
''Nak?'' panggil Mami Zahra pada Rayyan. Karena melihat Rayyan termenung.
''Dengarkan Mami, Nak. Kami belum memberi jawaban pada kedua orang tua pemuda itu. Kami masih ingin menunggumu. Jika memang kamu serius, maka segera bawa kedua orang tuamu untuk menemui kami berdua.'' Imbuh Mami Zahra sembari menoleh pada sang suami.
Papi Riandra tersenyum, ''Benar! Kami memang menunggu jawaban kamu. Karena yang kami tau kalau Cinta tidak akan menerima lamaran lelaki manapun terkecuali kamu!''
Deg!
Lagi, Rayyan tersentak. Jantung nya berdegup tak karuan. Ia tetap menatap datar dan dingin kepada suami istri itu.
''Kamu lelaki kedua yang sudah mendatangi kami untuk membicarakan masalah Cinta. Apakah Papi salah kalau mengatakan hal ini? Papi benar bukan?''
Deg!
Lagi dan lagi ucapan sang Papi begitu tepat sasaran. Rayyan masih terdiam. Ia masih ingin mendengar lanjutan dari sang Papi.
''Kamu datang kesini ingin melamar Cinta untuk menjadi istri kamu bukan?''
Deg!
Papi benar!
''Tapi kamu terlambat nak. Kamu, lelaki kedua setelah lelaki bergelar dokter itu terlebih dahulu melamar Cinta pada kami. Kami sudah lama menunggu hal ini. Berharap kamulah yang pertama. Tetapi sayang....'' lirih Papi Riandra dengan wajah sendunya.
__ADS_1
Mami Zahra terkekeh, ''Papi kamu benar nak. Kamu lelaki kedua yang telah datang kemari untuk meminta Cinta pada kami. Kalau kami boleh tau, itukan ya tujuan kamu datang kesini??''
Rayyan masih menatap Papi Riandra yang sedang berpura-pura saat ini. Setelah cukup lama terdiam, Rayyan akhir nya angkat bicara.
''Ya. Tujuan saya datang kesini memang ingin melamar Cinta pada kedua orang taunya secara langsung sebelum saya datang membawa kedua orang tua saya kesini!''
Deg!
Papi Riandra terkejut. Begitu pun dengan Mami Zahra saat mendengar ucapan Rayyan yang begitu formal pada mereka berdua.
''Daya berniat ingin melamar putri anda tuan Riandra Agung Brasmana dan juga Nyonya Fatimah Zahra Brasmana. Jika kalian berkenan, maka saya akan datang kesini kembali untuk membawa kedua orang tua saya! tetapi jika kalian menolak, saya ikhlas. Berarti Cinta byjdnkdh jodoh saya!''
Deg!
Deg!
Hingga membuat kedua orang itu semakin terkejut. Mami Zahra mengangguk, ''Kita perlu bicara Pi!''
''Ya, ayo! Kami tinggal sebentar!''
''Ya, silahkan!'' sahut Rayyan masih dengan dingin.
Kedua paruh baya beda usia segera masuk ke dapur yang lumayan jauh dari ruang tamu. Mereka berdiskusi disana tentang ucapan Rayyan yang begitu serius tentang Cinta.
__ADS_1
Sedangkan Rayyan mengepalkan tangannya. ''Ternyata.. aku yang kedua heh? Pantas saja Cinta selalu memaksaku untuk melamar nya? Tetapi kenapa?? Kenapa aku aetakut ini? Seakan-akan kalau Cinta memang benar akan menerima lamaran dokter itu! Lalu bagaimana dengan ku? Papi dan Mami juga? Mereka sudah menerima pemuda itu bukan?'''
''Heh? Bodoh kau Rayyan! Bodoh! Selalu saja kau menjadi yang kedua! Dulu pun begitu! Dulu Dimas yang pertama mendapatkan Zahra. Dan sekarang? Pemuda itu yang pertama mendapatkan Cinta?! Cih! Kau selalu yang kedua Rayyan!'''
''Tetapi Abang yang pertama dan terakhir untukku!!'''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
Rayyan tersentak mendengar suara Cinta di dalam pikirannya. Ia membuka matanya dan menoleh sekeliling. Tidak ada siapa pun. Kedua paruh baya itupun tidak terlihat dimana pun.
Hanya ada dirinya sendiri disana. Ia kembali memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kalut saat ini.
''Apa salahnya kalau kamu yang kedua melamarku? Asalkan kamu bukan yang kedua menyentuh tubuhku!''
Deg!
''Dulu iya aku terlebih dahulu di sentuh olehnya. Tetapi tidak kali ini. Aku sudah berjanji padamu. Bahwa aku akan kembali dalam wujud yang baru. Yang masih suci lahir dan batin! Kamu memang yang kedua yang melamarku tetapi bukan berarti kamu yang terakhir memiliki ku! Tetapi kamulah lelaki pertama yang akan memiliki lahir dan batinku yang masih suci dan tidak TERNODA sama sekali seperti kejadian enam tahun yang lalu!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Cintaaaaa!!!!''
Deg!
__ADS_1
Deg!