
HAPPY READING ALL....
***
Suara petikan gitar di padukan dengan tiupan seruling semakin membuat suasana pedesaan begitu terasa, sedari tadi pandangan Leona tidak luput pada anak-anak desa yang tengah bermain layang-layang dan sepak bola tak jauh dari tempat mereka.
Ada rasa tidak biasa saat melihat anak-anak itu bermain dengan canda tawa riang yang terlihat tulus, di seberang sana juga para pemetik daun teh yang tengah tertawa kecil tanpa menghentikan pekerjaannya. Wajah lelah mereka tertutupi senyum tipis dengan keranjang besar mereka pikul di punggung.
"Suasana yang menenangkan" lirih Leona di sertai helaan nafas berat.
Iri rasanya melihat interaksi mereka yang melakukan pekerjaannya sambil bercengkerama hangat yang tidak pernah ia rasakan, 26 tahun Leona hidup tidak pernah ia rasakan kehangatan seperti yang para pemetik daun teh dan anak-anak itu lakukan.
Hidupnya terkesan monoton meski Ayah dan Bundanya tidak pernah menuntut, sebagai hidup Leona di habiskan dengan kertas putih bergambar rancangan gaun-gaunnya. Menghabiskan waktu dengan keheningan lalu di selingi hiburan malam, pesta, hangaout, dan bersenang-senang bersama rekan-rekannya.
Jujur saja ini adalah kali pertama semasa hidupnya Leona menikmati alam bebas yang masih asri meski sudah ada rumah-rumah penduduk di sana. Biasanya ia menghabiskan masa liburnya ke luar negeri, foya-foya atau mungkin kembali bergelut dengan banyaknya rancangan gaun pesanan kliennya.
"Mau ikut bermain bersama mereka?" Tawar Ethan mengalihkan pandangan Leona.
"Setelah kita makan baru ke sana, perut kamu belum terisi dari tadi pagi" sambung Ethan mencium puncak kepala Leona penuh sayang.
"Mbak saya pesan seblak dua porsi, surabi 2 porsi, colenak, pisang bollen dan tahu susu satu porsi. Untuk minumnya jus oren" ucap Ethan menyebutkan pesanannya.
Hening kembali melanda sebelum para bujang pemain seruling dan gitar dengan kaos hitam tipis itu menyerahkan botol kecil tepat di hadapan Ethan dan Leona.
"Ini" ucap Ethan menyerahkan tiga lembar uang seratus ribu.
__ADS_1
"Ini teh kebanyakan atuh aa"
"Gak apa-apa ambil aja, permainan alat musik kalian menghibur banget belajar lagi biar bisa ikut kontes" pesan Ethan memperlihatkan senyum terbaiknya.
"Makasih aa, mangga" ucapnya meninggalkan Ethan dan Leona.
"Mereka ngamen?" Tanya Leona.
"Hem"
"Mereka terlihat seusia kamu" ucap Leona lagi.
"Iya, kamu tau hidup ini tidak selamanya di atas dan tidak selamanya di bawah. Sama seperti mereka mungkin saat ini mereka masih keluar masuk rumah makan hanya untuk sekadar menyanyi belum lagi kadang ada para penikmat musik mereka yang marah-marah, mungkin saat ini mereka masih di sepelekan tapi tidak ada yang tau satu atau dua tahun yang akan datang bisa aja mereka menjadi musisi terkenal" jawab Ethan panjang lebar.
“kamu sering ke sini?” tanya Leona menghentikan tangan Ethan yang sedari tadi memainkan rambutnya.
“gak juga, kenapa?”
“Gak apa-apa”
“kamu tau gak semua laki-laki itu punya mahkota”
“emang kamu punya?”
“punya dong. Mahkotaku akan terpasang lima menit setelah aku melihat ratuku memakainya”
__ADS_1
Seperti biasa pipi tidak terlalu chubi Leona selalu memerah saat Ethan memberikan kata-kata manis untuknya.
“ciee baper, pipinya merah”
Kurang lebih 15 menit menunggu pesanan Ethan dan Leona tiba, seperti rumah makan pada umumnya dan seperti tempat-tempat biasanya pasti ada hal-hal istimewah yang menjadi ciri khas tersendiri, ya sama sepeti Bandung atau lebih di kenal kota kembang.
Seblak menjadi salah satu kuliner yang terkenal di daerah Jawa barat, terbuat dari kerupuk basah, sayur, daging, dan telur. Rasa kuahnya sedap dan pedas yang khas.
"Seblak, yang katanya mood para betina" ucap Ethan menyentil hidung Leona dengan mesra.
"Kamu tau gak bedanya pilot sama kamu?" Tanya Leona
"Apa?"
"Kalau pilot nerbangin pesawat kalau kamu nerbangin hatiku"
"Siapa yang ngajarin kamu gombal" ucap Ethan mencubit pipi Leona dengan gemas.
"Belajar sama kamu, kamu kan The king gombal"
"Makan dulu setelah itu kita main sama mereka"
BERSAMBUNG!!
NEXT OR STOP?
__ADS_1