
HAPPY READING ALL....
**
Mata bulat, kulit terlihat sedikit dekil karena gumpalan tanah bercampur air yang mengering, pelipis yang terlihat berkeringat sebesar biji jagung, dengan rambut yang acak-acakan itu tengah memandang ah bukan lebih tepatnya mengamati penampilan Ethan dan Leona yang terlihat putih bersih.
"Aa sama teteh yakin?" Tanya salah satu dari mereka yang masih setia mengamati keduanya.
Para anak-anak desa itu merasa tidak enak dan tidak yakin saat kedua manusia yang terlihat mempesona itu mau bermain kotor-kotoran bersama mereka di saat matahari tengah teriknya.
"Ini kotor lho aa, panas juga kasian tetehnya, nanti baju mahal aa sama teteh jadi gak bagus lagi. Kulit aa sama teteh jadi gosong" sambungnya sambil menyekat keringat di pelipisnya.
"Kan bisa di cuci kalau kotor, ayo main"
"Aa sama teteh dari Jakarta ya?" Celetuk anak berkaos oblong yang bagian kerahnya terlihat sudah melebar dan sedikit robek di bagian bahunya.
"Iya, kenapa?"
"Wah pantas tetehnya meni geulis pisan uy. Asep teh pingin pisan ke Jakarta mau foto-foto di Monas kek anaknya pak kades" curhatnya yang sontak membuat Leona tertawa kecil.
"Asep mau ke Jakarta? Makanya Asep harus belajar yang lebih giat lagi biar bisa ke Jakarta terus foto-foto di Monas secara gratis" ucap Ethan mengacak rambut Remaja kecil yang di ketahui bernama Asep itu dengan gemas.
"Jadi gak mainnya?"
"Yang kalah harus traktir kita gimana?" Sambung Ethan menaik turunkan alisnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Ethan segerombol anak-anak desa itu langsung menarik tangan Leona dan Ethan menuju lapangan yang masih becek dengan rerumputan liat di tengahnya.
"Teh oper bolanya sama Dimas!" Teriak Asep heboh yang di acungi jempol oleh sang punya nama.
__ADS_1
"Tidak semudah itu neng geulis" sahut Jaka merebut bola yang hendak di operkan Leona.
Sedangkan Ethan pemuda itu tengah membisikkan sesuatu pada Bara, lalu berlari mengejar bola yang di oper ke sana ke mati oleh Jaka.
"Golll! Yeayy gol!" Heboh Tim Leona menjulurkan lidahnya tanda tengah meledek tim Ethan.
Tiga puluh menit berlalu Leona, Ethan dan ketujuh anak remaja itu telah menyelesaikan permainannya dengan skor sri 3-3, peluh membanjiri badan mereka terlebih Leona yang memiliki rambut panjang.
Nafas mereka memburu di bawah pohon besar pinggir lapangan dengan badan yang sengaja mereka rebahkan membentuk lingkaran.
"Aa biar Ijul sama Deden yang beli esnya aa sama teteh mending bersihin diri dulu di sungai"
"Aa sama yang lain cuci tangan dulu nanti kita susul di sana" sambung Deden
"Ini uangnya beli apa yang kalian mau, jangan sungkan. Ayo yang lain berdiri kita bersih-bersih dulu" ajak Ethan setelah menyerahkan tiga lembar uang 50 ribuan ke tangan Ijul.
Melihat gadisnya yang masih rebahan tanpa berniat menyusul langkah kaki Asep yang akan menuntun mereka ke sungai, Ethan bergerak menarik tangan Leona sehingga gadis itu terduduk dengan lesu.
"Gak usah aku bisa jalan sendiri kok, kaki kamu pasti bakal pegal-pegal. Kita mau ke sungai jalannya pasti turunan" tolak Leona merasa tidak enak selalu merepotkan Ethan.
"Gak apa-apa ayo naik, dari pada kaki kamu makin sakit. Aku gak mau ya bidadari surga aku kenapa-napa"
"Tap__"
"Gak ada tapi-tapian ayo naik" ucap Ethan lagi sambil berlutut di hadapan Leona.
**
Sungguh suasana pedesaan adalah tempat yang paling cocok untuk menghilangkan penat, tidak butuh waktu yang lama mereka tiba di aliran sungai yang tidak terlalu jauh dari rumah penduduk.
__ADS_1
Dengan hati-hati Ethan mendudukkan Leona ke salah satu batu, jika kaki Leona di ukurkan akan membuat kaki mulus gadis itu bersentuhan langsung dengan air.
“kalian mandinya jangan jauh-jauh” peringat Leona melihat kelima anak-anak itu berenang dengan sesekali saling sirami dengan riang.
“iya teh siap” sahutnya.
“kaki kamu lecet, sakit gak?” tanya Ethan yang entah sejak kapan tengah membasuh kaki Leona dan sesekali memijatnya.
“ih kamu ngapain? Udah aku bisa sendiri. Sana berdiri ini kaki lho”
“gak apa-apa biar aku bersihin dan biar kamu ngerasain gimana rasanya di jaga seperti berlian lalu di perlakukan seperti ratu”
Bulshing, pipi Leona kembali memerah layaknya kepiting rebus.
“aku udah jadi ratu tapi kamu belum aku perlakukan layaknya raja”
Memdengar kalimat Leona yang terdengar pelan Ethan menggenggam tangan gadis itu lalu mengecupnya cukup lama.
"Aku sudah merasa menjadi raja ketika wanitaku sudah di perlakukan seperti ratu. Karena Kamu adalah Kirana maharani bestari tuan batara"
BERSAMBUNG
NEXT OR STOP?
NB:
Kirana\= Silau
Maharani\= Raja perempuan
__ADS_1
Bestari \= berpendidikan
Tuan batara\= Tuan Raja