
Setelah melaksanakan sholat subuh, kini keduanya sedang duduk di meja makan. Saat ini sudah pukul lima lebih tiga puluh menit.
Cinta dengan mata yang sudah terpejam, terpaksa duduk di meja makan bersama dengan Rayyan yang saat ini sedang menuangkan nasi ke dalam piring makan mereka berdua.
Sepiring berdua. "Makan dulu sayang. Ayo, Abang suapi." Ucapnya pada Cinta yang kini sedang terpejam di kursi makan mereka berdua.
Dengan rambut panjang hitamnnya yang masih tergerai basah, Cinta tetap memaksakan mulutnya terbuka untuk menerima suapan dari Rayyan.
Beruntungnya mereka berdua, Mami Alisa selalu cekatan dan mengingat tentang makan mereka berdua. Sebelum pulang tadi malam, Mami Alisa memberikan satu buah rantang pada Rayyan untuk sarapan pagi mereka berdua.
Inilah yang saat ini mereka lakukan saat ini. Makan pagi dengan tubuh yang lelah dan juga sangat mengantuk, keduanya memaksakan kehendak untuk makan dulu sebelum tidur.
Walau sangat berat keduanya tetap memaksakan makan. Mereka akan tidur setelah sarapan pagi. Selesai sarapan, kini Rayyan meletakakn piring kotor itu di westafel dapur tanpa mencucinya.
Bukan tidak mau mencuci, tetapi mereka saat ini begitu mengantuk saat ini. Dengan berjalan melipir di dinding, Cinta mencoba mencari saklar lampu untuk mematikan seluruh lampu rumah mereka.
Setelahhnya mereka berdua masuk ke kamar dan segera merebahkan diri mereka berdua. Tiba di ranjang langsung saja keduanya terkapar dengan saling berpelukan.
Cinta semakin merapatkan dirinya pada Rayyan saat merasakan deru AC yang begitu dingin hingga menusuk ke tulang.
Rayyan tersenyum, ia pun memeluk tubuh Cinta dengan erat. Mereka terlelap hingga matahari sudah meninggi dan hampir tenggelam lagi.
*
*
*
Cinta tersadaar saat mendengar alunan merdu di seluruh penjuru. "Euumm.. Jam berapa ini??" ucap Cinta dengan suara seraknya.
__ADS_1
Ia mengerjab dan melihat seluruh kamar mereka dalam keadaan gelap gulita. Cinta tersentak saat menyadari jika mereka tertidur hingga seharian.
Secepat kilat Cinta lari ngacir ke kamar mandi setelah ia menyalakan lampu kamarnya yang membuat Raayyan mengerjabkan mata nya.
Ia pun duduk dengan menyenderkan dirinya di kepala ranjang. Ia mengambil ponselnya dan melihat sudah jam berapa saat ini.
Deg!
Matanya membola kala menyadari jika jam sudah menunjukkan waktunya untuk sholat maghrib. "Astaghfirullah! Kami kelewatan dhuhur sama ashar!! Ya Allah Cinta!!" seru nya saat menyadari jika Cinta tidak ada di kamar bersama nya.
Cinta yang baru saja selesai mandipun keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap. "Mandi Bang. Udah Maghrib. Kita sholat dulu," katanya pada Rayyan membuat pemuda yang saat ini sudah menjadi suami Cinta itu tertegun melihat bidadari surga nya yang begitu cantik saat ini.
Rayyan tersenyum. "Tentu, kita berjamaah ya? Tunggu Abang!"
"Tentu!" sahut Cinta dengan segera memberikan handuk baru yang ia ambil dari dalam lemari dan ia berikan pada Rayyan. Tetapi Rayyan mengambil handuk yang tersampir di bahu Cinta.
Selesai mandi, Rayyan dan Cinta melaksanakan sholat maghrib berjamaah dan juga makan malam dengan lauk yang tadi Pagi sudah Cinta panaskan.
Selesai makan, kini keduanya duduk di balkon di temani secangkir susu coklat hangat dan kudapan yang sudah tersedia disana.
Kudapan kecil yang Mami Alisa buat dua hari yang lalu, khusus untuk mereka berdua. Rayyan dan Cinta duduk di kursi di balkon kamar Rayyan yang sudah tersedia disana, dengan Cinta saat ini berada di dalam pelukan hangat Rayyan.
"Sayang?"
"Hum?" sahut Cinta sambil mendongak pada Rayyan
"Kamu belum ngasih tau Abang loh, tentang Duka tadi?" Cinta menoleh pada Rayyan yang saat ini sedang memeluknya.
Mereka duduk di kursi panjang dengan Rayyan memeluk Cinta sambil duduk dengan kaki berselonjor. Sementara Cinta merebahkan kepalanya di dada bidang Rayyan yang tadi malam baru saja menggagahinya.
__ADS_1
Cinta tersenyum mendengar pertanyaan Rayyan tentang Duka. "Hem... Duka?"
"Ya, Duka! Kenapa dengan Duka? Apa maksud dari Duka??" tanya Rayyan lagi semakin penasaran sambil menunduk sedikit untuk melihat Cinta.
Cinta terkekeh kecil. "Nggak tau aja Bang. Adek ingat tentang Abang yang masih perjaka hingga tadi malam saat menyentuhku untuk pertama kalinya. Saat dengan kak Zahra, Abang kan tidak pernah merasakan yang seperti tadi malam? Lantaran dirinya yang ternoda?"
Rayyan mengangguk. "Benar! Abang tidak bisa menyentuhnya lantaran di dalam tubuhnya sudah ada benih dari orang lain. Dan agama kita pun melarang seorang suami yang menikahinya karena tanggung jawab untuk menggaulinya karena dirinya sudah memiliki benih orang lain akibat perbuatannya. Abang bisa menyentuhnya saat ia sudah selesai melahirkan dan masa nifasnyai selesai." Jelas Rayyan membuat Cinta mengangguk setuju.
"Maka dari itu, adek memberi gelar Abang dengan DUKA. Yang artinya, Duda tapi Perjaka! Abang menjadi duda saat kak Zahra meninggalkan Abang. Tetapi masih dalam keadaan perjaka. Abang belum pernah sekalipun menyentuh ku saat aku hamil si kembar. Aku masih ingat saat itu. Jika bibir ini, hanya menyentuh bibirku yang dulu. Dan tadi malam, untuk yang kedua kalinya bibir ini menyentuhku. Tetapi tidak dengan seluruh tubuhku. Kamu mendapatkan diri ku yang baru."
"Kamu Duda tapi Perjaka saat kamu menikahiku. Cinta Azlan Dharmawan. Yang merupakan titisan istrimu yang dulu. Kamu menikahiku dengan status duda tetapi kamu masih perjaka. Inilah yang ku maksud. Duka singkatan dari Duda tapi Perjaka! Abang paham?" kata Cinta pada Rayyan yang kini tersenyum dengan lebar.
"Ya, Abang paham sayangku, cintaku, hidupku, nafasku, bidadari surgaku! Kamu segalanya untuk ku. Abang memilihmu karena kamu bisa menutupi kekurangan yang ada pada diriku."
"Tetapi Abang tidak memiliki kekurangan apapun! Abang sempurna!"
"Tidak sayang, cintaku tidak sempurna jika tidak ada kamu di sisiku. Berjanjilah, kalau kamu tidak akan meninggalkan ku suatu saat nanti jika terjadi sesatu di dalam rumah tangga kita! Berjanjilah sayang!"
Cinta mengangguk dan tersenyum, "Tentu, aku tidak akan meninggalkanmu seperti dulu. Kita akan hidup dan mati bersama. Kita akan membina rumah tangga kita dalam suka dan duka! Bukan Duka singkatan untuk Abang ya?" Rayyan tertawa. "Tetapi duka jika suatu saat datang menghampiri kita! Adek berjanji sama Abang! Hidup dan matiku hanya bersama mu suamiku, Bang Rayyan. Selamanya hanya kamu, tiada lagi yang lain! Adek berjanji!"
Rayyan tersenyum, "Terima kasih sayang! Terimaksih! Cup!" ucap Rayyan semakin mengeratkan pelukan di tubuh Cinta yang saat ini berada di pelukannya.
Sekarang dan seterusnya, mereka berdua akan hidup bersama dalam suka dan duka. Duka ini sekarang sudah mendapatkan tempat terakhir untuk ia berlabuh.
Cinta yang dulunya sudah pergi, kini sudah kembali lagi dalam wujud yang baru untuk menyempurnakan cinta mereka. Dan ya! Cinta mereka telah semapuna dengan menyatunya mereka berdua untuk selama-lamanya. Dan untuk sehidup dan semati akan selalu bersama.
Duka. Duda tapi Perjaka telah selesai. Sang Duka sudah menemukan cintanya yang dulu pergi meninggalkannya kini kembali untuk hidup bersama nya.
The End
__ADS_1