
HAPPY READING ALL
.
.
.
.
Nafas Ethan mulai terdengar teratur di dalam pelukan Yulia. Dalam keadaan kacau, pikirannya kosong dan tubuh yang letih, sungguh Ethan rasanya ingin menghukum dirinya sendiri.
Apa yang harus ia katakan kepada orang tua Leona? Ia gagal menjaga Leona yang sudah orang tuanya titipkan pada dirinya. Orang tua Leona sudah mempercai dirinya untuk putri mereka tapi, apa yang ia lakukan? ia gagal, gagal menjaga gadis itu.
“papa, Ayah sama Bunda pasti kecewa sama Ethan!” Lirihnya menatap Yulia yang sedari tadi menenangkan dirinya.
“Ethan gagal mah, Ethan gagal” Frustasi Ethan menarik rambutnya kasar.
Ibu mana yang tidak merasa sakit melihat keputus asaan anaknya?
“Kami tidak kecewa sama sekali padamu nak, justru jika kamu datang terlambat lah yang akan membuat kekecewaan itu” sahut James yang baru saja keluar dari ruangan Leona di ikuti Laras dan papahnya.
“Bersihkan dirimu, kamu tau apa yang harus kamu lakukan? Habisi siapa pun yang berani bermain-main dengan kita. Balaskan rasa sakit papa melihat menantu kesayangan papa terbaring di sana!” Geram tuan Vincent dengan nada datar yang terkesan dingin.
“Ethan, tidak usah. Biarkan hukum dan tuhan yang menyelesaikan semua ini” timpa James.
__ADS_1
“James aku tau kamu adalah tipe orang yang selalu berpikir positif. Tapi untuk kali ini biarkan Ethan melakukan hal yang memang seharusnya ia lakukan!”
Tidak ada jawaban dari James, pria paruh baya itu berjalan mendekati Ethan yang masih terduduk dengan posisi bersandar ke dinding.
“Bersihkan dirimu, tidak usah dengarkan apa yang di katakan Ayahmu” ucapnya pada Ethan sambil menepuk pundak Ethan beberapa kali.
“Laras, kau temani lah Yulia membersihkan dirinya juga”
“Sudahlah tidak ada yang perlu di sesali. Leona akan baik-baik saja selama kita mendukungnya. Cepatlah bersihkan dirimu dan obati luka ini, Leona tidak akan suka melihat kamu kacau seperti pria tidak punya tujuan” ulang James memberikan senyum teduh yang menenangkan.
20 Menit berlalu...
Ethan menatap pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi rumah sakit.
“Tendangan di balas tendangan dan darah di balas darah. Maka apa yang di rasakan Leona harus aku balaskan jauh lebih parah. Tidak ada yang boleh melukai wanitaku, ibuku dan seluruh keluargaku!” geram Ethan.
***
Ceklet...
“Kemarilah” ajak James saat Ethan membuka pintu ruang inap Leona.
Ethan mengaguk lalu berjalan mendekati Leona yang masih terbaring dengan bibir pucat. Di elusnya wajah cantik yang terlihat sayu itu pelan-pelan lalu beralih merapikan rambut pirang Leona.
“I love you, Mio Amore” lirih Ethan yang masih dapat di dengar James secara jelas.
__ADS_1
“Aku mencintai sungguh sangat mencintaimu, maaf...maaf lalai dalam melindungi kamu” ucap Ethan lagi, lalu mengecup punggung tangan Leona yang terasa dingin.
"Aku gagal, maafkan aku" Entah sejak kapan air mata tiba-tiba membajiri wajah tampan Ethan hingga mengenai sebagian pipi Leona.
"Mio amore"
"Nak kemarilah" panggil James menepuk sofa di sampingnya.
Setelah Ethan duduk, dan di rasa pemuda yang sudah di anggapnya anak sendiri itu sudah tenang. James mulai membuka pembicaraan.
"Bagaimana perasaan kamu? marah? kecewa? atau campur aduk menjadi satu?"
Tidak ada jawaban dari Ethan...
"Jika marah dan kecewa Ayah jauh lebih merasakan apa yang kamu rasakan. Aku pria yang pertama kali memeluk dirinya, mencium dan mengasihi dirinya. tidak ada perasan seorang ayah akan baik-baik saja melihat anaknya hampir digagahi bahkan disakiti fisik dan hatinya" tutur James memandang kearah Leona yang masih bulum membuka matanya.
"Tapi, Jika ayah tidak bisa mengendalikan diri. semuanya pasti tidak akan terkendali. Jangan dengerkan perkataan papahmu, biarkan kasus ini diselesaikan secara hukum. Kamu pasti sudah menghajarnya bukan?"
"Ta__"
"Tidak ada masalah yang akan berakhir baik jika di selesaikan dengan kekerasan" potong James.
"Ayah, maaf untuk kali ini aku tidak mendengerkan nasihat ayah. Darah harus di balas dengan darah begitu juga dengan sakit yang dirasakan Leona!" Ucap Ethan tegas beranjak meninggalkan ruang inap Leona.
BERSAMBUNG...
__ADS_1