat melihat Papan nama tulisan itu dengan tulisan Hutan terlarang!
Sebelumnya mereka mencari kuncen atau juru kunci hutan itu agar bisa masuk dan keluar dengan selamat.
Mereka berjalan kaki menuju sebuah gubuk yang agak jauh ke dalam. Keringat dingin bercucuran di dahi nya.
Kuncen itu berbicara dengan logat Jawa dan Sunda asli disana. ( Othor kurang bisa bahasa Jawa dan Sunda ye? Lah othor orang Aceh? 🤣)
''Permisi.. penghuni tempat ini saya permisi ingin masuk. Ada seseorang ingin menemui orang itu. Saya mohon jangan ganggu kami. Kami ingin membawanya pulang. Bukankah masa hukumannya sudah selesai?''
Ketiga orang itu saling pandang. Tetapi tidak berbicara. Hanya juru kunci saja yang berbicara.
''Baik, terimakasih. Kami masuk. Mari tuan?'' ucapnya pada Pak Surya.
Pak Surya mengangguk. ''Apakah pemuda ini sudah puluhan tahun disini?''
''Tidak puluhan tahun tuan. Baru memasuki sepuluh tahun. Itu hukuman untuknya karena berani menikahi seorang istri dari pengusaha kaya. Tanpa istri pengusaha itu bercerai dulu. Ia hidup berdua dengan putra nya disana. Kasihan sekali beliau. Tetapi saya tidak bisa berbuat apapun..'' lirih kuncen itu saat dulu pernah melihat keadaan Papa Azlan.
__ADS_1
Pak Surya mengangguk. Mereka pun berusaha sudah melihat gubuk reyot yang berdiri di bawah pohon beringin yang begitu menyeramkan.
Siapapun yang melihat nya pastilah akan ketakutan. Jika tidak sanggup, mereka pasti akan lari.
Semakin dekat semakin terasa hawa dingin dari pohon beringin itu. Seolah-olah mereka bertiga seperti ada yang mengawasi.
Saat mereka ingin mendekati tempat itu lebih dekat, pintu gubuk reyot itu terbuka.
Deg!
''Pak Azlan!''
Deg!
Seseorang yang sedang memegang sebuah karung dengan baju tuanya itu terkejut. Ia seperti mendengar suara manusia. Tetapi itu tidak mungkin.
Ia sudah biasa mendengar suara aneh dari setiap sudut hutan tempat tinggalnya itu. ''Papa! Adek ikut ya?''
Deg!
Pak Surya terkejut saat melihat pemuda kurus ceking itu berdiri disamping Papa Azlan. ''Tidak usah Nak. Kamu di dalam saja. Mulai lagi menghafal ayat-ayat nya. Nanti setelah Papa pulang, Papa akan mengujimu lagi. Dengar?'' tegas Papa AzLan pada putra nya itu.
Pemuda itu menunduk dan mengangguk, ''Baiklah..'' lirihnya pasrah.
Dari kejauhan mereka berempat ini terus saja menatap Papa Azlan dengan prihatin dan terharu.
Prihatin karena hidup di dalam hutan selama puluhan tahun dan juga terharu karena beliau bisa mendidik putra nya dengan baik.
Ke empat orang itu segera mendekati Papa AzLan yang akan pergi ke hutan untuk mencari bekal makanan mereka untuk nanti malam.
Papa AzLan bergegas pergi, tetapi kaki itu berhenti ketika telinganya mendengar suara manusia yang begitu dekat dengannya.
''Tuan AzLan Dharmawan!''
Deg!
Deg!
__ADS_1
Papa Azlan menoleh. Ia membeku di tempat saat melihat kuncen yang dulu pernah mengantarkan nya ke dalam hutan itu bersama pesuruh mantan istrinya.
''Ku-kuncen!!'' serunya begitu terkejut.