
HAPPY READING ALL
.
.
.
.
Hening....
Ayah dan anak itu menikmati kehangatan yang cukup jarang mereka lakukan dengan keheningan, hanya ada dentingan jam dinding yang menemani mereka.
“Simon” panggil tuan Vincent.
“Istirahatlah di sana, ini sudah larut malam” tunjuknya pada sofa panjang yang terletak di samping pintu.
“Tap__”
“Istirahatlah, malam ini biarkan aku dan putraku yang terjaga. Kamu tenang saja jika ada apa-apa kami akan membangunkanmu” potong tuan Vincent di angguki Simon.
"Simon terima kasih untuk semua hal yang kamu lakukan hari ini" sahut Ethan disertai senyum tipis yang terlihat begitu tulus.
“Terima kasih kembali tuan besar, tuan muda saya izin mengistirahatkan diri sebentar”
**
krek..
Tuan Vincent mengeliatkan badannya dengan menekuk bagian bagian ototnya yang terasa kaku.
__ADS_1
“Sepertinya secangkir kopi hangat cocok menemani kita di malam panjang ini"
Mendengar penuturan papahnya Ethan terkekeh pelan seraya beranjak keluar dari ruang inap Leona untuk meminta salah satu ajudannya membawakan kopi hangat untuk dirinya dan papahnya.
“Jaksi akan segera membawanya kemari” ucap Ethan di balas acungan jempol oleh tuan Vincent.
“Pah”
“Hem, ada apa?”
“sebenarnya pertanyaan ini pernah aku tanya kan sama mama, tapi aku ingin mendengar jawaban dari papah. Laki-laki seperti apa yang membuat wanita berpikir bahwa dia pantas"
"pantas untuk apa?" tanya Tuan Vincent sebelum ia menjawab pertanyaan Ethan.
"Pantas dalam segela hal, dari untuk di jadikan suami, teman dan segalanya"
Di tatapnya mata polos Ethan yang tengah menanti jawabnnya itu dalam-dalam.
“Laki-laki yang bisa dijadikan rumah, tempat untuk pulang, tempat untuk bercerita segala hal. ya intinya lelaki yang selalu ada untuk mereka."
“Lelaki yang bisa menghargai wanitanya” jawab Tuan Vincent seraya menepuk lengan Ethan.
“Sehebat apa pun laki-laki jika tidak bisa menghargai perempuan dia tidak akan pernah terlihat layak di mata wanita mana pun. Tidak akan ada pria di dunia ini jika tidak ada seorang wanita” jelasnya.
“Pah, Aku ingin segera mengikat Leona” lirih Ethan memandang bangkar Leona dengan tatapan sendu.
“Tunggulah sampai dia membaik, toh jika jodoh tidak akan ke mana”
Tok..tok. Tok..
Suara ketukan pintu membuat Tuan Vincent dan Ethan membalikkan kepalanya.
__ADS_1
“selamat malam bro!” heboh Nolan dengan kantong keresek besar di kedua tangannya.
“Jangan berisik dodol!”
“selamat malam om” sapa Daniel sedikit membungkukkan badannya.
“Sebaiknya papah dan Simon pulang saja, toh sudah ada dua pawang kamu”
**
sepeninggal papah Ethan dan Simon, Ethan menatap Nolan dan Daniel yang tengah duduk di hadapannya dengan banyak makanan ringan yang mereka bawa.
"kenapa?" Tanya Daniel tanpa melirik Ethan.
"Dari tadi gue gak liat Kai"
"Dia gak ikut, ada hati yang tengah dia perjuangkan. Lo tau? pas lo ketemu sama Nara di bar XXX Kai juga ada di sana" jawab Daniel di angguki Nolan.
"Tapi gue heran sama Kai, Dari banyaknya cewek cantik kenapa harus Nara yang jadi pelabuhan hatinya? mana dia sukanya udah dari SMA lagi"
"Namanya juga cinta bro, cinta itu kan buta dan tuli" kekeh Daniel seraya menawarkan kacang kulit untuk Ethan.
"Nara..." lirih Ethan membuat Daniel dan Nolan menatapnya penuh tanda tanya.
"kenapa?"
"Kai mencintai orang yang tepat" jawab Ethan
"why???"
tidak ada lagi tanggapan dari Ethan, pemuda tampan dengan lesung pipi itu beralih mendekati bangkar Leona.
__ADS_1
"Nara itu gadis yang baik, hanya saja tertutupi oleh sikap egois dan keras kepalanya" jelas Ethan menatap Leona penuh sayang dan sesekali membelay wajah ayu yang terlihat lesu itu.
BERSAMBUNG...