
H-2
Hari ini Cinta baru saja pulang dari rumah sakit karena hari ini mereka merupakan hari terakhir ia koas. Dan pihak rumah sakit pun sudah mengkonfirmasinya.
Ia pulang dengan tubuh lelah dan tidak bertenaga. Tanpa mengucapkan salam ia langsung saja masuk dan melewati semua saudara dari Mami Zahra dan juga Papi Riandara yang baru saja tiba.
Kepalanya begitu pusing saat ini. Cinta bukan hanya pusing tentang koasnya. Tetapi juga pusing karena rencana pernikahan nya dengan pemuda yang ia tidak tau siapa yang akan memperistrinya.
Mami Zahra menggelengkan kepalanya saat melihat tigkah Cinta sama seperti dua minggu yang lalu saat dirinya kedatangan tamu bulanan.
Cinta melewati semua orang dan mulai menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya. Ia langsung saja merebahkan dirinya di ranjang dengan mata terpejam.
Buliran bening itu mengalir deras di pipinya. Ia mengusapnya dengan kasar kala menginagt ucapan Rayyan tadi yang begitu membuatnya bersedih karena pernikahan nya itu dengan orang lain.
Cinta sempat menghubungi Rayyan untuk mengatakan hal itu padanya. Tetapi hal yang tidak Cinta duga, ternyata Rayyan pasrah akan takdir jika mereka berdua tidak berjodoh nantinya.
"Gimana ini Bang Rayyan? Adek udah dilamar orang loh.. Abang nggak ada niatan gitu mau bawak abur adek ke Medan?" tanya Cinta pada Rayyan melalui sambungan video call nya.
Rayyan menghela nafasnya, "Bukan Abang tidak ingin membawa mu kabur ke Medan. Tetapi Abang sudah terikat janji dengan papi Gilang. Kalau Abang harus ikhlas dengan keputusan takdir jika kita nantinya tidak berjodoh, sayang.." jawab Rayyan saat itu pura-pura sedih di hadapan Cinta.
__ADS_1
Padahal saat itu ia ingin sekali tertawa melihat waja kusut Cinta padanya, "hiks.. Adek nggak mau nikah sama pilihan Mami itu! Adek maunya sama Abang! Lebih baik adek kabur saja ke tempat Abang agar nggak dinikahkan sama pemuda yang tidak adek kenal itu!" ketusnya dengan air mata yang sudah beruraian.
Rayyan tertawa jahat dalam hati. Wajah itu pura-pura sedih dihadapannya. "Maaf sayang.. Kalaupun kamu kabur ke tempat Abang, saat ini Abang dan keluarga sedang tidak berada di tempat. Kami sedang ke Padang dan bengkulu. Mami, Papi, dan si kembar ikut Abang, sayang. Maaf... Abang tidak bisa membantu mu kali ini.." lirihnya semakin pura-pura sedih di hadapan Cinta agar rencananya itu berjalan lancar.
Sementara Cinta semakin tidak karuan. Ia tersedu di hadapan ponsel miliknya yang menghubungkan mereka berdua saat itu melalui sambungan video call.
Cinta tidak ada rasa mau lagi. Sekuat tenaga ia menangis di hadapan Rayyan. Rayyan mendengar saja. Karena saat ini sedang berada di kamarnya.
Ia sudah mengambil cuti untuk hari pernikahannya esok lusa. "Dengarkan Abang sayang. kamu tidak boleh kabur dan juga pergi dari rumahmu. Kasihan Mami dan Papi jika sampai kamu kabur. Mereka akan sangat malu nantinya. Pesan Abang, terimalah takdir ini. Jikalau memang kita berjodoh, maka kita akan dipersatukan kembali. Namun, jika tidak berjodoh maka cukuplah sampai disini saja. Kamu jangan takut. Kamu tetap akan menjadi adik sepupu Abang walaupun kamu sudah menikah nantinya. Tidak akan ada yang berubah. Bedanya hanya kamu itu sudah menjadi istri orang. Ingat sayang, jangan kabur! Penuhi keinginan Mami, hem?" Ucap Rayyan pada Cinta yang kini semakin tersedu karena ucapannya.
Rayyan sekuat tenaga menahan mulutnya agar tidak tertawa melihat Cinta yang begitu terpuruk karena rencana ernikahan denhan orang lain. Dan yang Cinta tidak tau, jika pernikahan itu di majukan menjadi esok lusa seperti perkataan Rayyan dua minggu yang lalu.
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Cinta yang tidur terlentang dengan kaki mengangkang.
"Ukir tangannya dulu, baru setelah itu kakinya. Saya akan menemani kalian berdua disini," imbuhnya pada kedua perias henna untuk tangan Cinta itu.
Mereka mengangguk. Dengan segera mereka berdua mulai mengukir tangan Cinta dengan henna asli kiriman dari Mami Alisa untuk menantunya.
Mereka bercakap-cakap sambil mengukir henna itu. Sementra Cinta tidak sadar sama sekali Lelah hati dan pikiran membuat nya terlelap seperti itu.
__ADS_1
Hingga satu jam lamanya barulah Cinta sadar dan ia terkejut saat melihat dua orang gadis muda sebaya dirinya sedang duduk dan berbicara dengan Mami Alisa sambil sesekali tetawa.
Cinta pelan-pelan mencoba untuk bangun. Namun, saat ingin bangun dengan tangan menopang di ranjang. Betapa terkejutnya Cinta saat melihat kedua tangannya sudah terukir henna yang begitu cantik yang sudah lumayan kering.
Ia pun menoleh pada kedua kakinya. Hal yang sama pun ia lihat. Disana pun kakinya terasa berat seperti kebas. Karena ukiran Henna yang lumayan tebal disana.
Pikiran Cinta semakin tidak karuan. Ia melihat sekeliling kamar nya yang kini sudah dirias menjadi kamar pengantin.
Deg!
Deg!
"Mamiiiii!!" serunya begitu shock saat menyadari jika dirinya akan segera menikah tidak seperti perkiraannya dua minggu lagi tetapi besok atau pun lusa.
Memikirkan itu, sontak saja tubuhnya bergetar. Ia shock sampai-sampai Mami Zahra panik melihat keadaannya yang tiba-tiba menjerit dan terjatuh kembali di atas ranjangnya dengan mata terpejam.
Cinta pingsan!
Rayyan yang saat itu sedang berbicara dengan Mami Alisa melalui sambungan ponsel, tergelak keras hingga kepalanya terdongak ke atas.
__ADS_1
Ia yakin, jika Cinta pastilah sangat shock saat ini. Dan rencananya itu berhasil. Tinggal menunggu esok lusa, di hari pernikahan mereka berdua.