Duka ( Duda Tapi Perjaka)

Duka ( Duda Tapi Perjaka)
Masih dalam keadaan Berduka


__ADS_3

"Mami, bangun. Kita udah sampai rumah, loh," ucp Rayyan berbisik di telinga mami Alisa.


Ia memeluk Mami alisa sedikit erat. Kepalaya ia sandarakan di lengan mami alisa yang saat ini sednag di pijat oleh snag Kakak. Kak Ira.


"Sabar, Dek. Mak butuh waktu. Kamu istiraat gih. Biar kakak dan kak Annisa yang menemani Mak disini. Kamu belum tidur sejak semalam, Dek." Tutur Kak Ira lembut sambil mengusap kepala adik sesusuan dengannya itu.


Rayyan menggeleng. "Abang tidur disini saja, kak. Boleh nggak abang tidur dipangkuan Kakak?" tanya Rayyan dengan mata yang sudah berkaca-kavca melihat kakak sulungnya itu.


Kak Ira tersenyum dan mengangguk. "Boleh, berbaringlah." Titahnya pada Rayyan yang segera merebahkan tubuhnya dipangkuan Kakak sulungnya itu.


Bang Raga tersenyum melihat adik iparnya itu. Ia tahu jika rayyan masihlah berduak saat ini. Seperti yang ia tahu, bahwa Oma Dewi begitu dekat dengannya. Bahakan sebelum mami Alisa menyususi dirinya, Oma Dewilah yang mengurus Rayyan.


Keadaan keluarga Bhaskara masihlah berduka. Mereka masih mengingat almarhum yang baru saja pergi disaat umurnya sudah senja. Tinggal Opa angga yang masih bertahan. Itu pun tidak tahu kapan.


Karena pada saat ia berhadapan dengan Oma Dewi untuk yang terakhir kalinya, beliau sempat berkata :


"Jika kamu pergi, maka aku akan ikut denganmu. Aku akan meminta sama Allah untuk segera menyusulmu. Apa gunanya aku hidup kalau kamu sudah tidak ada disampingku. Kamu hidupku dan juga matiku. Kita berdua sudha tidak memiliki orangtua. Kerabat banyak. Cucu juga banyak. Aku tidak bisa memungkiri itu. Tetapi inilah diriku yang begitu mencintaimu. Aku pergi kalau kamu juga pergi. Aku tunggu kamu menjemputku, Sayang. Jemput aku saat waktu yang ditentukan tiba untukku. Ya?" katanya kemarin malam saat berbicara yang terakhir kalinya dengan Oma Dewi sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya.

__ADS_1


Keluarga Bhaskara butuh waktu untuk bangkit. Saat ini mereka sedang berduka. Mereka baru saja kehilangan salah satu orang yang sangat mereka sayangi.


*


*


*


Satu minggu berlalu.


Hari ini Rayyan sudh tiba di Jakarta. Dan sednag duduk bersama cinta yang ia tinggal selama seminggu karena pulang ke Medan demi bisa mengikuti acara pemakaman Oma Dewi.


"Capek banget, ya?" tanya Cinta khawatir melihat Rayya yang begitu lesu dna tidak bersemangat.


Saat ini Rayyan sedang memejamkan matanya di sofa ruang tamu rumah mereka. Ada Azka dan Papa Azlan di sana menemani Cinta. Selama Rayyan pergi, mereka berdualah yang mengurus Cinta.


Sedangkan mami Zahra tidak bisa menemani Cinta. Sebab beliau saat ini sedang di Jerman mengikuti papi Riandra yang bertugas disana selama dua minggu ini.

__ADS_1


Besok, mami Zahra dan papi Riandra akan pulang dari Jerman dan langsung ke rumah Rayyan dan Cinta. Makanya Papa Azlan dan Azka yang menemani Cinta sampai Rayyan kembali. Azka baru saja menyusul Rayyan ke bandara atas permintaan Cinta adiknya. Adik sekandung ayah berbeda ibu.


Cinta menunduk melihat Rayyan yang tidak menyahuti ucapannya.


"Maaf, karena aku kamu pulangnya cepat. Maaf,karena kehadiranku mengganggu kamu dna keluarga kamu yang saat ini sednag berduka!"


Deg!


Deg!


Rayyan spontn membuka matanya saat mendengar ucapan Cinta padanya. Ia melihat Cinta yang sudah berlalu ke dapur untuk makan. Rayyan menatap nanar pada punggung Cinta yang sudah berlalu meninggalkannya.


Papa Azlan menghela napasnya. "Nak, istri kamu sednag sedih karena seminggu ini tidka bertemu denganmu. Ia begitu merindukanmu selama seminggu ini. Cinta tidak pernah berhenti menghubungi hanya sekedar untuk menayakan kabar tentangmu. Dia begitu khawatir padamu. Susul dia. Dia butuh kamu saat ini. Ingat, Nak. Cintadnag mengandung. Hormon dalam tubuhnya sering membuatnya menjadi sedih dan tertawabila moodnya itu baik.Pergilah. Jangan buat ia salah paham akan kelakuanmu yangdka mua wab ucapannya." Tutur papa lan memberisehat pada menantunya itu.


Rayyan menunduk sendu..ia merasa bersalah karena sudah membuat Cinta bersedihkarena dirinya. Padahal cinta selalu engkhawatirkannya.


Masih teringat olehnya, kalau Cinta menghubunginya setiap dua jam sekali demi bisa mendnegar suaranya.

__ADS_1


Rayyan mengangguk," Iya, pa. Maafkan atas kelakuanku baru saja. Aku masih berduka," lirih Rayyan segera menyusulinta yang saat ini sednag menyiapakan makan siang untuk mereka semua.


__ADS_2