Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 10. The Way I Am


__ADS_3

Gea duduk di halte sembari menunggu bus menuju komplek rumahnya. Ia tampak terdiam setelah menerima penghinaan yang begitu hina padanya. Dengan rasa kesal bercampur rasa sakit hati yang ia rasakan, membuat mata indahnya tidak berkedip sedikitpun. Mata indah itu mulai berkaca-kaca.


“Kenapa? Kenapa?” Lirihnya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Sebuah bus berhenti, namun Gea tetap duduk dengan pandangan kosong penuh air mata. Bimo turun dengan tergesa-gesa. Langkahnya terhenti melihat Gea yang sudah seperti janda ditinggal berondong.


“Hoi Gea.” Bimo melangkah pelan ke hadapan Gea. Gea tampak mematung penuh luka.


“Kau menangis karena Timun. Bodoh sekali.”Bimo berusaha membuat Gea berbicara padanya.


“Tidak, aku tidak menangis.” Sahut Gea dengan menghapus air matanya.


“Kau tetap berusaha kuat walau pisau itu sudah memburaikan isi perutmu.” Bimo  duduk di samping Gea.


“Apa maksudmu?” Gea menoleh pada Bimo.


“Jadi benar karena si timun itu.” Potong Bimo sembari  membuka topinya dan memasangkannya pada kepala Gea.


“Aku hanya kecewa. Apakah semua orang menilaiku seperti itu? Apa sebenarnya salahku? Aku tidak pernah menilai mereka.A-aku tidak pernah mengusik hidup mereka.”Teriak Gea dengan air mata dan ingus yang berlimpah ruah.


“Apa kau ingat ketika kita memancing ikan di kolam Pak Sutomo. Awalnya kita berempat hanya mendapatkan ikan kecil, sementara kita menginginkan ikan yang besar. Kita berusaha memancing ikan yang besar itu dengan umpan yang beraneka ragam. Kita bahkan memasukkan benda terlarang ke dalam kolam Pak Sutomo untuk mendapatkan ikan itu. Dan ketika kita mendapatkan ikan besar itu, kita merasa bangga dan merasa paling bahagia di dunia ini.”


“Mari kita makan ikan. Itukan maksudnya, huaaaaaa. Bimo bodoh.” Gea melihat warung ikan bakar di seberang halte dan kembali menangis dengan menjadi-jadi.


“Plak!” Bimo memukul pelan kepala Gea dengan botol air mineral yang ada  di tangannya.


“Apa kau pikir dengan tubuh yang besar ini, semua isi otakku hanya makan dan makan.” Bisik geram Bimo membuat Gea menghentikan tangisannya.


“Lalu apa?” Tanyanya dengan wajah mengiba.


“Bukankah Timun yang mendekatimu bukan si Kris saja. Sudah banyak Timun sebelumnya dengan merek yang bervariasi. Yang harus kau tau, karena kau istimewa banyak timun yang akan melempar umpannya untuk mendapatkan dirimu. Upayanya ya itu tadi, membahas hal-hal kotor mengenai dirimu yang tidak ada benarnya.” Jawab Bimo dengan wajah serius.


“Benarkah? Tapi aku tidak mengerti, huaaaaa.”Gea kembali menagis.


“Sekarang semuanya terserah pada dirimu. Sepertinya, motivasi hidupmu sudah tergores karena timun tadi. Kau cantik, seksi, dan sangat menarik.”


“Bimo, apa itu tadi pengakuan? Apa kau menyukai diriku?” Tanya Gea dengan wajah tercengang.


“Asal kau tau, selama 17 tahun berteman denganmu. Aku tetap merasa kau memiliki  jenis kelamin yang sama sepertiku. Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah memandangmu sebagai wanita.”


“Glek.”Gea menelan pahit ludah di tenggorokannya.


“Lalu kenapa kalian berusaha memberi pelajaran pada Kris.” Gea berusaha mencongkel-congkel.


“Ada sebuah perintah yang sudah menjadi darah daging. Intinya, secantik apapun dirimu. Aku jauh lebih cantik. Kita bersaing. Cih.” Bimo tiba-tiba menjadi lentik, itu membuat Gea tertawa.


“Ahahaha, ayo ulangi lagi.”


“Loe sama gue itu verces.” Ulang Bimo dengan wajah lebih genit menjijikkan, membuat tawa Gea lebih lepas.


“Ahahahaha, ulangi lagi.”


“Makan ikan bakar yook.” Bimo menarik tangan Gea supaya berdiri dan menggandengnya seperti gaya jeng-jeng di Mall.

__ADS_1


“Hakhakhak.”Tawa Gea melihat tingkah Bimo.


“Kita beli es krim juga yak.”


“Cuss.” Sahut Bimo dengan lentiknya.


***


Jam menunjukkan pukul 5 sore. Ervan dan Didi masih belum memperlihatkan batang hidungnya. Sementara Gea dan Bimo sudah 2 jam duduk di ruang kelas les. Segala tugas sekolah sudah selesai Gea kerjakan.


“Apa mereka benar-benar membunuh si timun itu?” Tanya Gea dengan wajah cemas.


“Entahlah, tadi aku melihat mereka sedang membawa Kris, sementara aku menyusulmu.”  Jawab Bimo sembari mengambil ponsel dari dalam tasnya. Gea mulai melirik ke belakang, matanya meletakkan titik fokus pada wajah Brian yang menyeringai padanya.


“Apa yang dilakukan si Gigi di sini?” Bisik Gea dengan wajah heran. “ Bukan urusanku.” Bisik lanjut Gea sembari menghadap ke depan. Tidak lama kemudian, Didi dan Ervan datang dengan wajah yang berbinar-binar. Mereka permisi dan langsung duduk di sbelah Gea.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Ervan pada Gea.


“Hmmm.” Angguk Gea.


“Aku dengar kau menangis seperti janda kematian berondong.” Bisik goda Ervan, membuat Gea melempar keras Bimo dengan mata tajam.


“Khikhikhik.” Tawa Didi mendengar bisikan Ervan.


“Apa kau benar-benar membunuh si Timun itu?” Tanya Gea. Lagi, mereka berempat diusir dari ruang kelas. Tanpa rasa bersalah, mereka langsung mengemasi barang-barang mereka.


“Aku rasa, kita harus ganti kakak les deh. Kakak ini terlalu baper.” Sindir Didi sembari melangkah keluar kelas, membuat kakak itu semakin marah.


“Iya, besok jangan lagi masuk ke kelas saya.” Bentak kakak les itu.


“Itu lebih bagus. Lagian, saya menjamin jika kalian berempat tidak akan lulus di perguruan tinggi manapun jika gaya belajar kalian seperti ini!” Teriak kakak les itu yang sudah lama memendam kekesalan pada mereka berempat.


“Oi kak. Aku juara 3 di kelas.” Sahut Gea dengan mengancungkan jari telunjuknya.


“Aku juara 2.”  Bimo heran.


“Aku juara 1, apa aku juga tidak bisa lulus?” Tanya Didi dengan wajah rancu.


“Dia hanya mengacau, swasta bergengsi hanya butuh uang. Kita akan lulus, tapi tidak dengan tempat les ini.” Jawab Ervan dengan mendorong ketiga teman-temannya keluar.


“Oh iya, brosurnya kau simpan kan?” Tanya licik Didi pada Bimo.


“Mmmm.” Angguk Bimo sembari mengambil brosur les mereka dari dalam tasnya.


“Kau mau kemana?” Tanya Gea pada Didi.


“Tenang saja. Aku akan membalikkan keadaan.” Jawab Didi dengan riang berlari kea rah ruangan petinggi les.


“Apa yang ingin dia lakukan?” Tanya Gea dengan rancu. Ternyata Didi membuat pengaduan jika yang didapatkan olehnya tidak sesuai dengan isi brosur. Ia ingin uangnya kembali. Tapi petinggi les melarang dan berusaha menahan Didi. Didi meminta sebuah permintaan. Dan permintaannya adalah.


“Apa? huaaa.” Teriak Gea dengan semangat.


“Iya, kita akan pindah ke kelas gold dengan pembayaran yang tetap sama. Dengan catatan, kita berempat harus sungguh-sungguh selama 2 jam. Lepas dari itu bebas men.” Jelas Didi dengan antusias. Kelas gold adalah kelas khusus dengan metode pembelajaran yang jauh lebih menarik dibandingkan dengan kelas biasa.

__ADS_1


“Jadi, kapan kelasnya dimulai?” Tanya Bimo dengan lebih antusias.


“Besok jam 4 sore.” Jawab Didi sembari tersenyum geli.


“Ya sudah, sekarang kita mau kemana? Ini masih jam 6.” Bisik Ervan dengan nada licik.


“Ada konser rock di lapangan pancasila. Kita kesana saja.” Ajak Bimo sembari mengarah menuju halte.


“Horee.” Teriak Didi dan Gea secara serempak. Mereka naik bus menuju lapangan Pancasila. Musik diatas bus mulai menggoda mereka untuk ikut bernyanyi.


Lagu:  Charlie


Puth - The Way I Am


Maybe Imma get a little anxious (Mungkin aku kan sedikit cemas)


Maybe Imma get a little shy (Mungkin aku kan sedikit malu)


Cause everybody's trying to be famous (Karena semua orang mencoba menjadi terkenal)


And I'm just trying to find a place to hide (Dan aku hanya berusaha mencari tempat tuk sembunyi)


All i wanna do is just hold somebody, uh (Semua yang kuingin hanyalah berpegang pada seseorang)


But no one ever wants to get to know somebody (Namun tak ada yang ingin mengerti)


I don't even know how to explain this (Aku bahkan tak tahu cara menjelaskan ini)


I don't even think I'm gonna try (Aku bahkan tak terpikirkan aku kan mencobanya)


And that's ok (Dan itu tak mengapa)


I promise myself one day (Aku berjanji pada diriku sendiri suatu hari)


Hey! I'ma tell 'em all (Aku kan ceritakan semuanya)


I'ma tell 'em all that you could either hate me or love me (Aku kan ceritakan semua pada mereka


kalau aku bisa membenci atau mencintai diriku)


But that's just the way i am (Tapi begitulah aku)


I'ma tell 'em all (Aku kan ceritakan semuanya)


I'ma tell 'em all that you could either hate me or love me (Aku kan ceritakan semua pada mereka


kalau aku bisa membenci atau mencintai diriku)


But that's just the way i am (Tapi begitulah aku)


That's just the way I am, that's just the way I am


That's just the way I am, that's just the way I am (Begitulah aku)

__ADS_1


        Mereka bernyanyi hingga sampai ke Lapangan Pancasila.


__ADS_2