
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sayang. Kamu segalanya untukku. Kamu 'kan tahu, seperti apa perjuangan ku selama ini? Seperti apa perjuanaganku menentang mama dan papa. Seperti apa perjuanaganku dalam meluluhkan ketiga anak kita. Seperti apa perjuanganku saat menjemput restu kedua orangtuamu. Kamu pasti masih ingat bukan?" lanjut papi Gilang yang diangguki oleh mami Alisa.
Wanita paruh baya yang masih cantik itu mengurai pelukannya. Ia menengadah melihat papi Gialng yang kini menunduk padanya.
"Kamu tahu, Sayang? Pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta untuk yang ketiga kalinya padamu." Ungkapnya jujur pada papi Gilang setelah sekian lamanya.
Seharusnya papi Gilang tertawa senang mendengar pengakuan mami Alisa. Ini tidak. Malah dirinya kebingungan.
Papi Gilang mengernyitkan dahinya. "Tiga kali? Memangnya, kamu mencintai siapa hingga tiga kali kamu jatuh cinta?" tanya papi Gilang pada mami Alisa yang kini tertawa melihat wajah tampan suami berondongnya itu kebingungan.
Ia melepaskan tangan hangat papi Gilang dan menuntunnya menuju kursi meja makan. Keduanya saling berhadapan dengan saling menatap dalam.
Cinta beda usia yang membuat keduanya saling mendukung dan saling melengkapi. Siapa sangka disaat mami Alisa terpuruk akan perceraiannya, ia malah bertemu dengan jodoh masa depannya.
Mami Alisa tersenyum teduh pada suaminya itu. "Yang pertama aku jatuh cinta pada sang pemilik Alam, yang kedua papa Yoga dan yang Ketiga?" Mami Alisa menatap lekat pada manik hitam yang kini tersenyum teduh padanya.
__ADS_1
"Aku maksudnya?" ungkapnya percaya diri.
Mami Alisa mengangguk dan tertawa. "Ya, kamu Gilang. Pemuda kecil yang sudah berhasil memporak poranda hatiku sejak pertama kali bertemu. Wajahmu mirip dengan bang Emil. Bahkan aku kira, kamu bang Emil. Ternyata bukan. Kamu kembarannya. Atau lebih tepatnya, kamu Emil versi masa depannya!" Mami Alisa tergelak melihat wajah masam papi Gilang padanya saat ia membahas mantan suami mami Alisa dulu.
"Jangan cemberut, Sayang.. Kamu suamiku. Suami masa depanku. Untuk saat ini dan selamanya, hanya kamu seorang Gilang Bhaskara. Aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu karena Allah yang telah mengirimmu untuk melengkapi hidupku yang serba kekurangan ini," lirih mami Alisa dengan suara bergetarnya.
Matanya kembali menganak sungai. Papi Gialng segera merengkuh tubuh ringkih itu dan mendekapnya dengan erat. Matanya terpejam merasai kehangatan dan kedamaian saat memeluk tubuh pujaan hatinya itu.
"Dengar, Sayang. Jangan selalu mengira jika aku menginginkanmu karena parasmu. Itu tidak benar! Sekali lagi aku tegaskan! Aku mencintaimu karena Allah lah yang mengirimmu untuk menjadi pelengkap dan penutup kekurangan yang ada pada diriku. Diriku tidaklah sempurna sebelum bertemu denganmu. Kamu pasti masih ingat bukan, seperti apa perjalanan kita dulunya? Aku mati-matian merubah diri ini menjadi lebih baik. Aku berusaha menjadi pendamping dan sosok ayah yang pantas untuk anak-anak kita. Tidak ada keraguan dihatiku saat memilihmu. Tidak pernah sekalipun aku berpikir, jika aku akan melepaskanmu saat kamu sudah tua dna tidka menarik lagi."
"Aku tahu rasanya sakit hati itu seperti apa. Terluka karena orang yang kita cintai. Akan tetapi, kamu harus tahu. Dengan adanya luka itu, maka kamu bisa bertemu dengan cinta yang baru. Cinta yang siap menyembuhkan semua lukamu. Jika diizinkan. Aku lebih memilih mati bersamamu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini. Aku akan ikut bersamamu. Satu liang lahat berdua. Kamu di depan dan aku dibelakangmu. Aku tidak mau berpisah denganmu walau kita sudah tiada," lirih papi Gilang sembari mengeratkan pelukannya ditubuh sang pujaan hati yang kini tersedu di pelukannya.
Sepasang anak muda yang sedang menuruni tangga, tertegun melihat kedua orangtua mereka saling berpelukan dan menangis bersama.
Cinta memegang lengan Rayyan yang dibalas pegang oleh Rayyan.
__ADS_1
"Cinta keduanya begitu murni. Kamu pernah dengar dengan cinta sejati tidak?" tanya Rayyan pada Cinta yang kini mengangguk menjawab ucapannya.
"Cinta sejati merupakan cinta setulus hati yang menerima segala kelebihan dan kekurangan bersama pasangan kita. Hidup bersama dalam suak dan duka. Saling melengkapi satu sama lainnya. Jika sudah tiadapun, akan memilih bersama. Satu liang lahat berdua. Tidak ingin berpisah sampai kapanpun. Inilah yang dinamakan cinta sejati. Mami dan papi sudah membuat pernikahan mereka Sakinah, mawaddah dan warohmah. Ketentraman didalam rumah tangga mereka sudah dapatkan. Mari, kita bersama seperti mereka berdua. Kamu mau kan sehidup semati bersama pria ini?" tanya Rayyan pada Cinta yang kini mengangguk setuju padanya.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Susah senang kita rasakan bersama. Hidup di dunia bersama, maka ketika berpisahpun, bersama. Cinta sampai mati. Bersama menua denganmu," balas Cinta yang di balas pelukan hangat oleh Rayyan serta kecupan sayang di dahi Cinta, istrinya.
...****************...
Ada yang belum tahu tentang kisah mami Alisa dan papi Gilang?
Yuk, mampir di,
PELABUHAN TERAKHIRKU (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Ceritanya udah tamat ye? Jangan hujat jika nggak suka. Itu karya kedua othor setelah AKU BUKAN PEMBAWA SIAL.
__ADS_1
So.. Selamat membaca dan terimakasih buat kalian yang sudah mampir serta setia dengan cerita recehn ini. Akhir bulan, tamat betulan ye? 😁🙏