
HAPPY READING ALL....
***
Suara tawa riang sayup sayup terdengar di telinga Ethan dan Leona, ke lima anak-anak itu masih setia bermain air di tengah aliran sungai sedangkan kedua pasutri itu memilih duduk di atas batu besar samping pohon rindang sehingga tidak membuat kulit mereka terpapar sinar matahari secara langsung.
Jam menunjukkan pukul 15. 11 menit terhitung sudah 2 jam Ethan dan Leona meninggalkan Vila
"Rasanya aku tidak ingin pulang ke Jakarta" ucap Leona menyandarkan kepalanya di dada bidang Ethan sedangkan manik mata hazel masih setia mengamati anak-anak yang bermain air dengan riangnya.
Jujur saja Leona ingat ikut bermain air bersama mereka tapi sayang sungguh di sayang sang pawang tidak lekas memberikan izin dengan alasan kaki Leona yang memerah dan mungkin akan membuat kaki mulusnya semakin keram.
"Di sini menenangkan, jauh dari polusi kendaraan beroda yang kita lihat hanya paparan hijau kebun teh, sungai bebas yang tidak tercemar limbah pabrik, anak-anak tanpa gadget dan sikap ramah tama yang mulai hilang di ibu kota" sambungnya membuat senyum kecil terbit di wajah tampan Ethan.
"Kita akan sering ke sini setelah aku menyelesaikan study ku di Spanyol, dengan status baru dan dengan dua orang anak kecil yang menggandeng jari kelingkingku yang nantinya aku di panggil Papi dan kamu mami" ucap Ethan ngelantur entah ke mana yang membuat tawa kencang keluar dari mulut Leona.
"Papa mami?" Beo gadis itu masih dengan tawanya.
"Yes, Mama dan papa panggilan untuk orang tuaku, Ayah dan bunda orang tuamu dan kita mami dan papi bagaimana?"
__ADS_1
Sungguh demi apa pun tawa Leona semakin kencang saja terbukti dari air mata yang keluar dari kelopak matanya.
"Ada yang lucu?"
"Kamu berkhayal terlalu jauh" sentak Leona menghapus air matanya.
"Kamu menyakiti ku secara tidak langsung baby"
Melihat raut wajah pura-pura merajuk ala Ethan, Leona kembali melipat senyum lalu merangkuh tubuh jangkung itu dengan sesekali mencubit lengan kekar Ethan.
"Segitu doang cubitannya? Gak kerasa cuman kek di gigit semut" goda Ethan dengan gerakan menyatukan ibu jari dengan jari kelingkingnya tidak lupa dengan muka songong yang membuat Leona kembali mencubit dengan keras.
Toh asal gadisnya bahagia tidak masalah.
***
"Jadi rumah yang besar itu punya aa?" Tanya Jaka menikmati es lilin yang tadi mereka beli memakai uang Ethan.
"Rumah aa yang paling gede lho di sini" timpal Ijul di angguki mereka secara bersamaan.
__ADS_1
“Asep teh pernah sakali Ke Vila aa, kalau gak salah waktu itu pas ada hajatan besar menyambut hari jadi dusun. Acaranya teh meriah pisan uy, apalagi pas malamnya ada lampu kelap kelip warna pelangi lagi” cerita Asep dengan begitu polosnya yang membuat senyum kecil terbit di wajah Ethan dan Leona.
"Oh iya?" Beo Ethan menyerahkan es lilin yang sudah ia lepas karetnya ke pada Leona.
Es lilin salah satu es khas dari Bandung. Bentuknya mirip seperti lilin pada umumnya dan terbuat dari gula dan santan yang dicampur dengan bahan lainnya yang kemudian dimasukkan dalam plastik panjang dan diikat dengan karet. Rasanya pun beragam, mulai dari es lilin kacang hijau, es lilin pandan, es lilin nangka dan masih banyak lagi.
"Segar ya teh, apa lagi yang rasa pandan"
"Iya segar aku suka" jawab Leona singkat.
"Di Jakarta jarang yang jual" sambung Leona
"Bukan jarang beb, cuman kamunya aja yang gak pernah liat orang yang jual" ralat Ethan
"Aa, teh kita pulang duluan ya. Udah mau Ashar kita mau ngaji ke masjid, Makasih es lilinnya!" Pamit mereka secara bersamaan meninggalkan Ethan dan Leona yang masih setia duduk di atas batu besar itu.
“ayo pulang ke vila, besok pagi-pagi kita coba metik daun teh sekalian mampir ke pabriknya” ajak Ethan sambil berjongkok di hadapan Leona.
BERSAMBUNG
__ADS_1
NEXT OR STOP?